Gambaran Perilaku "Thayyiban"

Semakin berumur semakin nampak pula perbedaan fisik, cara berpakaian, cara berpikir dan bahkan sampai pada hal-hal yang memang sering muncul disekitar kita. Namun hal itu berpengaruh sangat besar. 

Tanpa disadari setiap hari debu-debu kecil menempel dan tidak terlihat sama sekali sehingga tidak dapat kita rasakan keberadaannya. Benda-benda yang awalnya bersih dan dibiarkan begitu saja, lama-lama akan berubah warna dan semakin banyak debu yang menempul pada tersebut. 

Mungkin ini adalah gambaran sederhana betapa banyak hal-hal kecil yang tidak pernah kita perhatikan dan tidak pernah kita sadari bahwasanya hal-hal kecil yang tidak segera diselesaikan akan menjadi besar. 

Seperti menunda-nunda waktu yang telah kita rencanakan kemudian pupus diambang kemalasan. Mengambil, memakan, memanfaatkan sesuatu yang tidak halal baik sebab cara nya maupun dasarnya. 

Pernahkah kita berfikir ketika kegelisahan dan kegundahan datang menghampiri, mungkin ini adalah salah satu rekaman alam bawah sadar yang sebelumnya pernah giat dan disiplin melaksanakan agenda-agenda yang sudah diniatkan, diistiqomahkan, dan akhirnya hilang ditelan kekhilafan-kekhilafan yang entah bagaimana itu semua bisa muncul dihadapan kita. Barangkali kita belum banyak belajar dengan apa yang namanya “komitmen” .

Ada sedikit cerita ketika saya dan teman-teman ikut ngaji di suatu majelis “Kajian Tafsir Ayat Ahkam” yang dikaji oleh salah satu guru kami. Sebelum ngaji ini dimulai, sejenak majelis ini mengingatkan kepada saya betapa pentingnya konektivitas dua unsur yang berbeda.

Ada saatnya bekerja ada saatnya beribadah, ada laki-laki ada perempuan, ada semangat ada lelah, dan seterusnya yang kedua unsur tersebut jauh berbeda namun saling berpegangan dan saling berpasangan.

Ini tidak mungkin kita hindari dari kehidupan ini. Duduk hadir nya saya di majelis merasakan aura positif diiringi dengan rintikan hujan seolah-olah hati ini perlu di olah perlu diberikan asuman gizi mengenai siraman-siraman keagamaan.

Ketika guru kami masuk majlis kemudian kami mendengarkan dan menyimak kajian beliau dengan seksama. Satu ayat yang di bahas pada kajian ini yaitu surat al-Baqarah ayat 173 :
إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةَ وَٱلدَّمَ وَلَحۡمَ ٱلۡخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ بِهِۦ لِغَيۡرِ ٱللَّهِۖ فَمَنِ ٱضۡطُرَّ غَيۡرَ بَاغٖ وَلَا عَادٖ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ١٧٣

 Tentu kita semua tahu jika dilihat dari terjemahan ayat tersebut kurang lebih membahas tentang halal dan haramnya sesuatu.

Disampaikan bahwa makna halal dan haram tidaklah sebatas pembahasan halal dan haram saja. Beberapa mufassir menjelaskan bahwa ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang tidak beriman, orang-orang yang musyrik sebagai sindiran untuk melakukan kebaikan dan kebagusan.

Hal ini dapat disimpulkan bahwa halal dan haram tidak sebatas tentang makanan baik caranya maupun aibnya. Tetapi untuk semua perkara yang memang harus dilakukan dengan baik (طيب).
Beliau menyampaikan ada beberapa kategori tentang makna “baik” sebagai berikut :
    • Hasan (حسن) berarti baik yang membutuhkan suatu tindakan. Artinya kata hasan disini membutuhkan suatu proses tertentu sehingga derajat itu akan sampai kepada titik kebaikan. Sebagai contoh : اللهم كما حسنت خلقي فحسن خلوقي  (Ya Allah, Sebagaimana engkau berikan aku rupa yang baik, maka jadikanlah padaku akhlak yang baik). 
    •  Khoir (خير) berarti baik yang ada muqobalahnya atau perbandingannya. Adalah sesuatu yang baik diantara dimensi yang baik. Namun tidak menutup kemungkinan sesuatu yang baik pada dimensi yang tidak baik. Sebagai contoh : خيركم من تعلم القرآن و عمله(Sebaik-baiknya kamu adalah yang mempelajari al-Qur’an dan yang mengamalkannya). 
    • Thayyib (طيب) berarti baik yang didalamnya ada ruhiyah nya. Artinya suatu kebaikan yang menyatu pada manusia. sebagai contoh حلالا طيبا.

      Maka sebenarnya pada ketentuan baik diatas ketiganya sama-sama mempunyai eksistensi pada standar kebaikan masing-masing. Semua mempunyai tolok ukur dimana ukuran tersebut merupakan dimensi kebaikan yang paling tinggi.

      Manusia dengan segala derajatnya itu semua dikatakan baik, namun kebaikan itu tidak dapat kita bandingkan dengan kebaikan derajat orang lain. “Hasan” adalah kata yang bermakna baik yang tidak bisa disamakan penggunaannya dengan kata “Tayyib”.

      Begitupun dengan konsepsi halal dan haram yang tidak dapat dikonotasikan dengan makanan saja. Perilaku kita pun harus benar-benar yang Tayyiban. Thayyib sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

      Satu kata yang sangat inti dari cuplikan ngaji beliau yaitu “Ketika anda ingin meraih sesuatu, usahakan sesuai itu yang thayyib dan halal”.

      Tempatkan lah kebenaran jauh didepan anda sehingga kita tidak akan merasa selalu benar, melainkan selalu mengejar kebenaran itu sehingga setiap langkah-demi langkah kita akan mencapai kebenaran tanpa mengenal titip puncak kebenaran tersebut.

      Begitulah cuplikan pengajian beliau bahwa melakukan kebaikan tidaklah dibatasi oleh waktu. Menempatkan kebaikan pada standarisasi masing-masing lingkungan sekitar. Menunda-nunda waktu untuk menebar kebaikan, tidak memaafkan sesama, serta membiarkan dosa-dosa kecil terus bertumpuk adalah hal yang sangat tidak dianjurkan.

      Untuk itu bertobat tidak hanya ketika seseorang merasa berbuat salah maupun dosa besar. Bertobat merupakan hal yang perlu kita laksanakan setiap hari minimal ketika seusai menjalankan sholat lima waktu. Insya Allah dengan niat dan semangat komitmen serta keistiqomahan kita. Allah akan memudahkan segala urusan dan akan terus membimbing ke jalan yang Lurus.

      Wallahu A’lam..

      Semoga bermanfaat :)

      2 Responses to "Gambaran Perilaku "Thayyiban""

      Iklan Atas Artikel

      Iklan Tengah Artikel 1

      Iklan Tengah Artikel 2

      Iklan Bawah Artikel