TULISAN JALAN

Welcome to ilfan.ID, blognya Santri N'dablek

Positif-Negatif Rantai Tajam Era Digital


Adalah era digital yang tidak mungkin bisa dihindari mulai dari masyarakat menengah ke bawah hingga menengah ke atas. Hampir semua memanfaatkan berbagai macam teknologi yang diciptakan. Para ahli teknologi selalu berinovasi menciptakan sesuatu yang belum pernah hadir di masyarakat berdasarkan hasil mikro dan makro riset.

Salah satu negara yang selalu berinovasi dalam hal teknologi adalah Jepang. Selain dalam bidang teknologi, Jepang juga merupakan negara paling disiplin dan aman. Dengan luas negara yang tidak terlalu besar Jepang selalu berinovasi untuk memenuhi hak hidup bangsanya melalui berbagai macam olah teknologi yang diciptakannya.

Tujuan diadakannya teknologi sendiri agar proses yang dilakukan oleh manusia menjadi semakin mudah dan gampang. Tidak menutup kemungkinan pada tahun-tahun yang akan datang teknologi semakin canggih dan teknologi yang hadir pada masa sekarang akan pupus dan tidak berguna lagi. Mungkin saja robot Doraemon benar-benar akan hadir pada abad ke- 22 yang menggambarkan betapa mudahnya pekerjaan manusia pada era tersebut.

Pengaruh Era digital pada lembaga pendidikan

Kalian mungkin pernah berfikir, saat ini siapa yang tidak kenal dengan yang namanya Gadget, Smartphone, Laptop, dan lain-lain. Sama seperti saya pasti semua memiliki minimal salah satu dari jenis teknologi tersebut. 

Lembaga pendidikan mana yang tidak memakai teknologi digital. Kurikulum dalam pendidikan pun terus berkembang seiring berkembangnya zaman. Sebagai contoh pada kurikulum KTSP/2006 terdapat mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi. Sebuah materi yang mengajarkan tentang berbagai macam olah data. Mata pelajaran tersebut pernah hadir sewaktu saya masih duduk di bangku SMA kelas X.

Era sekarang kurikulum tersebut sudah tidak berlaku, semua berubah menjadi kurikulum 2013 dan akan terus berkembang. Kurikulum ini lebih mengutamakan guru sebagai fasilitator sehingga guru hanya memantau memberikan feedback kepada peserta didik. Peserta didik di tuntut lebih aktif menguasai kelas agar cara berpikir siswa lebih berkembang dan selalu berinovasi terhadap pembaharuan-pembaharuan yang akan datang.

Fasilitas yang ditawarkan pada lembaga pendidikan pun beragam sejak lahirnya kurikulum 2013 ini. Peserta didik tidak lagi menerima materi tentang Teknologi Informasi dan Komunikasi alias sudah dihapuskan. Karena sudah seharusnya pada era digital ini siswa sudah menguasai berbagai macam olah data yang diperlukan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.

Model pembelajaran yang diterapkan mulai dari tahap absensi hingga materi sudah menggunakan “LCD projector”. Secara tidak sadar seluruh siswa telah melek digital tanpa harus kursus atau belajar secara intens. Karena dalam sistem pembelajaran sudah disisipi oleh berbagai macam teknologi internet.

Fenomena Gadget

Sebuah peranti atau instrumen yang praktis dan simple namun sangat penting dan berfaedah sudah merajalela di kalangan anak muda millineal. Orang tua yang dulunya tidak mengenal tekonologi gadget pun perlahan mulai pandai dalam mengoperasikannya. 

Kenapa sih harus Gadget ?

Ibaratnya gadget adalah separuh nyawa manusia. Tanpa gadget, orang-orang akan merasa bingung dan tidak tau apa yang harus dilakukan. Kok bisa ? Iya tentu saja lihatlah survey berikut :

  • Diakui atau tidak gadget merupakan alat yang sangat menghibur
  •  Bisa membuat orang yang memilikinya menjadi lebih keren dan berwibawa
  •  Menghilangkan rasa bosan dan lebih modern
  •  Membuat pekerjaan apapun menjadi lebih mudah mulai dari sekedar transaksi dan lain-lain
  •  Penangkal rasa kesepian

Banyak dari mereka khususnya anak muda dikalangan para pelajar beranggapan bahwa tanpa adanya sebuah gadget akan susah melakukan sebuah aktivitas dan merasa tidak mempunyai pendirian. Sebenarnya masih banyak hal-hal yang manfaat diluar gadget.

Diakui atau tidak, manusia era sekarang tidak bisa menghindar dari gadget ini. Mungkin solusi utama yang harus dilakukan adalah mengurangi bermain gadget dan digunakan seperlunya saja.

Saya teringat pada masa-masa kecil, semua bentuk hiburan dan permainan sama sekali tidak ada yang bersentuhan dengan gadget apalagi internet. Semua murni hanya memanfaatkan benda-benda di samping atau halaman rumah. Bermain dari pagi hingga sore hari. Pulang ke rumah hanya ketika mau makan dan diperintah untuk menjalankan sholat setelah itu meneruskan main bersama teman-teman sekitar.

Memang benar, masa bahagia itu sudah menjadi masa lalu dan tidak akan kembali lagi. Saya hanya menengok sesekali untuk menciptakan perubahan dimasa sekarang dan keesokannya. Dahulu anak-anak sering sekali pergi ke luar hanya untuk bermain kepada sesamanya. Menciptakan harmoni persaudaraan dan sosialita di masyakat. Namun sekarang sudah sangat langka bahkan punah melihat anak-anak kecil keluar rumah hanya sekedar bermain tempat tetangga. 

Mengapa begitu ?

Hadirnya gadget sudah mejawab semua kebutuhan anak-anak masa sekarang. Delapan dari sepuluh anak lebih memilih dirumah karena sudah terhibur dengan yang namanya gadget. Apapun yang ingin dicari bisa diakses melalui gadget. Hal inilah yang terkadang membuat orang tua bingung mencari sebuah solusi. Kebanyakan dari orang tua memilih anaknya untuk ditempatkan dilembaga pendidikan pesantren untuk mengurangi bemain gadget itu.

Selain bermanfaat untuk hal tersebut. Pesantren mampu merubah karakter anak mulai dari nilai-nilai akhlak hingga asupan pendidikan agama berfasilitas 24 jam. Pilihan ini bukan berarti lembaga pendidikan diluar pesantren tidak baik. Akan tetapi intensifitas inilah yang diperlukan.

Tidak jarang pesantren ini dijadikan sebagai tempat pembuangan anak-anak nakal yang akan di kompres oleh para pendidik disana. Tidak jarang juga lulusan pesantren dianggap sebagai lulusan yang siap mengabdi dimasyarakat. Doktrin yang seperti inilah yag harus diluruskan oleh masyarakat.

Pada dasarnya lembaga pendidikan baik formal maupun non-formal mempunyai keunggulan visi dan misi masing-masing untuk memajukan kualitas anak di era mendatang. Menjadikan peserta didik dan alumninya lebih bermanfaat di masyarakat. So, itu tidak bisa diremehkan karena tiap-tiap lembaga mempunyai pondasi kuat untuk kemajuan pendidikan era millineal.

Dampak Negatif Gadget

Seperti yang sudah saya katakan diatas, bahwa di era ini tidak mengkin tidak bersentuhan langsung dengan teknologi. Kita akan tertinggal jauh jika tidak menguasai teknologi era sekarang. Mungkin bahasa kerennya “Gaptek” alias gagap teknologi.

Tidak hanya bicara tentang teknologi. Apapun itu pasti ada dampak positif dan negatifnya. Dapat positif dari gadget sendiri sudah banyak saya jabarkan diatas. Untuk itu saya akan menjabarkan beberapa dampak negatif menggunakan gadget khususnya dikalangan anak muda.

Menurut hasil penilitian berdasarkan survey yang dilakukan oleh perusahan keamanan Cyber dan Kapersky Lab merilis bahwa mereka akan tertekan apabila tidak menggunakan gadget. Kehilangan foto-foto dan Smartphone dianggap menyedihkan dari pada kehilangan teman-teman, putus cinta, ataupun keluarga.

Saat diadakannya sebuah perkumpulan atau meeting tertentu mereka lebih banyak yang memperhatikan gadgetnya dari pada berkomunikasi dengan cara face to face.

Tentu semua bisa menyimpulkan bahwa itu semua bisa menyebabkan anti sosial. Dimana urat kepeduliannya hilang saat gadget itu lebih menghibur dari pada hal-hal nyata yang sedang berlangsung.

Sebuah Tindakan Dini

Bicara mengenai solusi, saya tidak bisa menjamin apa yang akan saya uraikan ini benar. Tiap orang mempunyai pandangan yang berbeda terlebih mereka yang sudah berkecipung dan berpengalaman dalam menangani ini khususnya kepada generasi muda.

Sebaiknya tidak untuk menekan atau mengekang anak-anak yang bermain gadget. Jika mereka masih dibawah usia, ada baiknya untuk diwaspadai atau diawasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan berbagai macam sosial media. Mengawasi pengaruh adiksi internet baik itu youtube, game online, berita hoax, dan ajakan yang tidak patut diteladani atau dilaksanakan. 

Jika mereka berada pada kelompok remaja-dewasa, mungkin penanganan yang lebih tepat adalah memberikan segudang motivasi dan sering-sering diajak berkumpul dengan kerabat, keluarga, dan sanak saudara. Sudah pasti tidak mungkin anak dewasa diperlakukan seperti anak kecil. Karena 60-80% mereka sudah aktif berpikir dan bisa membedakan perkara yang baik dan buruk. Hanya saja kurang adanya kontrol penggunaan diatas normal atau wajar.

Rantai Digital memang tidak bisa diputus dengan mudah. Sekecil apapun itu pasti aka bersentuhan dengannya. Gunakanlah teknologi sesuai ala kadarnya. Sesuai dengan kebutuhan kita. Bukan untuk eksperimen yang menyalahi kodrat atau tata aturan hukum alam. Karena itu bagian dari akhlak tercela kita terhadap kehadiran teknologi.

Wallahu 'Alam....

Semoga Bermanfaat

2 Responses to "Positif-Negatif Rantai Tajam Era Digital"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel