TULISAN JALAN

Welcome to ilfan.ID, blognya Santri N'dablek

Mbah Ali : Inspirasi Kyai Baca, Tulis, Diskusi

Mbah Ali. Begitulah para santri menyebutnya sebagai tanda ta'dzim dan hurmat kepada beliau. Mbah Ali merupakan nama asli dari KH. Ali Maksum. Seorang ulama dan kyai dari Krapyak Yogyakarta. Salam ta'dzim saya kepada beliau.

KH. ALI MAKSUM

Siapa yang tidak kenal dengan Mbah Ali. Ribuan santri nya yang sudah menjadi alumni telah tersebar dipenjuru pelosok nusantara dan dunia. Berkat barokah dan do'a nya beliau semasa hidupnya, santri santri yang telah menjadi alumni telah sukses dimana-mana. Ada yang menjadi tokoh agama, pengusaha, pendiri pesantren, dan lain sebagainya. Tentu berbagai profesi itu tidak lepas dari label santri sebagai label terbaik yang tidak bisa di negoisasi dengan apapun.

Banyak sekali aktivitas beliau yang sudah menjadi panutan para santri. Salah satunya adalah gemar membaca dan menulis. Saking gemarnya, kisah beliau ini sudah ditulis oleh banyak orang dalam kaitannya membaca dan menulis.

Kegemaran beliau dalam membaca dan menulis sudah mendarah daging dan dijadikan kebiasaan yang utuh. Tak heran jika Mbah Ali memiliki wawasan ilmu yang sangat luas. Selain itu, apabila berdatangan tamu di Ndalem (Rumah), Mbah Ali selalu berdiskusi sebagai jalinan erat silaturrahmi.

Saya percaya ilmu itu datang step by step. Meskipun di dunia ini sudah banyak yang instan. Tapi proses tentu saja lebih penting dan lebih baik. Kita akan merasakan sensasinya ketika berproses terlebih berhasil dalam proses yang kita jalani.

Setidaknya ada tiga kata kunci yang kemudian saya ambil hikmah dari aktivitas Mbah Ali. Menulis, membaca, dan Diskusi. Saya mengibaratkan bahwa "menulis" itu adalah bumbu, dan "membaca" adalah Racikan. Sedangkan "diskusi" adalah Hidangan. Hidangan inilah yang dijadikan sebagai proses implementasi keilmuan. Sehingga wawasan keilmuan kita akan bertambah.

Implemtasi dari Mbah Ali secara tersirat mengajarkan kepada kita agar memahami bahwa ilmu pengetahuan memang tidak bisa didapatkan secara instan. Baik secara dhahiriyah maupun batiniyyah. Semua nya butuh proses kesadaran lahir dan batin dari kita sendiri. Mie instan saja yang katanya instan harus dibuat dulu sekitar 5 sampai 10 menit.

Saya percaya bahwa orang-orang hebat disana tidak lepas dari menulis, membaca, dan berdiskusi. Saya kira tiga pokok ini sangat ampuh untuk kita pelajari keilmuannya. 

Soal ilmu pengetahuan Mbah Ali tidak mempetakan atau mengkotak-kotakkan antara ilmu agama dan ilmu umum. Saat Mbah Ali menafsiri teks al-Qur'an, beliau mempunyai cara dan paradigma baru. Tidak hanya terpaku pada sumber al-Qur'an dan Hadits. Melaikan beliau juga selalu mengintegrasikan dengan pengetahuan pengetahuan yang lain. Ini dapat diambil makna bahwa kajian bahwa Mbah Ali tidak sekedar makna tekstual akan tetapi kontekstual.

Salah satu tradisi menulis Mbah Ali yaitu semangat keilmuan yang menjadikan beliau semakin produktif dalam menulis gagasannya. Tiap kali ada sobekan kertas atau bahkan kertas yang berserakan beliau selalu menuliskan gagasanya dalam secuil kertas tersebut.

Tulisan yang sering sekali ketika dijumpai oleh santri dan keluarganya adalah Syair manaqib dari syekh Abdul Qodir al-Jailani. "Ala man yatashadda.. ilmul 'ulama wa siyasatul muluk wa hikmatul hukama'. Sudah banyak yang hafal syair manaqib syekh Abdul Qodir. Dalam memori mbah Ali ini sangat kuat sekali yang tidak hanya hafal terhadap teks. Tetapi lebih kepada makna kandungan nya.

Salah satu karya monumental Mbah Ali adalah Hujjah Ahlussunnah yang juga pernah dijadikan sebagai rujukan ketika pengajian di PWNU DIY.

Pesan Mbah Ali yang sering dilontarkan kepada santri nya. 

"Kita harus tau dunia. Jangan kalah dengan kyai-kyai eropa. Karena dunia ini simbolnya sudah sangat jelas. Mudah untuk dijelajahi"

Makna tersirat yang sangat dalam bahwa selain mempelajari ilmu agama yang sangat luas. Kita juga wajib melek dunia karena semakin hari semakin berkembang.

Wallahu a'lam tiap-tiap dari kita mungkin mempunyai penafsiran yang berbeda-beda.

Setidaknya ada beberapa kata kunci yang saya ambil hikmahnya dari salah satu aktivitas dari banyaknya aktivitas Mbah Ali.

Membaca, menulis, duskusi (hasilnya wawasan dan ilmu pengetahuan yang luas)

Ulama itu mereka semua yang sangat menguasai keilmuan dan tidak terbatas pada agama saja. Apapun bidang spesialis keilmuannya. (Hasilnya pengetahuan yang kontekstual-integratif.

0 Response to "Mbah Ali : Inspirasi Kyai Baca, Tulis, Diskusi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel