Bisakah Indonesia dikatakan sebagai Induk Pesantren ?

Sejak zaman dahulu, pendidikan pesantren tidak lepas dari akar historis sebagai buah peradaban baru dari legalitas budaya kelimuan yang telah berkembang di masyarakat lokal.

Dahulu, banyak yang berpendapat bahwa legalitas pesantren pertama kali didirikan oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim yang dikenal dengan sebutan Syekh Maghribi dari Gujarat India. Sehingga dengan adanya peradaban baru, pesantren-pesantren mulai bertumbuh kembang mendapatkan legitimasi dari masyarakat lokal.

Jaman now, pesantren bukan hal baru dan bukan hal asing yang baru dingar ditelinga masyarakat. Saya sendiri mulai nyantri sejak duduk di bangku MTs sampai mahasiswa.

Trasmisi beradapan keilmuan santri milenial

Setidaknya ada dua fungsi lembaga pendidikan pesantren.

Pertama, sebagai lembaga pendidikan formal dan non formal. Di dalamnya secara khusus didirikan lembaga pendidikan untuk syiar agama Islam baik melalui madrasah maupaun sekolah umum.

Kedua, sebagai lembaga badan sosial. Berperan untuk mengadakan pertemuan-pertemuan sebagai jalinan mempererat silaturrahmi atau Ukhuwah Islamiyah.

Kita tahu bahwa perkembangan era globalisasi menunjukkan era tantangan baru bagi para generasi santri milenial sekarang.

Kalau kita lihat jumlah pesantren di Indonesia, hampir disetiap sudut pulau Indonesia terdapat lembaga pendidikan pesantren.

www.ilfan.id

Saya pernah mengakses data pesantren di Indonesia tanggal 3 Maret 2019 yang tercatat di Pangkalan Data Pondok Pesantren (PDPP) Kemenag berjumlah 25.938 pesantren dan 3.962.700 santri.

Data itu bisa diklasifikasikan tiap-tiap daerah dengan presentase presentase 10,66% untuk wilayah Sumatera, 82,2% untuk wilayah Jawa, 2,36% untuk wilayah Bali, 2,39% untuk wilayah Kalimantan, 1,92% untuk wilayah Sulawesi, 0,11% untuk wilayah Maluku, dan 0,19% untuk wilayah Papua. Angka yang tidak sedikit bukan ? mungkin sekarang sudah bertambah seiring berjalannya waktu.

Saya berpendapat, saya khawatir terhadap jumlah santri yang tidak sedikit, kurang dapat mengaplikasikan keilmuan sains modern.

Hal ini dipicu sistem pembelajaran masih didasari oleh instrumental knowledge (pengetahuan satu arah atau pengetahuan yang dipeta-petakan) sehingga santri masih terdoktrin oleh keilmuan agama yang tidak bisa disatukan oleh keilmuan umum.

Arah baru pengembangan pemikiran integratif berbasis integral knowledge

Setiap lembaga pendidikan tentu mempunyai ekspresi, substansi, eksistensi, dan tradisi keilmuan tersendiri yang diperoleh melalui sanad keilmuan seorang guru. Saya setuju dengan pernyataan ini.

Indonesia sebagai negara mayoritas muslim terbesar mempunyai beragam cara mentradisikan keilmuan khususnya dilembaga pendidikan pesantren.

Saya ambil contoh pemikiran Nabil Ali melalui trilogi nalarnya.

Mari kita lihat, konsep trilogi nalar terdiri dari tiga bagian penting sebagai bentuk pemikiran integratif. Diantaranya yaitu 1) Al-‘Aqlu Insan (potensi santri), 2) Al-‘Aqlu Jam’i (landasan moral & sosial), 3) Al-‘Aqlu Ali (integrasi teknologi).

Pertama, Al-‘Aqlu Insan sebagai potensi fitrah santri memiliki peran penting bahwa manusia dianugerahi akal sehat untuk berpikir dalam aspek aspek ilmu pengetahuan apapun baik itu jangka pendek maupun jangka panjang.

Kedua, Al-‘Aqlu Jam’i digunakan sebagai landasan moral, akhlak, dan etika bahwa menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 santri wajib berlandaskan akhlak yang baik agar kemunculan teknologi dari berbagai riset tidak disalahgunakan untuk kepentingan individual yang tidak ada manfaatnya.

Ketiga, Al-‘Aqlu Ali mengintegrasikan kemampuan santri milenial agar tidak tertinggal dan mampu menghadapi era digital yang terus berkembang.

Dari ketiga nalar Nabil Ali ini memberikan pemahaman bahwa santri milenial sudah harus mampu mengintegrasikan keilmuan pesantren dari sisi potensi fitrah melalui pemikiran-pemikiran nya berbasis akhlakul karimah yang mengakar kuat serta dapat mengintegrasikan sistem pembelajaran melalui pendekatan integral knowledge.

Dengan pendekatan integral knowledge, santri milenial tidak akan lagi takut dan kaget terhadap teknologi dan ilmu pengetahuan yang terus berkembang.

Karena sistem pendidikan dan pembelajaran dilingkungan pesantren sudah dibekali rumah pikir dengan konsep trilogi nalar Nabil Ali yang dapat berlaku dalam jangka panjang dan siap bersentuhan dengan era industri yang akan datang.

Dengan demikian, santri yang notabene dikenal sebagai pelajar yang tidak melek teknologi disebabkan berada pada sistem boarding, tetap dapat menggunakan hak nya sebagai pelajar dalam menggunakan, mencermati, dan mengkontribusikan pemikirannya dalam era digital. Sehingga memunculkan inovasi-inovasi baru pada pola integral rumah pikir  serta tidak membeda-bedakan dengan pendidikan pesantren dan pendidikan non pesantren. Selain daripada itu, metode rumah pikir trilogi nalar dengan pendekatan integral knowledge dapat membantu terciptanya kualitas lingkungan sistem pendidikan terbaik.

Sudah saatnya santri milenial dapat merubah mindset dari instrumental knowledge menuju integral knowledge untuk dapat bertahan, berkembang, dan maju dalam membentuk pola pikir di era industri 4.0.

Jadi, bisakah Indonesia dikatakan sebagai induk pesantren ? Wallahu A'lam

0 Response to "Bisakah Indonesia dikatakan sebagai Induk Pesantren ?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel