Kavling Kyai

Satu istilah yang diberikan oleh Bapak pengasuh ketika saya di minta datang ke ndalem (Rumah Bapak Pengasuh) untuk silaturrahim dan seterusnya. Begitu sampai beliau menyampaikan maksud dan tujuan terkait cita-cita untuk menghidupkan cahaya anak pesantren agar ikut andil dalam membangun sistem jalannya program pondok pesantren yang lebih baik lagi. 


Ada keinginan dan cita-cita menghidupkan kembali TPA masjid yang sudah lama tidak tersistem dengan baik. Kadang-kadang hanya sekedar menggugurkan kewajiban, kadang pula hanya sebagai formalitas tanpa tujuan semata. Ada keinginan lain yang cukup jauh lebih penting dari pada hanya sekedar TPA yang sudah berjalan di sore hari tiap pukul 16.00 WIB. Keinginan beliau yaitu memasukkan santri nya secara perlahan lahan untuk ikut andil, belajar, dan latihan mengabdi di masyarakat.

Kalau selama ini kebanyakan santri mahasiswa mengabdi di bidang lembaga formal dan non formal serba lembaga lainnya yang berbasis keterampilan dan usaha, kali ini mencoba masuk kedalam ranah kemasyarakatan langsung. Yaitu menjadi badal imam masjid, badal muadzin, dan badal khotib jum'at, serta badal pengajian ibu-ibu masyarakat di ndalem. Awal mula nya saya diminta untuk ikut terjun di struktural lainnya setelah struktur pengurus madin. Namun ketika sowan ke ndalem saya ditolak oleh beliau Bapak pengasuh tidak ikut di struktur lainnya.

Hal ini dikarenakan posisi saya ada di struktur kurikukum pesantren dan teman saya di TU pesantren. "Ojo pak, sampean sama temannya tetap di kepengurusan madrasah diniyah, pesantren kok gak enek ngaji ne, iki ki nyawane pondok, sampean berdua tetap disitu, tak kavling menjadi kyai" "Nggih Bapak.. kulo nderek" begitulah saya merespon. Walaupun begitu saya dan temen saya tetap di minta untuk menjadi Badal yang sudah disebutkan diatas. Kenapa harus badal ? Keinginan beliau untuk terjun keranah masyarakat agar tetap menghormati masyarakat setempat agar tidak terkesan yang negatif. Semisal nanti terkesan menggeser job nya masyarakat. Dari sinilah semua santri mahasiswa diposisikan sebagai badal. Ada yang menarik dari dawuh nya beliau.

"Kavling Kyai" saya cukup mikir lama dan dalam apa maksud dibalik dawuh ini. Saya hanya mengamini.. yang penting saya niati hanya untuk ta'dzim menjalankan amanah dari beliau. Mana yang akan dipakai di masyarakat sosok siapa yang tahu. Hanya Allah yang menentukan. Intinya semua ini saya jadikan sebagai sebuah pembelajaran yang produktif. Mengeluh itu pasti. Namun itu semua tidak seberapa jika dibading dengan sebuah hasil ta'dzim nya. InsyaAllah. Mungkin maksud dari kavling itu adalah memetakan.

Saya mulai menganalisis maksud dari bahasa bahasa isyarat selama saya berkecipung di dunia organisasi dan dunia amanah. Selama ini saya hanya memahami hal hal tertentu didalam batas pemahaman saya. Amanah misalnya. Ta'dzim mau ditempatkan diposisi manapun dan apapun. Kebanyakan saya ataupun dari mereka hanya memahami dan memaknai "percayalah semua ini ada hikmahnya". Disisi lain saya mulai menuju ke ranah zona ma'rifat. Ma'rifat dalam artian kritis memaknai atas sebuah perintah. Apakah saya terilhami atau tidak saya tidak tau. Saya hanya terpancing dalam satu kata yaitu 'kavling' yang saya setarakan dengan makna 'pemetaan'.

Hal ini bisa diartikan bahwa maksud dibalik amr, hikmahnya kita bisa ahli atau expert dibidang yang sedang digeluti. Tanpa terencana, tanpa tertulis, dan tanpa pemikiran secara langsung. Secara tidak sadar, amr (perintah) dan ta'dzim (manut) membawa kita dan menjadikan kita orang - orang expert didalamnya. Mungkin karena kebanyakan orang salah memaknai, al hasil banyak keluhan menyimpang atas dasar atau dengan dalih tidak mampu dan lain sebagainya. Selain itu hanya dimaknai sebagai bentuk pengabdian dan muncul nya hikmah dan barokah. Padahal semestinya kita tau bahwa dibalik perintah yang di kavling-kavling itu ada kerasionalan yang akan didapatkan. Bukan banyak usaha tanpa hasil. Bukan pula overthink no action.

Tetapi hikmah dan barokah tersebut didapat melalui ta'dzim atas kavling-kavling yang sudah diarahkan. Tentu ini semua rasional. Dan saya percaya bahwa pengabdian bukanlah penyiksaan. Tetapi lebih kepada pembelajaran. Maka amr itu semuanya tidak ngawur, alias sudah di pikirkan secara matang matang. Tidak pernah mengaji, tetapi diminta ngajar ngaji. Bagaimana kita bisa ? sekilas tidak rasional.

Lebih dalam lagi jika dipikir-pikir kalo mau ngajar ngaji tentu seorang pengajar harus menguasai ilmu atau materinya terlebih dahulu baru maju mengajar. Makna nya secara tidak langsung, diri kita belajar atas guru kita (amr) kemudian materi itu disalurkan kepada para peserta didiknya. Disisi lain ada nilai nilai mental yang terlatih. Begitulah kavling. Seperti kavling kyai.

***

3 Responses to "Kavling Kyai"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel