Dua madzhab ilmu bahasa. Dimanakah posisi kita ?

Lama sekali saya tidak posting artikel update beberapa hari ini. Karena saya ada draft naskah dan berapa karya ilmiah yang harus saya submit sampai tahapan publish.

Salah satu jurnal yang direkomendasikan untuk tingkat nasional ada jurnal ‘Arabiyat dan jurnal al-Mahara. Walau begitu, saya sudah mendeklarasikan kepada diri saya sendiri untuk tetap komitmen menulis. In mindset is hobby.

Hari ini saya berangkat ke kampus mulai mengawali perkuliahan di semester II. Kebetulan mata kuliah yang saya pelajari itu tentang at-Tathwir al-Manhaj Li Ta’limi al-Lughah al-Arabiyah.

Semacam makul pengembangan kurikulum bahasa Arab. Saya memperhatikan ada yang beda cara dan gaya pemikiran serta model perkuliahan kali ini.

Biasanya yang biasa saya alami. Bahkan mungkin kamu juga. Dosen masuk kelas, kontrak belajar, dan pembagian tugas. It is right ?

Ya, kali ini beliau Dr. Muhajir menyampaikan materi yang beda dengan sebelumnya. Mata kuliah yang fokus tema kurikulum itu langsung di putar ke arah asal usul bahasa.

Mula-mula beliau menjelaskan, “nenek moyang manusia itu sama atau beda?” serentak saya dan kawan-kawan menjawab “sama”. “Lalu kenapa tiap manusia mempunyai bahasa yang berbeda ? Bukan seorang ibu sebagai madrasah pertama anak mengajarkan dengan bahasa yang sama ?”

Satu kelas diam. Terpaku membisu mendengar pertanyaan simple tapi berbobot ini. Lantas beliau memberikan satu contoh lagi. “kira-kira, kalau ada 5 orang yang berbeda negara, menjadi satu tim dalam permainan sepak bola, mereka faham atau tidak ?”

Semua diam dan tidak ada yang menjawab. Dalam benak saya, ini mengapa yang dibahas seperti linguistik murni.

Minimal ada dua madzhab yang harus dipahami dalam ilmu linguistik.
  • Madzhab Strukturalisme
  • Madzhab Generatif-Transformatif


Strukturalisme

Kita sedang tidak bicara bagaimana definisi kedua madzhab itu. Tetapi melihat gaya metodenya. Paham strukturalis, membuat konsep bahasa seperti bangunan (بناء). Mereka menyusun kata satu dengan kata yang lain nya. Simbol satu dengan simbol yang lain nya.

Dari satu paham ini, muncul madzhab baru namanya mekanik. Mekanik dalam bahasa itu mudahnya suatu komponen satu mempengaruhi komponen yang lainnya.


Biar nggak bulet, saya contoh kan  begini “يذهب”. Kalimat fi’il mudhorik tersebut dibaca Yadzhabu atau yadzhaba atau yadzhab itu tergantung amil yang masuk. Makna “tergantung” inilah namanya mekanik. Terdapat pengaruh di dalamnya.

Kalau kemasukan amil mansub, maka akan di nashobkan dan berbunyi yadzhaba. Begitu dan seterusnya. Maka kaum strukturalis tidak lepas dari yang namanya mekanik. Mereka percaya bahwa setiap satu tatanan mempunyai makna.

Generatif-Transformatif

Madzhab yang satu ini bertolak belakang dengan mazhab strukturalis. Kalau madzhab strukturalis bergandengan dengan mekanik. Maka madzhab Generatif-Transformatif bergandengan dengan Imate/Fitrah.

Madzhab inilah menjawab berbagai pertanyaan dosen diatas. Manusia sebagai makhluk sempurna tidak hanya menyandang jasmani dan rohani termasuk juga akal. Akan tetapi fitrah ini satu satu kontruksi yang dimiliki oleh manusia.

Fitrah manusia inilah yang mengkreasikan bahasa satu dengan bahasa yang lainnya meskipun nenek moyang manusia itu sama. Jadi madzhab ini lebih melihat kondisi apa adanya tanpa adanya struktur bahasa itu sendiri.

Contoh sederhana nya ketika melihat orang marah, kira-kira nada dan gerak mimik muka nya sama atau tidak ? Pasti sama kan. Kenapa kita tahu kalau mereka sedang marah ? Padahal mereka ini menggunakan bahasa Inggris, Prancis, Arab, dan lain sebagainya.

Fitrah manusia inilah yang menerjemahkan simbol simbol yang diartikan dengan makna yang sama. Terdapat proses kimiawi dalam perbedaan ini. Bahasa keren nya “Chemistry”.

Nah sekarang sudah tau kan apa itu chemistry ?

Lantas madzhab mana yang harus digunakan sebaiknya ?

Tentu untuk urusan ini tidak ada yang bisa di salahkan meskipun masih banyak ilmuan yang memperdebatnya. Ibaratnya kaum strukturalis itu BENGKEL nya. Mereka bertugas membenahi bagaimana struktur bahasa mulai dari nahwu-sharaf dan kaidah bahasa yang lainnya.

Sedangkan kaum generatif-transformatif itu SUPIR nya. Hanya bisa berjalan tanpa paham isi subtansinya. Bisa bicara bahasa tanpa peduli tata-gramatikal nya. yang penting tau mufradat dan artinya.

Sebagai contoh “لا بأس” diartikan = tidak apa-apa. Maka ungkapan “لا ماذا-ماذا” diartikan demikian pun tidak masalah.

Bagaimana ? Sudah jelas ? Jadi, kamu masuk yang madzhab mana?

Sebagai kaum generasi cendekiawan. Harus nya kita mampu membuat arah baru dalam mengembangkan konteks  bahasa secara komprehensif.

“Keterampilan itu tidak diajarkan, akan tetapi dilatihkan”

“Kami tidak mengajarkan bahasa, kami hanya mengajak berbicara bahasa”

0 Response to "Dua madzhab ilmu bahasa. Dimanakah posisi kita ?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel