Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bukan latarbelakang pendidikan, tetapi softskill dan passion-mu


Penyebab kegagalan terbesar adalah diri kita sendiri. Begitulah ungkapan yang saya dengar saat menghadiri sidang Disertasi Promosi Doktor Dosen FITK UIN Sunan Kalijaga.

Beliau adalah Prof. Dr. KH. Yudian Wahyudi, MA., P.hD. Kebetulan yang menjadi promovendus adalah dosen saya saat duduk di jenjang S1 dan menjadi sekretaris jurusan saat saya duduk di bangku S2.

Promovendus sendiri dikenal oleh teman-teman sebagai dosen ahli dalam bidang ilmu alat (nahwu, sharf, i’lal, dll). Kesempatan luarbiasa saya diberi undangan untuk menghadiri sidang promosi doktor.

Sesasat keadaan memang menegangkan. Karena dalam sidang kali ini dihadiri oleh beberapa guru besar, rektor, praktisi pendidikan dan beberapa dosen lainya. Jumlah total penguji adalah enam penguji.

Sidang berlangsung kurang lebih satu setengah jam. Etika dalam menghormati guru besar memang diwajibkan.

Bahkan akhlak dan moral tidak kompromi untuk diterapkan kepada siapa saja dan tak kenal usia. Namun yang menjadi catatan disini adalah urusan ilmiah tidak bisa dibenturkan dengan belas kasih sayang.

Tulisan ilmiah merupakan tanggung jawab penulis yang harus mempublikasikan karyanya dan bersifat terbuka untuk dibaca seseorang diseluruh dunia. Jika saya amati, pertanyaan-pertanyaan penguji yang dilontarkan kepada promovendus sangatlah sederhana.

Namun maknanya sangat mendalam. Hal ini berbanding lurus saat saya sidang munaqasyah (skripsi) yang menurut saya justru sangat sulit. Mulai dari sisi tulisan, isi penelitian, serta argumen penulis terhadap isi kontribusi penelitian.

Semakin tinggi tingkat penelitian semakin luas pula area ruanglingkupnya. Analogi sederhana sejauh yang saya ketahui yaitu jika skripsi, maka cakupan penelitian adalah untuk mengetahui, tesis untuk mengembangkan, dan disertasi kontribusi nyata bagi dunia pendidikan.

Untuk tingkat perbedaanya pun sangat signifikan. Trend dalam menentukan judul dari akar permasalahan biasanya terdiri dari dua variabel untuk skripsi dan tiga variable untuk tesis.

Sedangkan tingkat disertasi, penentuan judul justru sangat ringkas, padat, jelas. Namun isinya sangat komprehensif.

Sebenarnya saya tidak membahas tentang apa itu skripsi, tesis, disertasi. Saya rasa kalian lebih memahami dan mengetahui urutan jenjang dan tingkat validitasnya.

Potensi yang dimiliki manusia jauh lebih banyak dari apa yang ada diangan-angan. Hanya saja kita belum pandai menggali potensi yang dimiliki. Sekali lagi belum pandai, bukan tidak pandai.

Ilmu tidak hanya di dapat dari sekedar membaca buku dari instrumen dan materi yang setara. Tukar pemikiran, perbedaan pendapat, diskusi, dan pengalaman sudut indahnya alam menjadikan nilai plus yang tidak akan dimiliki oleh siapapun kecuali bagi penikmatnya.

Tulisan Prof. Yudian yang sering saya baca dan seringkali disampaikan dalam momen-momen seminar tentang tahajud ilmiah ini tidak banyak orang yang pandai menerapkan.

Pasalnya menulis dalam secarik kertas itu mudah dalam teori namun sulit dalam implementasi.

Tahajud ilmiah yang dimaksud adalah melaksanakan shalat malam secara istiqomah sesuai dengan kaidah hukum syariat dan setelah dapat meluangkan waktu untuk menulis satu lembar saja.

Satu lembar per hari sudah cukup. Dengan begini kehidupan jauh lebih produktif. Apakah semua orang bisa melakukannya ? Tinggal bagaimana kemauan seseorang untuk memulai. Ingat, menulis adalah hal yang mudah.

Siapa saja bisa melakukannya. Yang sulit adalah istiqomahnya saat hati dalam keadaan mood maupun tidak mood.

Banyak sekali kisah sukses orang-orang yang saya baca, yang saya dengarkan justru tidak sama sekali membuat saya termotivasi.

Sebaliknya malah membuat saya lemah. Mengapa demikian?

Saya percaya bahwa garis tangan kesuksesan itu terletak pada passion bukan latarbelakang pendidikan. Meski kadang kala tingkat pendidikan juga sangat mempengaruhi.

Kesuksesan seorang tidak bisa disamakan dengan orang lain terlepas itu adalah sebuah takdir. Takdir pun dapat berubah dan diubah dalam konteks usaha dan kemauan serta keistiqomahan.

Jika tahajud ilmiah tidak bisa diimplementasikan secara real. Minimal dapat melaksanakan shalat malam. Seiring berjalannya waktu ditambah dengan menulis apapun yang ada dalam ide-ide brilian yang muncul.

Ide brilian tidak bisa di-setting begitu saja. Tidak dapat dimunculkan secara paksa. Ia dapat muncul secara tiba-tiba dan hadir kapan saja.

Mengapa kemudian tahajud ilmiah ?

Anda tau bahwa pagi hari merupakan waktu yang paling efektif untuk meresap ide-ide yang bersemayam.

Tombol on off dalam otak belum bereaksi dengan cepat sehingga keadaan fresh memicu otak untuk mengeluarkan ide-ide brilian.

Manusia sendiri sudah ditakdirkan sebagai makhuk yang memili hawa nafsu, syahwat, akal, dan pikiran. Hal ini wajar jika kadang kala sifat malas itu muncul. Malas itu perlu.

Tetapi harus tetap dalam porsinya. Untuk menulis sesuatu memang tidak harus mempunyai latar pendidikan yang baik.

Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan sangat mempengaruhi dalam sisi apapun. Termasuk budaya berpikir dan menulis.

Mahasiswa misalnya, menjadi mahasiswa memang gampang-gampang susah. Positif negatif yang dihadapi pun suka duka.

Hantu pertama bagi mahasiswa adalah tugas-tugas. Sedangkan masalah terbesar bagi mahasiswa adalah rebahan.

Tidak cukup sampai disitu. Mahasiswa sendiri masuk pada area masa-masa muda. Artinya tidak jarang dan mungkin banyak mahasiswa yang mengembangkan nilai-nilai softskill (ketrampilan).

Ada yang sambil bekerja dalam profesi. Menjadi guru misalnya. Ada yang sambil mengikuti pelatihan profesional, berorganisasi dan lain sebagainya.

Tanggung jawab pemuda usia 20-an adalah langkah kreatif yang harus dikembangkan bersamaan dengan datangnya abad 21.

Ini bukan tantangan, mau tidak mau generasi ke generasi harus sesuai dengan perkembangan globalisasi di era postmetode.

Sebagus apapun media keilmuan, model pembelajaran, dan ruanglingkup pembelajaran. Jika tidak didasari oleh niat yang kuat, maka kita bukan lah apa-apa dan siapa-siapa.

Hal tersebut hanya menjadi sebuah fasilitas yang tersedia yang tidak dimanfaatkan secara kaffah.

Pengaruh kegagalan atau kesuksesan dalam akademik itu terletak pada diri sendiri.

Apa yang harus saya lakukan ?

tulisan saya mengajak kepada kalian semua sebagai pelaku akademik bahwa mahasiswa harus mampu mengembangkan langkah kreatif sesuai dengan passion yang kalian miliki.

Mampu memetakan dimensi pemikiran dan langkah prilaku nyata yang dapat diterima oleh publik.

Sejenak lupakan kata “apresiasi”. tak perlu berharap ungkapan “terima kasih”.

Anda sendirilah yang dapat merubah, berubah, dan berbuat secara produktif, kreatif, dan inovatif. Saya percaya potensi dalam fitrah manusia sangatlah kaya. 

Hanya tinggal bagaimana caranya memunculkan potensi luar biasa itu.

***
Ilfan ID
Ilfan ID Anak bungsu, santri yang terus belajar ilmu dan belajar mengamalkan ilmu

3 komentar untuk "Bukan latarbelakang pendidikan, tetapi softskill dan passion-mu"

Berlangganan via Email