TULISAN JALAN

Welcome to ilfan.ID, blognya Santri N'dablek

Hikmah dibalik nekad dan tekad


Hikmah dibalik nekad dan tekad

Seorang Ibu rumah tangga yang jika ditilik dari kepribadiannya, tidak mempunyai pekerjaan sama sekali. Ia hanyalah seorang ibu tamatan SD yang kemudian tidak melanjutkan pendidikan nya, melainkan nyantri di pondok pesantren.

Sejak menjadi santri Ia hanya fokus menghafal Qur’an. Sedang ilmu ilmu agama kajian kitab pun tidak faham. Beliau adalah Azizah. Seorang ibu yang kesehariannya hanya berpegang teguh dengan hafalan Qur’an.


Beliau berhasil khatam al-Qur’an dalam kurun waktu 1,5 tahun. Hingga saat masuk usia nya yang sudah dewasa. Beliau menikah dengan seorang santri yang sangat fasih di bidang kitab nya. Orang Jawa menyebutnya Ngelontok kering (Sudah di luar kepala).

Santri zaman dahulu yang tidak sama dengan santri zaman sekarang hanya diajarkan sebatas akhlak, ngaji, dan tentunya ngabdi. Budaya inipun turun temurun hingga sekarang.

Farhan. Beliau adalah suami dari Azizah. Sayang nya, Farhan juga tidak paham masalah perekonomian.  Setelah menikah beliau hanya mempraktikan apa yang sudah dilakukan di pesantren.

Isi ceramah, ngaji, dan lain-lain. Begitu juga sang istri Azizah. Setiap hari hanya muroja’ah dan berpegang teguh pada Qur’an. Sosok kedua pasangan suami istri ini lebih menonjol di bidang agamanya.

Tidak terlalu paham tentang perekonomian yang seharus nya dicari untuk menafkahi istri. Berkali kali mencoba untuk belajar usaha dengan modal nekad selalu gagal dan gagal.

Mulai dari jualan Sabit, Golok, dan alat-alat dapur rumah tangga sampai jualan wewangian tidak ada yang berhasil. Al-hasil hanyalah menambah bon atau tidak balik modal.

Tidak berhenti sampai disitu, berbagai tawaran bisnis online hingga metode penipuan bisnispun sudah dirasakan. Bisnis ternak ayam yang menggiurkan. Berhasil tertipu sebesar 35 juta. Bisnis investasi berhasil tertipu 5 juta. Dan banyak lagi hal lainnya.

Kegiatan bisnis yang seharus nya menjadi bahan pelajaran, justru menjadi malapetaka. Betapa sulit nya menghadapi perekonomian dan bisnis yang dirasakan Farhan dan Azizah yang hanya tamatan SD serta tidak pernah di beri pendidikan finansial.

Setelah dikaruniai dua anak. Perempuan dan laki-laki. Keadaan ekonomi Farhan dan Azizah perlahan makin membaik. Doa-doa tak pernah berhenti di panjatkan. Usaha tidak pernah berhenti dilakukan.

Dengan keadaan seadanya. Sang ibu hanya bermodal motivasi untuk anak-anaknya. Terkadang setiap jam 9 malam. Farhan mendongeng tentang harimau. Apalagi ketika lampu padam. Anak-anak sangat serius dan penasaran mendengar cerita ayah nya.

Tidak seperti anak-anak pada umum nya. Yang selalu dibelikan mainan. Ia hanya diberikan cerita-cerita harian setiap menjelang tidur.

Syukur alhamdulillah, anak-anak nya ketika duduk di bangku SD. Selalu mendapatkan rangking satu. Sehingga biaya pendidikan digratiskan. Rezeki Allah atas segala doa-doa nya.

Semangkuk mie ayam. Itulah hadiah yang biasa diberikan Farhan kepada anaknya tiap kali mendapat peringkat satu. Makanan kesukaan anak yang bisa dibilang tidak terlalu mahal. Hal ini sebagai stimulus agar anak selalu semangat dalam belajar.

Setelah selesai dari SD. Anak-anak sudah mampu merasakan keprihatinan Bapak dan Ibu. Ayah nya yang hanya tokoh kyai desa. Dan ibu nya hanyalah ibu rumah tangga berlabel hafidzoh.

Dari kegiatan undangan isi pengajian ataupun simaan itulah bapak ibu memperoleh rezeki. Sebuah pekerjaan yang tidak sama pada umum nya. Farhan dan Azizah selalu memberikan pemahaman kepada anaknya agar hidup ini harus dijalani dengan rasa syukur.

Ia menceritakan tanpa melibatkan bagaimana pedihnya ketika dahulu mencari pekerjaan yang telah ditipu berkali-kali. Ia hanya memberikan sugesti positif agar pemikiran anaknya kelak bisa berinovasi kearah yang lebih baik dan yang dahulu tidak ingin terjadi kepada kedua anaknya.

Sejak tamat SD pula. Anaknya mulai dilepaskan ke lembaga pendidikan pesantren. Dengan tekad dan nekad, berharap anaknya bisa berpendidikan yang lebih tinggi tidak seperti ayah dan ibu nya. Harapannya bisa sukses, manfaat, dan barokah ilmu yang didapatkannya.

Isak tangis ibu yang mengalir deras menunjukkan bahwa tidak gampang untuk jauh dari anak-anak nya. Seorang ibu khawatir jika nanti anaknya berbuat yang tidak-tidak dan terpengaruh dengan kerasnya dunia diluar rumah.

Namun Farhan sebagai sang ayah selalu menenangkan Azizah bahwa semua ini semata-mata hanya untuk menuntut ilmu agar sang anak menjadi yang terbaik.


Sejak itulah anak-anak dilepaskan hingga mahasiswa untuk belajar membenahi mental. Menghadapi banyak masalah dan selalu bersyukur dengan mengambil hikmah dari peristiwa yang telah terjadi.

Kadang ketika anak tinggal pegang uang 10 ribu dan jauh dari orang tua serta kebutuhan mendesak. Mereka selalu berpikir untuk mendahulukan yang primer dan penting dahulu. Sama seperti apa yang dipraktikkan oleh ayah dan ibu nya.

“Nak, jangan lupa bersyukur. Banyak-banyak berdoa kepada Allah. Dalam keadaan mendesak, utamakan yang lebih penting dahulu. Selalu yakin, Allah yang akan mengganti semua yang dibutuhkanmu. Tidak ada yang tidak manfaat. Allah Maha Adil dan Bijaksana”

Begitulah pesan Azizah sebagai ibu terhadap anaknya. Hingga saat itu, anaknya mulai berpikir positif dan memahami seluk-beluk kehidupan. Dan benar saja, tiap kali ada kendala, selalu ada saja ganti nya dari arah yang tidak disangka-sangka.

Percaya kepada semua ajaran guru itu penting. Namun doa orang tua, jauh lebih penting. Begitulah motto yang kemudian dijadikkan oleh anak-anak Farhan dan Azizah sebagai motivasi hidup.

Kalau ragu, stop! Berhentilah, jangan grusa-grusu. Kalau yakin, lakukanlah dengan tekad, nekad, dan niat yang kuat.

Proses inilah merupakan perantara Allah kepada hambanya bahwa setiap pelajaran hidup selalu ada hikmahnya.

***

0 Response to "Hikmah dibalik nekad dan tekad"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel