Tiga kebiasaan sepele bernilai positif yang diamalkan oleh KH. Hasyim Asy’ari


Tiga kebiasaan sepele bernilai positif yang diamalkan oleh KH. Hasyim Asy’ari

Siapa yang tidak tahu dengan tokoh cendekiawan muslim KH. Hasyim Asy’ari. Beliau adalah salah satu maha guru ulama nusantara yang tidak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia baik dipenjuru pelosok desa hingga kota. Tidak hanya terkenal sebagai pendiri organisasi terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama, terlebih beliau merupakan salah satu tokoh sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari Pendiri Organisasi Nahdlatul Ulama
Kali ini saya tidak akan membahas bagaimana perjuangan KH. Hasyim Asy’ari dalam memperjuangkan agama serta peran beliau dalam perjuangan NKRI. Namun saya akan membahas tiga kebiasaan beliau yang kiranya tidak banyak diketahui oleh beberapa masyarakat setempat.

Bicara mengenai ilmu beliau sudah sangat dikenal sebagai sosok yang tidak pernah puas terhadap ilmu. Itu artinya beliau selalu merasa kurang dan terus menerus ingin mengetahui dan mempelajari baik itu dalam ranah keagamaan maupun hal-hal yang bersifat muamalah  dan hal umum lainnya.

Energi “biasa” dan “membiasakan” ini memang sudah sangat terkenal ampuh dalam melakukan banyak hal. Namun terkadang banyak diantara kita yang tidak mengetahui manfaat dan faedah yang terkandung didalamnya. Bukan “tidak mengetahui” lebih tepatnya kurang begitu memahami take action.

Tekun Menulis

Disela-sela peranan beliau mengurusi banyak masyarakat pada masanya, menulis adalah kebiasaan beliau yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Karya-karya yang begitu banyak seolah-olah generasi turun temurun yang disampaikan oleh guru dan murid, hingga seorang murid menjadi guru dan mempunyai banyak murid terus merasakan pengalaman langsung kepada beliau.

Keseharian KH. Hasyim Asy’ari senantiasa menyempatkan diri untuk menulis pemikiran dan pandangan-pandangannya melalui berbagai hal. Mulai dari masalah agama, pendidikan, dan organisasi.

KH. Hasyim Asy’ari sangat aktif dalam mengajar dan berorganisasi. Disela-sela kesibukannya itulah beliau selalu menuliskan apa-apa yang ada pandangannya hingga banyak yang tidak mengetahui berbagai karya-karya telah muncul satu persatu.

Ketika mendapati waktu istirahat sejenak, beliau mulai menulis hingga menjelang waktu dzuhur sambil menunggu santri-santrinya atau menerima tamu ketika kedatangan tamu.

Belajar Bahasa Asing

Bukan tanpa alasan KH. Hasyim Asy’ari belajar bahasa asing. Bahasa asing ditekuninya guna memahami bahasa kolonial belanda. Bukan bahasa Inggris pula yang didalaminya. Akan tetapi bahasa Belanda yang pada masa itu masih sedikit sekali masyarakat yang memahami bahasa Belanda.

Hal ini pun dilakukannya disela-sela mengurus NU, berdakwah, dan menghadapi masa-masa situasi penjajahan kala itu.

KH. Hasyim Asy’ari belajar bahasa Belanda kepada Kyai Ilyas. Kyai Ilyas adalah keponakan KH. Hasyim Asy’ari yang berhasil menamatkan pendidikannya di HIS Surabaya. Dengan tekun KH. Hasyim Asy’ari menghafalkan kosa kata bahasa Belanda setiap hari sampai enam bulan lamanya. 

Kosa kata yang sudah dihafalkan selalu dipraktikkan oleh Kyai Ilyas dan sesekali diterapkan langsung pada kolonial Belanda yang mencoba mengusik ketenangan masyarakat. Tidak terlalu baik dalam hal pelafalan. Kebiasaan dan ketekunan itulah yang membuat beliau bergerak aktif mempelajari bahasa asing.

Konon dahulu terdapat sarjana belanda yang menulis sebuah buku dan mencoba menyudutkan Islam dipesantren. Tulisan ini diberikan langsung oleh KH. Hasyim Asy’ari. Beliau tidak faham dengan teks yang terdapat pada buku tersebut.

Kemudian Kyai Ilyas lah yang menerjemahkan teks tersebut kepada KH. Hasyim Asy’ari. Inti dari tulisan tersebut “Mereka = Kolonial Belanda” perlahan akan menyudutkan Islam di Indonesia khususnya dikalangan pesantren.

Atas dasar ini juga KH. Hasyim Asy’ari meminta Kyai Ilyas untuk mengajarkan bahasa Belanda kepada anaknya yang bernama KH. Wahid Hasyim serta menjadikan bahasa Belanda sebagai salah satu komponen materi di lembaga pendidikan pesantren.

“Ritual” sebelum membaca dan menulis

Jujur saya kurang sepakat dengan kata ritual diatas. Kata ritual seringkali dalam mindset masyarakat selalu dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat mistik. Saya sendiri belum menemukan kata apa yang pas untuk menggantikan ritual diatas. 

Mungkin lebih tepatnya ritual yang dimaksud disini adalah Norma/Adab/Etika yang dilakukan sebelum membaca dan menulis.

KH. Hasyim Asy’ari selalu melakukan ritual sebagai tanda syukur kepada Allah Swt. atas kasih sayang dan nikmat yang diberikan kepadanya. KH. Hasyim Asy’ari melakukan ritual khusus secara sadar untuk menghormati Ilmu yang ada pada buku.

Tidak memandang jenis buku yang dibaca oleh beliau. Semua judul-judul buku yang bacanya dimaknai sebagai pembelajaran dan pengetahuan media keilmuan guna untuk diri dan memanfaatkan untuk orang lain yang membutuhkan.

Salah satu yang ditekuni adalah “bersuci=berwudhu” terlebih dahulu sebelum menulis atau membaca buku. KH. Hasyim Asy’ari memandang bahwa ini adalah pokok yang harus dilakukan untuk dirinya sendiri tidak ada keterpaksaan dari pihak manapun.

Secara sadar KH. Hasyim Asy’ari memaknai bahwa semua kelimuan ini tidak lain hanyalah dari Allah Swt.  Ritual ini sebenarnya merupakan hal yang wajar untuk dikalangan tradisi pesantren. Pastilah seorang santri menganggap ilmu adalah sebuah cahaya yang tidak bisa dijangkau dengan akal pikiran yang kotor.

Keberkahanan dan kemanfaatan ilmu inilah yang diharapkan oleh seorang tokoh besar maha guru KH. Hasyim Asy’ari.

Tiga kebiasaan diatas hanyalah bagian kecil dari banyaknya kebiasaan KH. Hasyim Asy’ari yang telah diamalkan secara tekun dan istiqomah. Dan itu telah lahir jauh sebelum adanya perkara baru yang dilakukan oleh generasi muslim mellenial.

Wallahu A’lam...

Referensi Khusus : Abdul Hadi, KH. Hasyim Asy’ari : Sehimpun Cerita, dan Karya Maha Guru Ulama Nusantara, Yogyakarta: Diva Press, 2018.

0 Response to "Tiga kebiasaan sepele bernilai positif yang diamalkan oleh KH. Hasyim Asy’ari"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel