Sinkronisasi pikiran, hati, pengalaman, dan keniscayaan

“Jangan biarkan idemu bersarang di otak. Sedang kamu tidak segera menuangkan ke dalam tulisan”


Hati dan pikiran satu kesatuan yang bersinergi menggali informasi. Lima panca indra setiap hari selalu bersentuhan dengan alam lingkungan.

Bagaimana kamu tahu kalau rasa itu ada. Tentu stimulus respon yang mentransfer kesana. Saraf yang memonitor otak seperti hal nya kilat yang menyambar.

Seringkali kita memunculkan ide-ide baru hanya sekilas saja. Paling-paling tak sampai 2 menit ide itu langsung hilang diterpa angin. Bahkan mungkin saat kita berbicara ada kata-kata bijak tertentu muncul sekilas sebab aliran otak yang mengalir seperti sungai.

Aku sendiri mengamati, kebanyakan orang saat merasa badmood, mereka lebih pandai merangkai kata. Kata-kata yang terangkai bagai sajak yang berdiri sempurna. Mengapa harus dalam keadaan seperti ini dulu nilai-nilai estetika itu muncul.

Padahal sejatinya kita sama. Sama-sama mempunyai skill. Kalau bukan karena hati sebagai landasan berpikir. Tentu imajinasi tak semanis es cendol. Bagaimana imajinasi muncul tanpa rasa yang mendalam. Sinkronisasi, integrasi dan korelasi. Yah silahkan saja kamu mau pilih yang mana.

Apa yang akan kita coba nantinya, memang semua nya butuh dilatih. Belajar-mengajar hakikatnya transfer ilmu. Namun seharusnya tidak demikian. saya percaya semua itu butuh dilatih. Teori yang terbentang luas sebagai pengetahuan itu butuh dilatih. Kalo sudah dilatih baru dibiasakan dan di istiqomahi.

Maka hati, ilmu, pengalaman, dan pikiran harus disinkronisasi. Karena sinkronisasi inilah yang bisa memahami kapan kita harus melakukan A, kapan melakukan B.

Berikan strum terbaik untuk menstabilkan emosi dalam segala situasi. Alhasil, sensasi-sensasi yang datang dapat dirasakan sesuai dengan apa yang kita rasakan dan kita pikirkan.

0 Response to "Sinkronisasi pikiran, hati, pengalaman, dan keniscayaan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel