Belajar dari titik yang sama

Kemarin ramai soal social distancing, momen dimana semua orang dihimbau untuk stay at home, Dengan begitu, semua pasti punya kegabutan masing-masing kan ya. Bahasanya apa ya, lebih tepatnya bosan. 

Himbaun ini tidak hanya berlaku untuk masa 14 hari, akan tetapi sampai wabah mereda dan dapat memutus rantai penyebaran virus tersebut.

Jadi kali ini saya akan bicara soal buku, penulis, dan penerbit.

Niat hati ingin berbagi, namun malah banyak kritikan dari beberapa kalangan. Khususnya kepada penulis aktif, penerbit, dan pecinta kata-kata. Kok bisa ?

Beberapa waktu lalu ramai tweet-tweet yang berbagi file-file untuk mengisi kekosongan waktu dirumah agar tidak melulu memikirkan soal covid-19.

Pasalnya berita yang mengerikan ini kian lama kian mempengaruhi psikologis orang. Alhasil orang yang tadinya sehat, jadi merasa sakit sebab pengaruh psikologis.

Salah satu file yang kian banyak diperbincangkan adalah file berekstensi format pdf dari penulis-penulis ternama. Tidak sedikit penulis dan penerbit yang membantah soal file pdf itu. 

Menurut mereka, file pdf itu adalah file ilegal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Penulis seperti Tere Liye, Bang Fiersa pun angkat bicara soal ini.

Tidak marah, namun memberikan sindiran halus terhadap beberapa karyanya yang sudah beredar di seluruh Indonesia.


Berhentilah yang sudah terlanjur melakukannya. Mari bersama kita dukung literasi yang ada. Tidak perlu mengaku seorang penulis dan literasi

Cukup hargai karya siapa saja yang mempunyai hak cipta. Apapun itu, termasuk kata di dalam kalimat, kalimat di dalam paragraf, dan paragraf di dalam naskah

Saya mengakui menulis itu mudah. Namun sulit untuk dijalani. Profesi yang tak pernah mati, yang bisa dilakukan oleh semua kalangan tidak pandang status sosial. 

Menulis juga bukan hal yang mudah. Menulis berkaitan dengan hati, rasa, dan pikiran. Satu sisi orang membutuhkan tempat yang sepi dan hening agar pesan yang disampaikan lewat tulisan dapat dirasa.

Sisi lain orang butuh sambil ngopi, agar pikiran fokus terjaga dengan ide-ide yang dituangkannya.

Jika diambil kesimpulan, buku itu mahal. Mulai dari editor nya, layouter nya, cetak, penerbitan, dan ISBN nya.

Namun...
Ada yang lebih mahal dari pada itu..

Ide, rasa, pikiran, dan proses-nya

Jika kamu tidak hobi membaca apalagi menulis. Minimal kamu bisa menghargai karyanya. 

Saya pun masih banyak belajar tentang ini. Hobi mengisi kekosongan waktu dengan banyak belajar kepada literasi Indonesia.

***
Muhammad Ilfan Fauzi
Muhammad Ilfan Fauzi Personal blog, Lifestyle, and Introvert tapi bukan berarti diam

No comments for "Belajar dari titik yang sama"

Berlangganan via Email