Belajar Berhuznuzan Dengan Melihat Kebenaran Dialektik Dan Dogmatik Terhadap Realitas Yang Ada

            Entah apa maksud dari tema di atas yang tiba-tiba saja muncul dalam benak pikiran saya. Saya sendiri juga tidak paham mengapa itu muncul. Kesadaran dalam berfikir mengingatkan saya kepada Edmund Hussel dalam memaknai suatu gejala fenomenologi, termasuk gejala dalam berfikir. Disini saya akan mengajak pembaca untuk melihat, memaknai, merenungkan, dan mendiskusikann yang sebenarnya bagaimana sunnatullah menyatu dalam kehidupan manusia dan alam sekitarnya. 

Populer nya sunnatullah merupakan hukum alam yang sudah pasti ada dan tidak bisa ditentang dengan mendatangkan apapun sehingga hal tersebut berubah dengan adanya perubahan kodrat.
        Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari seperti menyalakan korek api. Api akan menjalankan fungsinya untuk berbagai hal yaitu “membakar”. Kata “membakar” inilah merupakan tugas dan fungsional dari api itu sendiri. Perumpamaan kecil itu mengingatkan kepada kita yang sebenarnya manusia tidak bisa menjalankan tugasnya tanpa adanya dukungan dari hukum alam, tidak akan bisa berinteraksi tanpa adanya komunikasi sekalipun itu dengan bahasa isyarat.

Maka dapat diambil sebuah tesis baru bahwa pada hakikatnya manusia tidaklah memiliki kebenaran yang mutlak selama itu tidak jauh dari sudut pandang realitas nya. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan sesama untuk menjalankan peran aktif dari aktivitas yang ada.
Membahas tentang kebenaran, saya teringat dengan Prof. Siswanto yang mengatakan bahwa kebenaran itu hakikatnya ada dua macam yaitu kebenaran akal dan kebenaran teks. Mudahnya kebenaran akal adalah kebenaran yang di usut dengan menyelidiki, menampung kedalam keranjang pikiran, memilah, dan mengambil sebuah makna baru bahwa apa yang dilihatnya tidaklah sama seperti persepsi manusia pada umumnya.

Akan tetapi lebih mempertimbangkan keranjang pikiran untuk dicari kebenarannya. Sedangkan kebenaran teks merupakan kebenaran dogmatis yang muncul dari sebuah keyakinan-keyakinan yang telah tertanam dalam diri manusia. Point of value nya adalah bukan dari apa yang dimaksud dengan sunnatullah itu sendiri, lebih dalam yaitu mengenai nilai-nilai yang terkandung di dalamnya manusia tidak boleh sombong, merasa benar, lebih unggul, dan semestinya harus pandai dalam memahami sebuah pendapat dan kebenaran yang berasal dari akal (dialektika) dan kebenaran teks (dogma).
Kebenaran Dialektika (Akal)
            Adalah hal kecil seperti sikap huznudzan, namun sering disepelekan. Jika kita menengok dan sejenak masuk kedalam lautan pengalaman maka kita akan mendapatkan kemanfaatan yang barangkali tidak pernah kita duga sebelumnya. Sebelum masuk kedalam konsep huznudzan, izinkan saya meminjam pemikiran David Hume dengan teorinya tentang empirisme.

Sederhananya, empirisme adalah suatu paham bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman. Maka akan muncul sebuah pertanyaan baru. Apa itu pengalaman ? pastinya kita mempunyai pengalaman yang entah itu bermakna baik, buruk, dan lain sebagainya.

Jadi pengalaman itu merupakan sebuah impresi. Impresi merupakan kesan yang melekat pada diri seseorang. Kesan inilah muncul dari jendala kecil untuk melihat realitas yang maha luas. Saya menggambarkan konsep sederhana dalam sebuah pengalaman yang di maksudkan oleh David Hume dibawah ini.

            Terlihat jelas bahwa realitas merupakan yang maha luas dan umumnya manusia hanya melihat sebatas apa yang dipandangnya. Jika kebenaran yang dianggap oleh C adalah kebenaran dogmatis maka itu akan berlaku juga pada kebenaran yang dimiliki oleh A, B, maupun D.

Ibarat suatu kebenaran yang di masksudkan adalah al-Qur’an yang sangat benar secara mutlak. Maka sudut pandang manusia itu adalah sebagai tafsiran mengenai al-Qur’an. Perbedaan perspektif manusia dalam memahami realitas dapat didasarkan melalui lingkungan manusia sekitar yang tidak lepas pula dari produk sejarah.

Untuk itu seharusnya sikap yang diambil oleh A, B, C, dan D tidak lah fanatis yang terlalu sombong terhadap dogma yang dianggapnya paling benar. Karena kebenaran itu hanyalah partikuler kecil yang tidak bisa menembus realitas yang sangat luas. Untuk itu kita tidak boleh mengklaim bahwa kebenaran pribadi merupakan kebenaran yang sangat mutlak. Sebab suatu perpecahan tidak hanya berasal dari sebuah pendapat. Akan tetapi pendapatan.
            Saya mempunyai analogi sederhana untuk memahami realitas. Misalnya, saya mempunyai gula pasir satu karung, untuk membuat sebuah teh manis saya hanya membutuhkan dua sendok gula pasir saja. Pertanyaannya, apakah teh dan gula pasir yang sekarung tadi mempunyai rasa yang berbeda? Tentu kedua nya mempunyai rasa yang sama yaitu rasa manis.

Perbedaannya terletak pada takarannya saja. Gula pasir sekarung tersebut ibarat sebuah realitas yang sangat luas. Sedangkan dua sendok gula pasir merupakan kebenaran kecil dari realitas yang kita ambil di dalamnya. Artinya, pengetahuan yang kita dapatkan adalah sama.

Sama-sama mempunyai kebenaran dan yang membedakan adalah tiap-tiap pengetahuan tadi tidak bisa menembus realitas yang sangat luas dan hanya terbatas sejauh apa yang kita rasakan dan apa yang kita lihat saja.
Untuk itu kita bisa mengambil sebuah pelajaran bahwa dengan adanya perbedaan pendapat seharusnya membuat kita bijak dalam mengambil keputusan yaitu dengan cara-cara yang lumrah jika itu bersifat sebagai perkara yang melibatkan banyak orang. Musyawarah dan menentukan maslahah merupakan suatu metode yang dianjurkan untuk memutuskan suatu permasalahan. 

Kebenaran Dogmatik (Tekstual)
            Tidak banyak yang akan saya bahas tentang kebenaran dogmatik ini. Bicara tentang dogma saya teringat dengan konsep teologi khususnya teologi Islam. Teologi islam disebut juga dengan ilmu kalam. Memakai kata “Islam” agar ruang lingkup pembahasan tidak melebar kemana-mana dan tetap pada dalam prinsip-prinsip Islam. Kita tahu bahwa teologi membahas tentang ketuhanan. Bicara ketuhanan maka tidak lepas dari konsep agama yang ada di dunia.

Khusunya agama yang ada di Indonesia hampir 80% dibawa oleh kebenaran dogmatis yaitu mendoktrin seseorang bahwa agamanya adalah kebenaran yang sudah final
            Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Maka seorang ibu akan mengajarkan kepada anaknya tentang segala hal yang di anggap paling benar termasuk dalam hal ibadah, amaliyah, muamalah, dan lain sebagainya. Munawir Hurni dalam bukunya “Nalar Islam Ke-Indonesia-an” mengatakan bahwa adanya berbagai aliran ormas Islam di Indonesia kebanyakan berasal dari produk sejarah dan tidak muncul secara tiba-tiba. Selama itu tidak bertentangan dengan dasar negara Republik Indonesia, maka sah-sah saja hal itu dianggap ada keberadaannya. Keberadaan berbagai ormas inilah masing-masing mempunyai kebenaran dogmatis yang menurutnya merupakan sesuatu yang paling benar.

Kebenaran ini muncul dilatarbelakangi oleh kondisi masyarakat, sosial, dan budaya. Namun perbedaan ini mempunyai tujuan yang sama yaitu memurnikan Islam sebagai agama yang universal yang dapat di terima oleh semua pihak dalam kondisi apapun dan bagaimanapun sehingga tercipta Islam yang rahmatal lil ‘alamiin
Jika sebelumnya saya mengambil pemikiran David Hume. Saya akan mencoba mengambil nilai-nilai positif dari teori fenomenologi yang di cetuskan oleh Edmund Hussel. Fenomenologi yang dimaksud bukanlah menyelidiki sesuatu yang nampak. Melainkan menyelidiki dibalik apa yang nampak tersebut. Dengan kata lain disebut dengan nomena.

Contoh sederhana yaitu “kita melihat sebuah meja, maka secara sadar kita akan tahu sekilas bentuk meja, namun hanya tampak depannya saja, kita tidak tahu bagaimana tampak belakangnya. Untuk melihat tanpak belakangnya, kita harus merubah posisi sudut pandang agar terlihat nampak belakangnya. Namun jika nampak belakangnya, maka yang depan tidak akan nampak kembali bentuk meja tersebut”. Inilah yang disebut dengan kebenaran murni, kebenaran apa yang kita lihat secara sadar.
Contoh lain yaitu kita melihat seseorang menangis di pinggir jalan. Mungkin kita akan berpersepsi bahwa seseorang yang menangis tersebut sebabnya adalah patah hati, tidak diberi uang saku, dan sebagainya. Padahal belum tentu seperti itu yang menjadi sebabnya. Barangkali seseorang tersebut belum makan dan lain sebagainya.

Dengan gejala ini lah manusia tidak bisa langsung mengklaim bahwa realtita yang dilihat adalah kebenaran melalui kesadaran. Akan tetapi harus di saring terlebih dahulu dan diselidiki pada yang dianggap paling benar. Edmund Hussel menyebutnya sebagai “epoche” yaitu menunda proses kesimpulan untuk memurnikan kebenaran melalui tiga tahapan reduksi (Fenomenologis, Eiditis, dan Transedental).
Berdasarkan kedua pemikiran tokoh filsuf diatas, saya hanya mengambil nilai nilai positif dalam mengambil sebuah sikap. Tidak untuk mengkritik teori yang sudah dicetuskan. Sebenarnya jika kita cermati lebih dalam lagi, David Hume dan Husserl mengajarkan kita untuk berhuznudzan kepada sesama manusia. Huznudzan merupakan sikap utama yang harus ditanamkan agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memaknai suatu perkara yang ada.
Demikian lah pembahasan tentang kebenaran dialektika dan kebenaran dogma yang diimplementasikan dalam sikap huznudzan. Tentu seluruhnya tidak bisa dianggap benar isi tulisan ini. Sebab semuanya murni pemikiran saya dan ini masih harus disempurnakan oleh semua pembaca sehingga dapat menambah wawasan pengetahuan kita mengenai hal yang sederhana dan mungkin juga sangat sepele, namun berdampak besar manfaatnya bagi kita.
Semoga bermanfaat !

Terima kasih... :)

0 Response to "Belajar Berhuznuzan Dengan Melihat Kebenaran Dialektik Dan Dogmatik Terhadap Realitas Yang Ada"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel