Menjadi santri yang berbudaya lokal, berwawasan internasional

SANTRI- disebut juga sebagai seorang siswa, pelajar, dan peserta didik. satu istilah yang mempunyai makna yang sama tetapi berbeda dalam hal implementasinya. seperti hal nya pelajar dan siswa, santri bukan saja label yang mesti dikaitkan dengan dunia anak-anak sekolah yang mendasari pada suatu lembaga pendidikan SMP/MTs, MA/SMA, dan Mahasiswa.


makna santri yang begitu luas tidak terbatas pada sebuah kain pembatas pada mereka yang hidup dilingkungan pesantren. lembaga pendidikan yang berorientasi kepada ranah agama dalam integrasi kurikulumnya pun berhak diklaim sebagai pelajar yang berlabel santri.

Diantara makna-makna santri pada sisi aslinya terbatas pada bentuk kata dan lebih jauh pada makna tersiratnya. Berbagai definisi muncul karena lama dan banyaknya ilmu yang pernah di enyam selama berada di lembaga. Saya sendiri tidak tahu apa definisi santri yang sesungguhnya. mungkin karena mondoknya cuma sebentar atau banyak mainannya dari pada belajarnya.

setidaknya guru-guru pernah mendefinisikan bahwa santri adalah :
  • (س) Safiq al-Khaira . Pelopor Kebaikan
  • (ن) Naashibu al-'Ulama'. Penerus Ulama
  • (ت) Taariq al-Ma'asyi. Meninggalkan Maksiat
  • (ر) Radhiyalloh. Ridhonya Allah
  • (ي) al-Yaqin al Murtafiq. Keyakinan yang Tinggi.
Terlepas dari berbagai macam definisi. KH. Bisri Musthofa pernah mengatakan bahwa santri adalah siapa saja yang pernah mengeyam pendidikan agama dan mempunyai akhlak yang baik. ya memang benar, harusnya itu yang terjadi pada segerumun santri di seluruh Indonesia. 

Abah KH. Thoha Muntaha yang juga pengasuh pondok pesantren Minhajuth Thullab Indonesia pernah mengatakan dalam forum kajian sholat duha semasa saya masih duduk di bangku SMA. Beliau mengatakan bahwa Indonesia itu pesantren. pesantren yang tidak hanya terkenal dan hadir di pelosok desa-desa namun sudah merambat dan bergesekan dengan berbagai budaya di masyarakat. sesuai dengan konsep Islam yang menerima berbagai macam golongan untuk bersama-sama memeluk agama Islam.

Lantas bagaimana dengan santri di era millennial ?

Sebelum hadirnya teknologi, santri dikenal sebagai seorang yang sangat sederhana dalam kehidupannya. belajar mengenyam pendidikan dengan fasilitas yang serba cukup dan terbatas. keterbatasan itu bukanlah penghalang yang sesungguhnya, justru itu bentuk romantisme santri dalam mempelajari huruf demi huruf.

Tidak seperti saya dulu, yang ketika mondok harus dipaksa dan menangis dulu. bahkan tidak pernah pernah punya fikiran untuk mondok serta tidak ingin mendengar kata-kata mondok. semua berbanding terbalik. sejak saya lulus SMA kini banyak sekali anak-anak berbondong-bondong untuk mendaftarkan dirinya ke lembaga pendidikan pesantren.

sebuah pesantren yang tidak hanya sekedar gubuk bambu, sudah mampu bersaing seiring dengan bertumbuhnya arus globalisasi. Globalisasi yang tiada hentinya menerobos budaya masyarakat sangat berdampak bagi pendidik dan peserta didik. 

Tidak sedikit pula kekhawatiran para pendidik terhadap menurunnya generasi muda santri dalam mempertahankan nilai-nilai budaya yang sudah tertanam dalam. kuantitas kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa dampak positif terhadap proses kemudahan proses belajar-mengajar.

santri era millennial ini selalu memantau kemajuan bidang teknologi dan tetap dalam koridor budaya pesantren. artinya kemajuan ilmu teknologi yang begitu pesat  tetap berjalan kedalam ranah positif dan tidak mempengaruhi budaya yang sudah tertanam di pesantren.

Output pesantren terbukti tidak hanya mempunyai integritasi, dedikasi, dan intelektualitas yang tinggi. tetapi spiritual juga mampu menunjang kepribadian diri untuk tampil di depan panggung dengan pengetahuan di atas rata-rata. testimoni ini muncul karena adanya berbagai pengalaman selama ia menjadi santri dengan segala macam bentuk pendidikan yang mungkin tidak ada duanya di lembaga pada umumnya.

Tantangan Globalisasi

Seperti yang sudah saya singgung diatas bahwa arus globalisasi akan terus berkembang seiring dengan terciptanya inovasi-inovasi baru berdaasarkan hasil riset para ilmuan dan akademisi.

menjadi generasi santri cerdas adalah solusi utama dalam menghadapi informasi yang beredar. mengakusisi dengan bijak penggunaan teknologi informasi serta tetap menjaga budaya pesantren yang sudah melekat dalam. sebagai santri yang mempunyai etika dan akhlak yang baik tentu hal ini secara otomatis sudah dipertimbangkan secara matang-matang.

santri cerdas bukan lah insan yang kaya akan ilmu pengetahuan. santri cerdas adalah santri yang mampu beradaptasi, memilah, dan menentukan arah serta tetap menjaga tradisi lingkungan yaumiyah pesantren serta akhlakul karimah sekalipun sudah berstatus sebagai alumni.

saya memahami bahwa justru alumni inilah yang sangat berpengaruh gerak-gerik nya. dari sini terlihat jelas apakah masih dalam ruang lingkup budaya pesantren atau memang sudah terpengaruh dengan budaya negatif yang membentenginya.

untuk itu seharusnya label santri tidak hanya sebatas dinding pesantren yang penuh dengan segala aturan. karena hakikatnya manusia hidup dalam tata aturan kehidupan. baik tata aturan materil maupun imateril.

Arus globalisasi bisa saja disebut sebagai sebuah tantangan. namun globalisasi bukanlah musuh yang harus dipendam dalam kotak hitam. tetap bijak dalam menggunakan teknologi dengan mengutamakan akhlak santri yang mulia dan berbudaya. tanpa adanya arus globalisasi semua akan ketinggalan zaman.

Melestarikan budaya, maju di kancah dunia

Dibangunnya sebuah budaya jelas bukan untuk dihilangkan eksistensinya. budaya lahir bertujuan untuk dilestarikan pengaruh aksiologi positif untuk kemajuan masyarakatnya. terlebih pada lingkungan pesantren. kita tahu budaya pesantren yang sudah melekat tidak akan bisa dibayar dengan apapun. karena itu adalah visi dan icon pesantren yang tidak ada duanya.

melestarikan budaya sebagai modal pengalaman berharga harapannya dapat membawa pengaruh yang luar biasa yang sewaktu-waktu bisa digunakan kelak nanti pada masanya.


Dunia dalam era globalisasi bukanlah hal tabu dan hal yang sempit bagi santri sekarang. pengetahuan dan fasilitas pendidikan kini mampu memberikan informasi yang memadai kepada santri yang ingin berproses dan mendapat penngalaman dikancah dunia. Berapa banyak santri era millinneal yang sudah mencicipi pendidikan tinggi diluar pesantren sebagai pengetahuan umum yang terintegrasi dengan agama.

Seorang santri yang mampu menepaki kakinya di luar negeri mestinya sudah mengetahui peta keilmuan dari segudang wawasan yang dimilikinya. bukan berarti wawasan lokal tidak mampu untuk menjangkau pengetahuan luar. tetapi metode lokal di era digital sudah mampu menjangkau wawasan keilmuan luar.

Berkiprah dan bertindak positif untuk menikmati lezat nya pengalaman ilmu diberbagai interlokal dan sentuhan budaya.

"menjadi generasi santri cerdas, berkreasi tanpa batas, menjunjung tinggi lokalitas"

Semoga bermanfaat.

4 Responses to "Menjadi santri yang berbudaya lokal, berwawasan internasional"

  1. Ustadz, lalu bagaimana dengan santri dari pesantren yang masih sangat amat mempertahankan ketradisonalannya. Cenderung menutup diri terhadap arus globalisasi. Apakah jalannya untuk memiliki wawasan internasional tertutup? Atau bagaimana? Mohon penjelasannya ustadz. Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih bagus sekali pertanyaannya.. seluruh santri dipelosok negeri cenderung mempunyai sisi tradisional masing-masing. Karena itu merupakan ciri khas budaya pesantren. Di Era industri 4.0. ini sepertinya sudah mafhum, tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan oleh semua kalangan termasuk santri.

      Menjadi santri yang mempunyai wawasan luas bukanlah santri yang membatasi diri dari lingkungan pesantren yang terbatas oleh tembok teknologi.

      Menjadi santri yang mempunyai wawasan tinggi adalah santri yang tidak mempermasalahkan materil dalam hal ini adalah keterbatasan santri yang tidak boleh membawa berbagai peralatan teknologi. Akan tetapi santri yang tetap mempertahankan budaya kearifan lokal budaya santri dan pesantren yang sudah sangat mengakar.

      Kita sudah dipermudah untuk mendapatkan atau mengimprovisasi ilmu pengetahuan dari ranah manapun. Sederhananya seperti diskusi diskusi kecil.. meng- increase pengetahuan pribadi. Menjadi beda diantara yang beda dalam artian positif.

      Seperti maqalah nya kanjeng sunan Kalijaga "anglaras ilining banyu ananging ora keli" . Sederhana nya kita boleh mencari apapun demi mengikuti perkembangan zaman agar tidak ketinggalan dan tidak mati ditelan waktu. Namun tetap mempertahankan tradisi kearifan lokal pesantren seperti budaya Akhlakul Karimah , menghargai orang lain, menghormati orang lain dan lain sebagainya..

      Santri yang berusaha meningkatkan ranah pengetahuan apapun yang bermanfaat melihat berbagai bentuk keragaman dan perbedaan suku ras, agama, sifat manusia.. namun tetap menjaga kultural budaya kearifan lokal yang sudah mengakar kuat di pesantren .

      Saya rasa itu. Wallahu a'lam.. terima kasih :)

      Delete
  2. Oh begitu ya Ustadz. Terima kasih banyak atas penjelasannya😊

    ReplyDelete
  3. maaf ustadz, saya sebagai santri mbeling yang ingin bertobat akademik, setelah saya baca beberapa artikel yang sampean buat, saya mulai terinpirasi dan tergugah untuk bisa meneladani njenengan dalam hal akademik (kepenulisan), lantas bagaimana saya harus mengawali ini semua,nuwun tadz. mohon arahan dan bimbingannya.

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel