Teropong rekontruksi pemikiran Ibnu Khaldun tentang Pendidikan Islam


Didik-mendidik satu perihal yang masuk dalam perkembangan masa ke masa. Manusia belajar melalui berbagai aspek yang bergulat dengan logika. Mengamati alam adalah salah satu contoh proses belajar dari adanya sunnatullah sebagai hukum alam yang tidak bisa di tentang dengan realita.

 

Begitu juga dengan perkembangan pendidikan Islam kuno hingga modern. Suatu pendidikan yang butuh adaptasi dengan faktor lingkungan dan budaya yang berkembang di masyarakat. Melihat realita pendidikan Islam yang telah berkembang bukan lagi suatu yang perlu dirubah model penerapannya.


Betapa banyak tokoh-tokoh pemikir pendidikan Islam modern dari tahun ke tahun. Seperti yang sudah saya bahas pada konsep pendidikan Islam yang dicetuskan oleh Prof. Dr. Syech Naquib al-Attas. 

Mengapa model pendidikan Islam terus berkembang ?

Sebenarnya dalam ranah pemikiran saya bukanlah model atau konsep pendidikan Islam yang berubah secara total, namun sebuah pendidikan harus bertransformasi menyesuaikan perkembangan zaman.

Apalagi sekarang menunjukkan era digital yang semua model dan bentuk pembelajaran dapat diakses melalui teknologi internet.

Transformasi-rekontruksi pendidikan Islam tentu akan hilang ditelan masa apabila tidak menyesuaikan kondisi lingkungan yang ada. Namun sesekali kita perlu melihat lagi ide-ide baru yang pernah dicetuskan oleh banyak tokoh pemikir pendidikan Islam.Sebut saja seperti  Ibnu Khaldun.

Adalah maha guru yang pernah menyumbangkan pemikirannya tentang berbagai metode pendidikan Islam. Lebih jauh kesana, mari simak secara singkat riwayat hidup beliau.

Biografi Ibnu Khaldun

Nama lengkap beliau adalah Abdurrahman Zaid Waliuddin bin Khaldun. Lahir di Tunisia pada 1 Ramadhan 732 H, bertepatan dengan tanggal 27 mei 1332 M. Sejak ia dilahirkan hingga masa kanak-kanak belaiu dipanggil Abdurrahman.

Namun ketika dewasa oleh keluargannya dipanggil Abu Zaid. Bukan tanpa alasan, ini karena beliau adalah anak sulung. Sementara semasa beliau menjadi ketua pengadilan di Mesir pernah di beri gelar oleh sang raja bernama Waliuddin.

Ayah nya yang bernama Abu Abdillah Muhammad ialah seorang ulama fiqh yang terkenal pada masanya. Apabila ditelusuri nasabnya, Ibnu Khaldun berasal dari Hadramaut, Yaman yang bersambung dengan Wail bin Hujr (salah seorang sahabat Rasulullah Saw. yang berhasil meriwayatkan kurang lebih 70 hadits).

Semasa menuntut ilmu, Ayahnya merupakan guru pertama yang mengajarkan keilmuan kepada Ibnu Khaldun terutama pada persoalan bidang Fiqh. Disusul dengan guru-guru yang lain seperti Muhammaad bin Saad Burral al-Anshari, Muhammad bin Abdissalam, Muhammad bin Abdil Muhaimin al-Hadrami, dan Abu Abdillah Muhammad bin Ibrahim al-Abili.

Tentu masih banyak guru-guru lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Wajar saja jika  Ibnu Khaldun disebut-sebut sebagai seorang yang menampilkan diri multidisipliner.

Belaiu mampu menguasi berbagai Ilmu pengetahuan yang didapatkan dari guru-gurunya. Tidak hanya dibidang agama saja, tetapi juga pada bidang filsafat dan politik tentunya.

Pada bidang filsafat beliau mulai belajar mengintegrasikan dengan agama menjadi bentuk sebuah pemikirannya tentang pendidikan. Sedangkan ketekunannya pada bidang politik, beliau berhasil diangkat sebagai ketua pengadilan di Kerajaan Mesir hingga memperoleh gelar Waliuddin.

Transformasi pendidikan Islam

Seperti yang sudah saya jelaskan biografi Ibnu Khaldun diatas, bukan hal yang perlu diragukan lagi bicara soal transformasi yang dipikirkan oleh Ibnu Khaldun. Beliau melihat segala aktivitas kebudayaan masyarakat dan perkembangan yang lahir dari gejala konklusifitas justru disebut sebagai Ilmu pendidikan.

Beradaptasi dan memahami bentuk sosial-kultural adalah cerminan diri dalam memposisikan model pemikiran media dan sarana belajar. Dalam muqaddimah, beliau mengatatakan bahwa orang yang tidak terdidik oleh orang tuanya maka akan terdidik oleh zamannya. Jelas ini mempunyai makna yang sangat komprehensif. Hidup tanpa pendidikan akhlak dan moral.

Maka benar, bahwa madrasah pertama anak-anak adalah orang tua yang dalam hal ini adalah Ibu. Terdidik oleh zaman juga disebut-sebut sebagai pendidikan tanpa tata krama yang berjalan tanpa adanya seorang guru dan para sesepuh.

Bagaimanapun juga, guru adalah hal terpenting dalam proses didik-mendidikan. Karena peran guru inilah sebagai realita yang nyata mengajarkan dengan rasa keikhlasan dan ketulusan demi mencapai tujuan dari pendidikan tersebut.

Tergambar sudah bentuk transformasi pendidikan Ibnu Khaldun didefinisikan sebagai bentuk pendidikan yang komprehensif. Tidak hanya sekedar melakukan proses belajar-mengajar yang dibatasi oleh dinding kelas dan tidak sebagai sarana transfer ilmu dari guru ke murid.

Akan tetapi lebih menekankan pada proses aktif dan kreatif melihat problem solving yang terjadi di sekitar lingkungan serta usaha sadar untuk menangkap, menyerap, dan menghayati peristiwa alam dari masa ke masa.

Tujuan konsepsi pendidikan Islam

Inilah poin yang perlu kita ketahui dari hasil olah analisis pendidikan Islam Ibnu Khaldun. Seperti para tokoh-tokoh pemikir pendidikan Islam, Ibnu Khaldun tidak menjabarkan secara gamblang tujuan pendidikan Islam. Namun makna tujuan ini tersirat dari bentuk-bentuk penerapan dan realisasinya.

Beberapa rumusan tujuan pendidikan Islam yaitu :
  • Menyiapakan generasi muslim yang memiliki bekal ilmu agama dan keimanan yang mantap. Ilmu yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits. 
  • Menyiapkan seseorag dari akhlakul karimah. Atas dasar akhlak inilah kepribadian manusia terbentuk dengan sempurna dengan budi pekerti yang luhur dan tingkah laku yang mulia. 
  • Menyiapakan generasi yang siap terjun di masyarakat sosial. Hal ini tentu dapat berkiprah sebagai bentuk pengabdian yang hakiki dan mulia. 
  • Menyiapkan seseorang untuk terampil dari berbagai olah kreasi yang diciptakan. Sebuah pemikiran yang tidak hanya fokus pada ilmu agama saja. 
  • Menyiapkan seseorang sebagai generasi pemikir dan mempunyai seni cita rasa yang tinggi. Peka terhadap kondisi lingkungan dan budaya masyarakat.
Sejalan dengan tujuan-tujuan yang dicetuskan oleh Ibnu Khaldun, realisasi ini pun banyak bermunculan di era globalisasi yang modern ini.

Menyatukan generasi yang tidak peka terhadap realitas sosial. Menumbuhkan urat kepedulian terhadap sesama dan menjaga tradisi budaya lokal yang berkembang ditengah tengah masyarakat global.

Kesimpulan dasar

Pola pikir materil dan imateril ini semua berawal dari sebuah kesepakan. Tidak ada sesuatu yang tidak bisa dikembangkan. Termasuk dalam bertransformasi mencari konsep baru arah pembelajaran.

Pemikiran Ibnu Khaldun dalam kondisi era sekarang sudah menjawab berbagai tantangan yang bahwasanya manusia belajar tidak hanya haus terhadap ilmu dunia namun butuh dengan ilmu agama.

Bahkan keduanya pun tidak cukup jika hanya sekedar diintegrasikan antara keduanya. Melainkan harus menyelipkan cita rasa pola pikir dan seni ketrampilan untuk menunjang kreasi dan inovasi atas apa yang sudah disumbangkan melalui pemikiran agama dan sains.

Wallahu a’lam... 

Semoga bermanfaat

Referensi bacaan :
Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, Jakarta: Pustaka Firdaus,  1986.
Muhammad AR, Pendidikan di Alaf Baru, Yogyakarta: Prisma Shopie, 2003.
Omar Muhammad at-Toumy asy-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
Hujair AH. Sanaky, Pemikiran-pemikiran Emas Para Tokoh Pendidikan Islam dari Klasik hingga Modern, Yogyakarta: IRCiSoD, 2018.

0 Response to "Teropong rekontruksi pemikiran Ibnu Khaldun tentang Pendidikan Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel