Emosionsl adalah Bagian dari Karakter

Kids jaman now lebih aktif dalam segala hal yang diketahui oleh apa yang dirasakan indranya. masa dimana ada yang lebih unik untuk diekspresikan melalui tingkah dan perasaan dari pada harus terdiam, termenung, dan tertuang dalam sebuah tulisan.

Anak yang saya maksud disini adalah peserta didik atau siswa. karena saya sendiri belum merasakan bagaimana menjadi seorang Bapak secara real. sepanjang perjalanan saya menuntut ilmu, masa-masa kuliah lah yang lebih memberikan ekspresi nyata dalam kehidupan saya. sejak kecil saya sudah diajak untuk mondok disebuah pesantren. dan ini berlanjut sampai saya kuliah. sampai detik ini. detik-detik saat tulisan ini mulai dituangkan. 



Tentu jika diambil dari sebuah pengalaman, pengalaman saya cukuplah banyak tentang bagaimana sistem pendidikan dan kehidupan dipesantren. saya sendiri sedari awal tidak mempunyai gairah untuk mondok dipesantren. karena saya sendiri dipaksa oleh orang tua akhirnya saya masuk pesantren. hampir sama dengan anak-anak sekarang. saya juga awal-awal menangis karena tidak betah. tetapi lama-lama betah juga. pembiasaan memang sangat dibutuhkan. tetapi membiasakan perihal kebiasaan tersebut tidaklah mudah.

Disini saya tidak akan muluk-muluk bicara soal bagaimana perjalanan panjang saya tentang pesantren. poin nya adalah saya pernah menjadi seorang anak didik, menjadi murid, menjadi siswa, dan menjadi santri tentunya. pada saat posisi itu, tentu saya hanya bisa memahami bagaimana keadaan diri saya ketika sedang belajar. belum sampai pada tahapan memikirkan banyak umat.

Namun saat saya menginjakkan kaki saya di tanah Jogja, di tanah pendidikan, di tanah pesantren pula. saya diberi kesempatan untuk mengajar ke sekolah sambil kuliah. Jadi, disela-sela saya kuliah saya mengajar disekolah.

Disinilah saya mulai memahami karakter seorang anak. ternyata anak-anak itu sangat beragam ekspresi. ditambah mereka berasal dari keragaman budaya yang berbeda. tentu tidak udah untuk menyatukan visi mereka. saya seorang yang diberi kesempatan bergabung dilembaga mendekati melalui aspek budaya sambil sedikit masuk memperkenalkan lingkungan disekolah.

Ada anak-anak yang memang sangat aktif, ada yang biasa-biasa saja, ada yang benar-benar pendiam bahkan sangat sulit untuk diajak komunikasi jika memang tidak didekati secara intens. dari berbagai karakter yang muncul, seorang guru yang notabene adalah orang tua tidak hanya bertugas memahami karakter seorang anak. akan tetapi lebih memberikan solusi dan keterampilan agar kesehatan mental anak selalu terbangun dengan baik.

Setelah saya berkecipung dalam dunia pendidikan kurang lebih 5 tahun. saya mengambil satu titik poin bahwa dalam memahami anak bukan lah dari sisi apakah mereka masih usia menengah kebawah atau bukan. anak dalam pandangan saya adalah mereka yang masih menuntut ilmu dibangku sekolah. sekalipun ia sudah pada jenjang pendidikan SMA di level tertinggi.

Poin penting tersebut adalah EMOSI. ya emosi anak perlu perhatian besar agar mampu berdaptasi dalam mengatasi kesehatan mental melalui lingkungan pembelajaran. bagaimana caranya ? yaitu dengan memahami emosi anak seperti anak yang gampang sedih, marah, kecewa, senang, gembira dan lain sebagainya.

Perasaan jiwa anak yang seperti ini harus dibina sesuai dengan karakter yang ia miliki. psikologis anak sangat berpengaruh pada kesehatan mental anak. pembinaan terhadap anak tidaklah sebatas anak itu bermasalah. tetapi anak-anak yang mempunyai jiwa-jiwa periang pun harus dibina agar tidak kelawat batas wajar.

Saya sangat bersyukur diberi kesempatan untuk belajar melalui mengajar di sela-sela saya belajar di tanah Jogja. bekal pengalaman saya jadi tahu batas dunia tidak hanya sekedar lingkungan tetapi semua dimensi persoalan yang ada di dalamnya. Jiwa dan alam.

***

2 Responses to "Emosionsl adalah Bagian dari Karakter"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel