TULISAN JALAN

Welcome to ilfan.ID, blognya Santri N'dablek

Malas ! Malas kok dibuang


Entahlah satu perbincangan ini sangat menggugah pemikiran saya dan membuat saya mikir keras juga. Saat saya sedang asyik ngerjain tugas-tugas kampus yang super dupel itu, tiba-tiba saja ada pemuda sedang asyik ngobrol dibangku emperan kampus.

 “Mbok ya kamu itu jangan malas!. Ada tugas cepet dikerjain.” Kalau main game terus nanti gimana?!.

Jangan males-males gitu loh!”. Begitu saya dengar pembicaraan mereka malah belaga serius.

“Males kok dibuang!”. Tipe-tipe manusia inikan memang beda-beda. Ada yang model nya kecil, besar, kurus. Gaya-gaya lekuk cara jalannya pun ada yang santai, kemlelet, dan lainnya. Ditilik lagi dari sifatnya ada yang penyabar, keras kepala, fanatik, dan lain sebagainya. Lah kok bisa-bisa nya kita dengan enteng bilang jangan malas !. malas itukan hanya manajemen waktu. Males itu anugerah yang paling nikmat yang diberikan Tuhan. “Waah... payah !” hati saya bersikeras. Wong tugas kita ini simple kok. Taat, berakhlak, bersyukur, dan menghormati. Sudah gitu saja kan? Empat itu saja rasanya sudah berat. Apalagi ditambah dengan lainnya.

Tuhan bisa marah melihat grusa-grusu kita yang hanya sekedar ngomong “jangan malas!”. Kapan lagi kita bisa merasakan betapa nikmatnya anugerah Tuhan yang saya yakin nggak ada yang bisa menduplikasi. Pikiranku terhambur hilang. Makalah yang mestinya harus selesai karena aku nggak “males” sontak berubah jadi malas!. Ndak usahlah kita ini memaksaan diluar kehendak. Dari titik-titik sisi kita saja sudah selalu diawasi Tuhan. kalaupun saya bisa mengajukan kepada malaikat. Nggak lama kemudian saya akan membuat proposal untuk melindungi hak Nya Tuhan sebagai pemilik makhluk malas ini sebelum saya benar-benar fokus kepada proposal Tesis.

Mbak, urip iku mung sawang-sinawang”. Ada baik ada buruk. Kamu bener. Untuk membangkitkan semangat harus berhadapan dengan  malas. Tapi kamu nggak bisa melegitimasi kalau malas harus dibuang. “Wah.. itu menyalahi kodrat Tuhan mbak namanya”. Sebenarnya saya agak greget juga si dengan satu kata ini tapi sangat memancing perhatian. Mendengar segelumit perkataan saya mbak nya langsung pergi dengan muka mesem. “Huh!”

Paling-paling dalam benak nya. “Kamu ini tau apa, sok-sok ngerti malas”. Iya, saya juga pikir begitu. Manusia ndablek seperti saya ini memang belajar nya cuma lewat gerak-gerik gejala alam dan masyarakat. Kita memahami kata sukses saja susah nya minta ampun. “Besok kalau sudah sukses jangan lupa sama Ibu ya le”. “Besok kalau sudah sukses jangan lupa beli mobil dan bangun rumah di samping lahan ku ya..”.

Keberhasilan yang begitu banyak dialami manusia itu saja tidak bisa mengupas sejengkal makna kesuksesan. Sukses kui opo ?! Gimana kamu mau sukses orang kamu suka nya males-malesan. Lagi-lagi hanya menyalahkan dari dua kata sederhana itu. Kira-kira kalau sukses saya maknai suka berproses kamu terima nggak ? proses terus. Endingnya kapan?. Mesti kamu nggak terima kan ?. Hakikatnya sukses ya begitu itu. Menghindari zona nyaman. Zona dimana kamu harus keluar dari malas.

Saya heran mengapa itu sengaja dibuat-buat apa memang sudah menjadi darah daging budaya yang kental. Kebanyakan dari kita inikan suka nya sistem templek, gatuk matuk. Nyaman dan malas itu dua dimensi yang berbeda. Apa yang sedang kita rasakan hakikatnya sedang bercengkrama dengan makhluk Tuhan. makhluk halus yang tidak kelihatan sama sekali tapi bisa kamu rasakan setiap harinya. Tidak seperti pada film-film legenda yang hadir dan laris di dalam hiburan televisi.

Malas itu ya makhluk Nya. Kita nggak bisa mengusirnya dengan segala ranah tuntutan secara tertulis. Bisa repot kalau tidak diberi satu kenikmatan yang luar biasa ini. Tuhan pasti meridhoi. “Kok bisa? Lah ya iya”. Dialah yang Maha Menciptakan segala sesuatu. Tidak perlu repot kita susah payah membuang rasa malas. Cukuplah kita jalin silaturrahmi kapanpun kita butuhkan. 

Teman yang di justice males itupun diam tak berkata-kata.

***

0 Response to "Malas ! Malas kok dibuang"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel