TULISAN JALAN

Welcome to ilfan.ID, blognya Santri N'dablek

Nilai Kejujuran

Adakah yang lebih manis dari buah kejujuran ?

Nilai kejujuran

Salah satu sikap seorang peneliti dan mabahits adalah jujur terhadap data. Hal ini apabila dikaitkan dengan dunia akademik. Tak menutup kemungkinan juga untuk bidang-bidang lainnya. Mengingat simbol kejujuran itu sangat kompleks dan komprehensif. Ada pepatah yang mengatakan begini :

قل الحق ولو كان مرا

"Katakanlah kebenaran meskipun itu terasa pahit"

Kejujuran itu buah keabadian. Nikmat yang dapat dirasakan sepanjang masa. Tak lengah nya dari konsep kebohongan. Nikmat sesaat hancur kemudian. Bukan wacana baru lagi. Biasanya hal baik yang sifatnya kecil pasti akan terabaikan atau bahkan tidak peduli. Kesepelean ini  adalah buah kesombongan yang meremehkan segala sesuatu yang sebetulnya kita sendiri tidak dapat bergerak banyak di dalamnya.

Seperti mahasiswa yang terus bergulat dengan dunia akademik. Berkecipung dengan metode pinjam-meminjam teori keilmuan. Menghindari segudang kejahatan akademik (plagiasi). Kecerdasan spiritual untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran perlu dilakukan mulai sejak dini. Terlebih telah mengenal dunia kampus. Maka ada saatnya kita harus benar-benar mempunyai sikap ilmiah yang jelas untuk mendapat legitimasi legal-formal dari berbagai pinjaman teori yang dianalisis.

Kebetulan kemaren ada event ilmiah yang diselenggarakan oleh Tim event Nasional. Saya berniat untuk mengkontribusikan pemikiran saya melalui event tersebut. Salah benar itu diambang kewajaran. Yang penting adalah kejujuran saya sebagai sikap ilmiah untuk menelurkan teori berdasarkan analisis data. 

Saat kuliah kemarin lusa, ada teori dan konsep menarik yang dijabarkan oleh dosen. Dosen itu sebenarnya sebagai DPA saya juga. Hanya saja kedekatan saya dengan beliau belum terlalu nampak. Tapi saya suka dengan cara beliau mengajarkan keilmiuan. Ruang kelas menjadi hidup dan sangat antusias. Teori dan konsep yang dimaksudkan itu sebetulnya akan diajukan ke kemenag untuk diverifikasi dan dilegitimasi keabsahannya. Maka dari itu saya tidak akan memaparkan disini. Sampai teori dan konsep mindmapping itu disetuji.

Karena event yang diselenggarakan berkaitan dengan dunia tulis menulis. Akhirnya saya merumuskan judul dari tema yang disyaratkan, yaitu tentang "Revolusi Industri 4.0" dengan sub tema pendidikan. Bukan event yang membuat saya harus berbuat A dan B. Melainkan saya tertarik dengan teori dan konsep yang dipaparkan oleh dosen tadi.Akhirnya saya pun menuliskan rumusan itu dengan pendekataan teori dan konsepnya beliau.

Sesaat ditengah jalan saya menulis, saya betul-betul merasa berdosa atas apa yang saya lakukan. Saya belum mempunyai akses perizinan terhadap teori dan konsep itu. Saya seperti melanggar hak cipta (copyright) terhadap apa yang saya tulis. Kejahatan akademik tentunya.

Atas dasar itu hati saya luluh dan pasrah. Bahwa didunia ini tidak ada buah kenikmatan melainkan rasa kejujuran. Sekitar pukul 12.30 WIB saya mencoba minta izin kepada beliau langsung melalui media WA. Saya paparkan mengapa saya menggunakan teori dan konsepnya beliau, untuk apa, dan seterusnya. Dan di akhir kata saya menyatakan "Jika saya diizinkan atas teori dan konsep bapak, saya akan melanjutkan kepenulisan, jika tidak, tulisan saya ini akan saya hentikan sekarang juga".

Setelah terkirim, dalam hati saya hanya bergerumun malu. Aah... sudahlah kalo ditolak nggak papa. Soalnya itu bukan hak saya. Setidaknya saya sudah menunjukkan kearifan lokal menambahkan sikap jujur saya kepada beliau. Saya yakin beliau seorang dosen yang juga ulama besar dikampus pasti mempunyai nilai-nilai kearifan lokal. Sebab kearifan lokal ini ada dalam konsep teorinya beliau.

Tepat pukul 13.00 WIB. WA saya dibalas oleh beliau dan beliau mengizinkan dengan mengatakan "Iya Mas silahkan,silahkan dipakai". Alhamdulillah... saya benar-benar bersyukur belaiu tetap menunjukkan budaya kearifan lokal meskipun hanya dengan mahasiswanya.

"Nanti kalau sudah jadi, jangan lupa saya dikasih hasil tulisannya juga ya". Begitulah pesan beliau kepada saya. Saya semakin semangat untuk melanjutkan tulisan bukan karena ada nya sebuah event. Tapi atas dasar kerelaan beliau meminjamkan teori nya. Padahal ketika dikelas beliau sempat mengatakan tidak untuk dipublikasikan sebab belum diajukan kemenag. Namun saya satu-satu nya orang yang mendapatkan akses kesana hanya karena saya mau, dan saya berani jujur meminta izin tanpa memikirkan resiko nya. Sebab jika ditolak, itu tidak menjadi masalah buat saya. Saya bisa menggunakan pendekatan teori lainnya.

Kelegaan hati saya menjadikan arah pemikiran menjadi tenang tanpa adanya hambatan

"Kesadaran dan kejujuran adalah bentuk kearifan lokal. Termasuk bagian dari legal-formal sikap ilmiah untuk menghindari kejahatan akademik"

***

0 Response to "Nilai Kejujuran"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel