Transformasi parasitisme to mutualisme

Apa sebenarnya yang kita ketahui tentang sikap ta'awun ? Sikap yang bisa dilakukan banyak orang. Tetapi belum tentu tertanam pada insan. Tolong menolong seharusnya tidak lagi dijadikan sebagai sikap yang mubah. Tetapi memang harus tumbuh dan melekat pada diri kita.



Tidak ada ruginya untuk bertindak hal hal kecil seperti ini. Karena hal besarpun dimulai dari berbagai titik kecil yang saling menyatu hingga membesar.

Seperti yang telah saya tulis di artikel sebelumnya bahwa keterampilan itu untuk dilatihkan bukan untuk diajarkan. Kamu boleh sepakat boleh tidak. Karena ini hanya asumsi saya yang sudah saya pikirkan secara matang. Jangan tanya bagaimana konsepsi kalimat melalui kacamata linguistik. Karena pergurumunan bahasa dapat melahirkan banyak penafsiran walau hanya satu kata.

Bukan pada aspek bahasa tentunya. Tapi makna antara 'dilatihkan' dan  'diajarkan' beda beda tipis. Silahkan dilihat melalui kacamata masing-masing. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Tidak bisa berdiri secara independen. Semua butuh antar satu dengan yang lainnya. Namun saya melihat banyak penyakit tunggal yang juga dilakukan oleh kebanyakaan orang.

Bisa dikatakan sikap ta'awun adalah kejawiban. Menolong yang kesulitan, menolong yang kurang mampu dan seterusnya. Mau kita belajar secara ikhlas pun, saya yakin pasti ada titik pengharapan (roja') meskipun sama sekali kita tidak mengharapkan apapun dari apa yang sudah kita berikan kepada mereka yang membutuhkan.

Simbiosis mutualisme yang didefinisikan sebagai suatu perkara yang saling tolong menolongpun tak akan ubahnya bisa masuk kepada simbiosis parasitisme. Menolong tetapi tidak dibalas. Mari kita ambil positifnya

Berpikir positif bisa membangkitkan seluruh titik yang mati dalam tubuh kita. Tak ubahnya seperti sakit gigi. Walaupun gigi adalah benda yang keras dan mati, namun mempunyai akar saraf yang kuat yang bisa menghidupkan seluruh titik saraf diseluruh tubuh.

Tidak serta merta kita berkata ikhlas namun langsung ikhlas. Walau hati tidak keberatan. Saya yakin butuh celah dalam mengimplementasikan ikhlas yang sebenar-benarnya. Menghilangkan sesuatu yang nampak kepada dalih aroma yang lain. Mudahnya melupakan sesuatu dengan menghadirkan perkara yang lain.

Ta'awun sebagai tiang pertolongan sudah lebih dari mampu dalam mengimplementasikan simbiosis mutualisme. Walau begitu, kita juga harus tetap waspada terhadap parasit parasit yang hadir. Waspada dalam artian menahan kenyataan yang diterima. Karena pada kondisi tertentu kita juga butuh dengan yang namanya parasit.

Jadi sebenarnya antara menolong dengan mengharapkan ditolong tapi kenyataannya tidak tolong itu juga harus dimaknai sebagai simbiosis mutualisme. Tak jarang dari kita memandang negatif hanya terpengaruh dalam cover. Kemudian ilham datang menyadarkan dari perkara yang sudah diminimalisir atas instropeksi diri. 

Apabila hanya surga yang dimaknai hal positif. Apakah kamu tidak butuh dunia ? Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna bukan untuk mendalami hal makrifat saja. Tetapi kepada keseimbangan hidup dalam mencapai tujuan kehidupan yang sebenarnya. Manusiapun tidak hanya butuh makan sebagai kebutuhan. Manusia juga butuh membuang racun dalam tubuh agar terjadi keseimbangan dalam berproses.

Kita pun harus perhatian kepada hal negatif yang dapat ditelaah kepada ranah positif. Menyadarkan manusia dari yang tidak mau menjadi mau menolong. Dari simbiosis parasitisme menjadi simbiosis mutualisme.

***

0 Response to "Transformasi parasitisme to mutualisme"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel