TULISAN JALAN

Welcome to ilfan.ID, blognya Santri N'dablek

Makna lupa dalam menghafal Qur’an, Kajian Ta'limul Muta'alim

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang kaitan makna “lupa” dalam menghafal Qur’an yang sudah lama tidak di muraja’ah. Orang jawa menyebutnya pun mboten nderes maleh.

Namun sebelum saya membahas, untuk temen-temen semua yang belum baca artikel saya kemarin tentang KH. HasyimAsy’ari silahkan klik link tersebut.

Topik ini ada dalam pembahasan dalam kitab Ta’limul Muta’allim karangan Syekh al-Zarnuji. Nama lengkap beliau adalah Syekh Tajuddin Nu’man bin Ibrahim bin al-Khalil Zarnuji. Sebuah kajian tentang sungguh-sungguh, kontinuitas dan cita-cita luhur (فصل في الجدّ والمواظبة والهمة)

Menghafal al-Qur’an sendiri merupakan sesuatu yang memang harus dipikir matang-matang dan di pertimbangkan oleh niat awal tujuan menghafal Qur’an. Ada sebuah ungkapan kurang lebih berbunyi begini “Jika kamu siap menghafal al-Qur’an, berarti kamu juga harus siap menjaga seumur hidupmu”. 

Itu artinya, jika sudah mempunyai niat yang mantap berarti siap untuk menghadapi segala macam godaannya. Baik itu rasa malas, menunda-nunda waktu, dan lain sebagainya. Jelas lah bagi mereka yang sudah memulainya akan merasakan hal ini dengan segala kekuatan tetap berpegang teguh menjaga hafalannya.

Lantas apa manfaat menghafal al-Qur’an ?

Sudah pasti banyak sekali manfaat dan faedahnya yang tidak hanya sebagai bekal akhirat namun duniapun sangat banyak. Insya’allah akan saya bahas di artikel selanjutnya.

Baik, ada sebuah pertanyaan begini, 

Saya pengin menghafal al-Qur’an, tapi saya takut kalo sudah menghafal beberapa juz ditengah jalan saya lupa, dan kalau sudah lupa itu artinya saya dosa besar
 
Nah, kira-kira bagaimana menurut temen-temen semua ? apa itu benar ?

Saya akan menjawab dengan hikayah dari guru saya

al-Qur’an itu pedoman, menghafal al-Qur’an itu pilihan, kalo sampean mampu alangkah baiknya itu dilakukan. Jaman dahulu orang-orang rela tidak berpendidikan demi fokus dan lancar di Qur’an nya. Kalo sekarang apa-apa sudah gampang. Banyak sekali lembaga-lembaga pendidikan sekarang yang melabeli dengan program tahfidz. 

Iya tidak lain salah satunya untuk mencetak generasi Qur’ani. Ibaratnya sekarang kalo tidak berlabel itu seperti ada yang kurang. Orang yang hafidz/hafidzah sudah pasti hidupnya barakah. Kita menjaga kalamnya Allah. Maka  Allah pun akan menjaga dan memudahkan urusan kita. Ini hanya sebuah gambaran. 

Bukan berarti yang tidak menghafal terus dibedakan. Tidak, sekali lagi menghafal itu pilihan. Semua manusia dimata Allah itu sama. Yang membedakan adalah kualitasnya bukan bentuk fisik dan jabatannya.

Ada juga yang berpendapat “Jadi dokter pada spesialis tertentu itu luar biasa. Lebih istimewa lagi kalau mereka alumni pesantren. Sains dan agamanya seimbang”. Perbedaan pandangan ya wajarlah hal biasa selama itu tidak menimbulkan kerusakan.

Kita ini selalu ditakut-takuti dengan pernyataan kalo menghafal Qur’an nanti kalo lupa dosa dan seterusnya. Padahal yang dimaksud makna lupa dan dihukumi dosa itu ketika kita sudah tidak mengenal satu huruf dari al-Qur’an

Misal mas-mas atau mbak-mbaknya yang sudah selesai menyelesaikan qur’an baik bil nadri maupun bil hifdzi, tetapi yang jalan hanya juz 1 sampai juz 4 dan juz 28 sampai juz 30 lainnya lupa. Konteks yang seperti ini tidak dihukumi dosa. Hanya dihukumi kelengahan. Solusinya ya di muraja’ah, muraja’ah, dan muraja’ahi lagi terus begitu.

Apa ya yang seperti ini ada ? banyak sekali mas, mungkin lantaran hal itu Allah memberikan kemanfaatan dan keberkahan dengan segala kekuasaan Nya. Kita tidak tahu rahasia dan hidayah mana yang akan Allah Swt berikan.

Semua tergantung niat awal nya bagaimana. Kalau ditengah jalan kok lengah, coba perlahan-lahan kita luruskan lagi. Sejatinya menghafal Qur’an itu bukan untuk cepet-cepetan, bukan untuk mencari derajat keistimewaan.

Diniatkan saja untuk menjaga kalam Allah sampai akhir hayat. Semua butuh proses yang harus dilakukan dengan komitmen dan istiqomah. Insya’Allah Allah yang akan memberikan jalan untuk urusan duniawi dan akhirat. Yakin saja.

Jadi intinya selama makna lupa itu masih seperti kasus diatas itu tidak apa-apa mas. Perkara dosa atau tidak itu urusan Allah Swt. perkara sholat kita diterima atau tidak pun yang berhak menentukan hanya Allah Swt. 

Tugas kita hanyalah banyak-banyak berusaha dan do’a supaya amal perbuatan tidak sia-sia.

Nah, itu sepenggal cerita dari beliau Ibu Azizah yang sampai sekarang masih membina santri-santri nya.

Ya memang benar, ketika tahu semua butuh proses dan tidak ada yang instan. Mie Instan saja yang katanya instan harus di masak dulu. “Semua ada prosesnya”.

Untuk meyakinkan mengenai makna lupa dalam hafalan. Saya sertakan referensi dalil berikut :

Kutipan :

الفتاوى الفقهية الكبرى (1:37)
وقد عُلم ممّا قرّرته أنّ المدار في النّسيانِ إنّما هو على الإزالة عن القوَة الحافظة بحيث صار لا يحفظه عن ظهر قلب كالصّفة الّتي كان يحفظه عليها قبل إلى أن قال وإنما المراد نسيان ينسب فيه إلى تقصير.

Sebagaimana diketahui dari hukum yang telah aku putuskan bahwa lingkup dari pengertian lupa adalah hilangnya kekuatan hafalan sekira nya tidak mengingatnya lagi diluar kepala seperti kualitas hafalan sebelumnya. Adapun yang dinamakan dengan lupa disini adalah yang disebabkan oleh adanya keteledoran

Pastinya semua mempunyai kesimpulan masing-masing. hehe

Wallahu A’lam....

Semoga bermanfaat

3 Responses to "Makna lupa dalam menghafal Qur’an, Kajian Ta'limul Muta'alim"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel