Seni Berkiprah melalui Media Sosial


Di sini saya akan membahas beberapa ulama atau kyai yang aktif di media sosial
Sebenarnya banyak sekali ulama atau kyai pada era modern ini yang aktif di media sosial, namun saya mempopulerkan beliau yaitu Gus Nadir, Gus Mus, dan Abah Thoha.

Tokoh-tokoh ulama Nusantara ini selain aktif di lembaga dakwah juga aktif di media sosial terutama di Twitter. Yang saya suka dari ketiga tokoh ini, beliau tidak asal mengambil referensi yang bertebaran di dunia medsos. Akan tetapi dari rujukan kitab-kitab klasik modern secara substansial berbentuk hard cover kemudian dituangkan ke dalam sebuah space media sosial yang tersedia.

gus mus, gus nadir, abah thaha


Seperti saya ambil contoh beliau Gus Nadir menuliskan pemikirannya tentang Tafsir al-quran, Ilmu hukum,dan Ilmu Syariah dengan segudang permasalahan hukum di dalamnya yang tertuang di nadirhosen.net

KH Bisri Musthofa

Kemudian Gus Mus banyak sekali memberikan motivasi melalui petuah-petuah nya mengajak umat untuk saling damai, saling bercengkrama dengan cara bersyukur atas nikmat Allah Swt, saling memberikan yang terbaik melalui motivasi-motivasi dalam Twitter kemudian melalui Instagram dan lain sebagainya. Saya merasa adem jika membaca karya-karya yang ditulis beliau.

Beliau ini selain menulis di media sosial, juga aktif menulis di buku. karya yang beliau tulis sangat banyak sekali, Gus Mus juga salah satu kyai yang sudah sepuh tapi masih aktif menulis. karya-karya beliau bisa dilihat di website nya yaitu gusmus.net. Belaiu adalah pengasuh pondok pesantren Raudlotuth Tholibin.

Satu hal yang saya suka dari Gus Mus adalah setiap hari Jumat beliau selalu memberikan motivasi-motivasi yang intinya untuk selalu berbuat kebaikan.

Contohnya seperti bershodaqoh dan mengingatkan segala hal tentang realitas kehidupan yang ada dalam diri manusia. jadi, ada tweet khusus hari Jumat yang memang itu bertujuan untuk mengingatkan insan untuk merefleksikan diri agar belajar bersyukur dari apa yang telah kita kerjakan dan dapatkan.

Prof.Dr. Nadirsyah Hosen, P.hD.

Kemudian yang saya suka dari Gus Nadir itu beliau sangat berkiprah sekali di media sosial. mencoba mencegah arus informasi yang memang tidak tepat, kurang baik dan atau menyebarkan berita-berita hoax.

mungkin sebenernya kerjaan beliau itu sangat banyak sekali. Salah satunya itu menjadi dosen di Monash University, mengurusi bidang akademik dengan mahasiswa-mahasiswa nya Kemudian beliau juga aktif di berbagai kebutuhan seminar akademik yang mungkin saya sendiri juga tidak mengetahui secara luas Yang pastinya di luar kegiatan bermedia sosial beliau sangat sibuk sekali.

Nah setelah saya membaca pengantar buku "Tafsir al-Qur'an di Medsos (edisi diperkaya)". ada 1 kutipan menarik dari beliau yaitu kurang lebihnya begini :

"efek positif dan negatif itu pasti ada. ada yang tiba-tiba jadi ustaz mendadak, ada juga yang benar-benar seorang ustaz. kalo kita tidak cermat, ya kita tidak akan tahu kebenarannya. media sosial juga dipakai sebagai alat untuk menyebarkan kajian keislaman yang tidak ramah, isinya marah-marah, dan parahnya lagi tidak jelas mana yang asli dan mana yang berita hoax. Karena Itulah sebabnya saya terpaksa ikutan turun gunung ke arah media sosial. Andai saja kalau saya mau, saya bisa saja menikmati suasana perkuliahan dengan para mahasiswa bule di kampus Monash University, yaitu salah satu kampus terbaik di dunia. Ngapain saya capek-capek ngurusin anak tamatan SMA saja bisa dengan lantang menghina dan mencaci maki para guru besar dan ulama kita. Banyak kawan saya para akademisi yang tidak tahan dengan hiruk-pikuk medsos dan akhirnya kembali ke ruang perkuliahan seminar dan Menulis artikel di jurnal sekolah mereka tidak mau kotor bermain caci maki di medsos oleh para haters. namun kalau kita diam saja Bagaimana dengan nasib umat? Kira-kira Siapa yang mau mencerahkan mereka lewat media sosial?".

Begitulah secuil pengantar Gus Nadir dalam bukunya. ini sangat menarik sekali menggugah para seseorang agar tidak asal memberitakan sesuatu hal yang notabene sangat bodoh sekali jika berita itu adalah bohong. tetapi berita itu harus melalui referensi-referensi dan kemudian dikaji lebih dengan hal-hal yang terkait secara mendalam.

KH. Thoha Muntaha Abdul Manan

Nah yang terakhir ini mungkin tidak terlalu populer di media sosial, Tapi beliau aktif sekali di Facebook khususnya menulis beberapa cerita bermutu spiritual agama yang tinggi, tentang ulama, tentang tokoh dan bahkan sangat memperhatikan tentang sains agar santri-santri tidak hanya sekedar paham kitab kuning, juga harus melek teknologi.

Beliau adalah KH. Thoha Muntaha Al Manan, pengasuh pondok pesantren Minhajut Thullab Indonesia. Beliau juga termasuk pengasuh saya saat saya masih nyantri dan duduk di bangku SMA sejak kelas 1 sampai dengan kelas 3.

Karena beliau juga lah, saya tahu dunia perkampusan atau akademik dan alhamdulillah saya bisa berkiprah mencari ilmu di tanah Jogja, menyelesaikan S1 dan sekarang sedang lanjut S2 di jurusan yang sama yaitu Pendidikan Bahasa Arab.

Seringkali beliau mengatakan atau mengutarakan bahwa zaman era modern sekarang adalah zaman digital. Itu artinya kita tidak bisa lepas dari dunia digital maka kita sebagai orang yang mungkin sudah tahu ilmu sekalipun itu sedikit kita harus implementasikan ke dalam dunia maya.

"Andai saja Saya mempunyai seorang kompetitor dibidang IT. mungkin saya juga akan membuat blog pribadi atau website khusus untuk menulis." ungkap beliau saat saya sowan di ndalem Abah.

kira-kira kalau dalam penerapan pemikiran saya itu seperti keaktifan Gus Mus dan Gus Nadir. Abah Thoha lebih sering memberikan sebuah dakwah melalui media sosial seperti cara Gusmus melaui Facebook. 

Satu karya fenomenal yang sudah terbit dari tulisan Abah Thoha adalah "Seni Diplomasi Alquran". Buku ini pernah dibedah bersama para alumni yang melanjutkan pendidikan tinggi di tanah Jogja. buku ini secara khusus membahas tentang Bagaimana qaul dalam al-Qur'an disajikan dalam sebuah tafsir agar seorang dapat memahami makna terjemah dan makna tafsir serta menelusuri hikmah kandungan isi yang ada di dalamnya.

Hingga saat ini beliau aktif menulis. beliau juga sedang menulis tentang urgensi atau antologi santri. tentang bagaimana menjadi santri yang sebenarnya, menjadi santri di era milenial, menjadi santri modern yang bisa menggenggam dunia di masa depan.

Refleksi Diri

Dari sini saya bisa melihat bahwa seorang santri yang mungkin hakekatnya masih kecil bisa saja berkiprah di dalam dunia sains dengan tetap menjaga tradisi kepesantrenan kita masing-masing.

Terbukti seperti Gus Nadir bisa berkiprah dengan baik di dunia media sosial dengan segala kesibukannya di bangku perkuliahan. karya-karya beliau yang masih bisa dicari hingga saat ini sudah tersebar dipenjuru tanah air.

Kemudian Gus Mus dengan segudang karya-karyanya menjadi semangat motivasi tersendiri bahwa hakikatnya menulis itu penting. mengambil hak-hak yang baik dari para ulama-ulama terdahulu dalam menulis kitab-kitab yang sekarang banyak dikaji oleh para santri.

Kemudian Abah Toha Manan yang merupakan pengasuh saya saat saya duduk dibangku SMA mempunyai buku tentang Seni Diplomasi Al-Qur'an yang kemudian itu menjadi sumber referensi santri-santrinya memberikan pemahaman bahwa manusia harus produktif harus mempunyai karya apapun minimal 1 yang bisa ditulis dan diimplementasikan dalam hidup dan kemudian dinikmati oleh banyak orang.

Beberapa tokoh yang sudah melaksanakan kegiatan ini. kita tentu bisa belajar bagaimana mentransformasikan referensi-referensi klasik modern ke dalam dunia media sosial agar semuanya menjadi rukun damai dan tentram.

NB : Tulisan murni pengalaman dan pemikiran pribadi. jika ada yang keliru mohon untuk dikoreksi. 

0 Response to "Seni Berkiprah melalui Media Sosial"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel