Memahami posisi "karakter" sebagai bentuk insan yang hakiki

Insan di klaim sebagai makhluk Allah yang diciptakan secara kaffah. Memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Merasakan berbagai gejala samudra alam.


Manusia mempunyai akal dan nafsu serta mampu mengendalikan kedua nya. Betapa sempurna nya manusia yang dibekali oleh fitroh sebagai bentuk jasmani dan rohani yang suci untuk menerima segala macam pengetahuan inklusif dan eksklusif.

Fitrah manusia ini lah melahirkan berbagai karakter yang melekat pada insan sejati. Pada dasarnya setiap insan mempunyai karakter yang sama sejak ia dilahirkan.

Namun kadang kala kita baru sadar bagaimana karakter itu muncul. Itulah proses, semakin dewasa semakin tahu pula bagaimana jati diri manusia.

Membersihkan hati sebagai bentuk pendidikan karakter

Pernah kita mendengar bahwa ungkapan “Orang berkarakter” merupakan seorang yang mempunyai intensitas komitmen jiwa yang tinggi. Padahal mestinya karakter masih bermakna umum. Ada yang baik juga ada yang buruk.

Perihal ini pernah disampaikan oleh beliau guru saya Ustadz Nafi’ sewaktu saya ngaji kitab Adabul Alim wa Muta’alim di bangku wustho di Madrasah Diniyyah. Untuk memperbaiki segala kepalsuan, tipu daya, noda hati, dan iri dengki hendaknya kita berusaha mensucikan hati secara bertahap.

Tahapan-tahapan itu adalah nilai komitmen untuk menjadikan insan yang berkarakter, mempunyai kesadaran diri untuk melihat dan memahami serta menyesuaikan diri kita terhadap budaya dan masyarakat setempat.

Hal yang paling utama tentu adalah niat yang kuat sebagai landasan awal untuk belajar menjadi insan yang berkarakter dan berjiwa peduli terhadap lingkungan dan sesama.

Manajemen waktu yang baik dan seimbang

Tidak ada batasan usia manusia dalam menuntut ilmu. Hal ini juga dibahas dalam Ta’lim Muta’alim. waktu yang terus berjalan seolah tidak pernah memberi kesempatan secuil kepada manusia untuk melakukan aktivitas yang sebanyak-banyak nya.

Manajemen waktu merupakan tindakan yang tidak mudah dilakukan. Ketidakmudahan ini acapkali selalu diabaikan bahkan tidak peduli untuk diperhatikan.

Sebagai insan yang mencoba memahami jiwa karakter yang baik. Manajemen waktu adalah hal yang paling penting untuk dilakukan. Berusaha membasmi sikap menunda-nunda waktu dan mengurangi berbagai khayalan yang kurang bermanfaat.

Bersikap Qona’ah

Qona’ah yang dianggap sebagai manusia yang rela menerima apa adanya bukan berarti ia tidak mempunyai pendirian yang teguh. Qona’ah bertujuan untuk bersikap netral terhadap suatu perkara yang dirasakan dan dialami nya.


Bentuk karakter semacam ini perlu dibina, di didik, dan dibiasakan secara matang. Sikap netral ini akan melahirkan bentuk kesabaran dalam melihat kondisi realita kehidupan manusia.

Meskipun setiap insan dilahirkan pada tahun dan bulan yang sama, namun untuk urusan sikap, akhlak, tingkah laku hanyalah insan itu sendiri yang dapat melaksanakan apakah hasil finalnya baik ataupun buruk.

Disinilah penting nya sikap qona’ah dalam memahami karakter diri sendiri sehingga pada dasarnya lika liku kehidupan manusia itu sama.

Sama-sama mempunyai kekurangan dan kelebihan. Yang membedakan adalah tinggal bagaimana kita mau memulai untuk merubahnya.

It’s right ?
Wallahu a’lam..

Semoga bermanfaat

0 Response to "Memahami posisi "karakter" sebagai bentuk insan yang hakiki"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel