Ditelan Kemenangan


Apa yang kau lihat, barangkali sama dengan yang ku pandang. Apa yang kau rasakan, barangkali sama dengan apa yang ku raba. Pedih, pilu, di belantara lapang yang membentang.

Berusaha menjadi yang terbaik. Mencoba meraih impian. Mimpi-mimpi yang tidak tercapai. Tumbuh berserakan menjadi karat tak bertulang. Siang malam terbendung sejuta permainan. Berharap nilai estetika itu datang.

Ya tuhan… apakah aku tidak mempunyai hak untuk kesana. Menjadi hamba yang mencintai kebesaranmu. Menjelajahi duniamu, mengamati tanda-tanda ke-ESA-an. Mengambil hikmah sebuah perjalanan. Satu persatu pujian alam menuntunku untuk datang.

Sungguhpun aku diciptakan dari setetes air yang hina. Bukankah aku memiliki kesempatan dan waktu yang sama ?

Dengan tidak membeda-bedakan ciptaanMu. Sebagai anugerah cara bersyukur kepada Mu. Kicauan burung mampu Kau bedakan. Mengapa aku tidak pernah punya kemajuan.

Hanya sebatas penopang bagai air diatas daun talas. Banyak berjalan tanpa bekas jejak yang pasti. Mencoba pergi ke dunia penuh teknologi. Aku tak mampu. Mencoba pergi dari keringnya dedaunan. Aku tak mampu.

Otak kanan yang Kau berikan, memberikan ku kesempatan untuk menuangkan sejuta ide dan imajinasi tanpa realiasi. Lantas aku ini apa ?

Otak kiri yang Kau anugerahkan, mengajakkan ku berpikir kritis, realistis, menghilangkan aroma fanatis. Namun dimana itu semua ?

Biasa atau tidak biasa, hakikatnya semua ini fana dan hina. Hanya Engkau yang mampu. Diakui atau tidak kehadiranku ini. Aku tetaplah hambamu.

Bimbing dan tuntunlah aku. Agar genggaman duniamu ini berdiri tidak hanya soal bisnis dan prestasi. Namun Adab dan Ilmu.

- Ditelan Kemenangan -

0 Response to "Ditelan Kemenangan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel