TULISAN JALAN

Welcome to ilfan.ID, blognya Santri N'dablek

Reflektivitas Kebatinan


Reflektivitas Kebatinan

“Hati-hati mas”. Seringkali ku jumpai saat hendak bepergian. Berlalu lalang menggugurkan kewajiban belajar yang masih dalam tahap proses penyelesaian. Hari-hari memang tidak pernah terpisah dengan aktivitas kuliah, merpus, dan lain-lain berkaitan dengan dunia akademik.

Ini nih.. yang paling sering muncul. Reflektivitas kebatinan suka muncul tiba-tiba tanpa ngomong dulu. Minimal bilang “kulo nuwun” gitulah sama diri sendiri. Titik keramaian dan kepadatan kendaraan yang selalu jadi momok muncul nya reflektivitas ini.

Pas jalan ke kampus naik motor terus ketemu dengan pertigaan atau perempatan. Macet ! Mesti itu. Tapi bukan perkara macet yang jadi persoalan. Ibu-ibu, mas mas, atau mbak mbak yang naik sepeda berpapasan langsung dengan banyak pengendara lainnya. Hati ini benar-benar tergugah. Hiks.

Bukan sok-sok merasa kasihan. Peristiwa itu seolah-olah memaksa otakku untuk membuka galeri yang lalu. Masa-masa awal kuliah. Jalan kaki berangkat pagi pulang sore. Malam nya sambat nggak jelas. Yang pegel kaki nya lah yang linu yang kesleo dan yang yang lainnya.

Roda memutar dibawah kerangka sepeda mengubah persepsi masa dimana aku masih bermesraan dan bercengkrama semasa duduk di semester 3. Mungkin karena hal ini atau hal yang lain. Yang jelas tidak ingin ku permasalahkan. Hanya heran saja mengapa itu benar-benar terjadi.

Hal positif si sebenernya. Karena reflekstivitas ini muncul dengan aura yang positif pula. Kadang-kadang dibarengi rasa sedih juga kenapa sih harus begini. Orang-orang sekitar gitu juga nggak ya ?

Sudah hujan. Ramai. Macet. Terus lihat orang mau nyebrang atau lihat orang mengayuh sepeda dan terjebak dalam keramaian. Rasanya uuh.. tak tahan. Pengen cepet-cepet nolongin. Masalah nya aku itu kan nggak punya hak sama sekali.

Muka nya kusut sekali sama sepertiku ketika masih ngontel. Positif nya banyak banget. Disamping sebagai sarana olahraga juga bisa melatih kepekaan dan kesabaan. Terus negatif nya ? Ya jelas ada juga. Tapi tidak pada sisi biologis. Yah paling-paling pada efesiensi waktu. Apalagi buat kampusnya yang jauh. Jangan sampe ada yang ketinggalan itu. Karena repot juga nantinya.

Ndak usah ngebut-ngebut pula. Karena akan menghapus semua penampilan dan minyak wangimu. Keringetan! Jelas.

Imajinasi muncul tiba-tiba dan rasanya cukuplah. Bagaimana kalau aku saja yang naik sepeda. Semua ini memang efek perjuangan. Mulai dari jalan kaki, naik sepeda, sampai naik motor sudah dirasakan. Suka duka nya ada saja.

Mudah-mudahan reflek yang baik juga mempengaruhi terhadap respect yang baik pula.

Aku sama sepertinya. Menikmati posisinya seperti orang desa yang berjalan dipinggiran kota.

***

0 Response to "Reflektivitas Kebatinan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel