Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sebuah pandangan dan pendapat


Tulisan ini berawal dari beberapa pertanyaan yang masuk ke aku berkaitan dengan "Tesis".

Semoga ini menjadi pertimbangan juga apakah kamu harus lanjut S2 atau tidak.

Jujur aku bingung jika ditanya kapan tesismu selesai. aku suka dengan hal yang namanya rebahan. Tapi aku nggak malesan. Walau kadang realitanya semua juga punya rasa males.

Dulu saat duduk di S1, aku menyelesaikan perkuliahan sampai dapat gelar sarjana hanya butuh waktu 3,5 tahun.

Itu pun di dalamnya sudah termasuk bimbingan proposal yang di revisi sebanyak 7x. Bukan judul lagi, tapi proposal.

Dosen ku dulu tidak mau kalau hanya judul tapi harus sudah jadi proposal baru diajukan. Aku tahu ini berbeda-beda tiap dosen. Dosen yang cukup sulit di temui. Karena aktivitas beliau yang begitu padat.

Kalau dipikir-pikir, aku hanya butuh waktu setengah bulan untuk mendapatkan data dari dua sekolah sekaligus dan satu minggu untuk mengolah bab dari bab satu sampe bab lima.

Karena waktu ini aku anggap sebagai prioritas. Namun realitanya butuh 2,5 bulan untuk bimbingan. Bukan banyak revisi, tapi setiap 2 minggu sekali skripsiku baru bisa dikoreksi.

Lama bukan ? Aku menikmati saja.

Bagaimana tidak, saat skripisiku di acc, aku butuh waktu selama 2 minggu lebih untuk proses sidang. Andai semuanya berjalan mulus, mungkin 3 tahun lebih 1 bulan sudah cukup untuk memperoleh gelar sarjana.

Setelah munaqasyah seneng ? Seneng dalam hati, tapi hanya sesaat. Setelah itu saya banyak mikir harus ngapain setelah lulus.

Iya, sesulit ini kawan. Lebih sulit mikir kedepannya dari pada mikir pas skripsian. Loh kok begitu ? Sesulit-sulitnya karya ilmiah, bahan yang mau di olah itu ada. 

Perjuangan terletak pada pencarian, pengolahan, dan bimbingan. Bisa lulus cepet itu hal yang saya prioritaskan dulu.

Aku termasuk mahasiswa laki-laki pertama di jurusanku yang pertama sidang. Tanpa mikir berapa IPK nya. yang penting mind map ku jalan.

Sekarang, aku mau bicara tentang Tesis.

Oke, TESIS ku belum ke garap sama sekali. aku punya banyak alasan tentang ini.

Pertama, bukan prioritas utama. Mau ada yang lulus duluan atau tidak, itu terserah, aku tidak akan iri hati. Meskipun pada akhirnya harus segera diselesaikan.

Kedua, aku sama sekali nggak malas-malasan soal tesis ini, serius. Malas nulis ? Gak sama sekali. Ada hal lain yang lebih penting dari tesis, yang bakal kepakai sampai aku/kamu lulus atau bahkan saat kamu kerja nanti, yaitu karya Ilmiah. 

Ketiga, aku menyukai dunia fiksi dan non-fiksi. Itu artinya selama aku nggak nesis, berarti aku nulis. Nulis apa adanya yang bisa aku abadikan sendiri. Gak tau manfaat atau tidak, tapi aku yakin ada manfaatnya nanti.

Beda konteks, orang yang mencari gelar dengan orang yang mencari ilmu.

Please....! Tidak semua orang yang bergelar sarjana harus jadi guru di sekolah. Dan tidak semua orang yang bergelar magister harus jadi dosen.

Ijazah hanyalah legal formal akademik. Sedang yang sedang dibutuhkan banyak orang adalah SKILL.

Kalau kamu ingin segera menyelesaikan S2 mu kemudian mendapat gelar magister, dan setelah itu bermimpi ingin menjadi dosen, tapi kamu gak punya karya..

Untuk apa.... 😔
ayolah realistis..😔

Resiko menjadi dosen ialah siap dengan segala permasalahan dalam sebuah penelitian. Bukan tentang IPK mu yang tinggi.

Jadi, jangan lagi berpikiran, yang sarjana harus mengajar dan menjadi guru di sekolah, dan yang magister harus menjadi dosen dikampus.

Kalau kamu mau lanjut S2 karena ingin mencari ilmu lewat berbagai pengalaman yang nantinya bisa dikembangkan dalam ranah apapun.. silahkan..

Tapi kalau kamu ingin melanjutkan kejenjang S2 karena bercita-cita untuk menjadi dosen, coba pikir ulang sekali lagi 😔. kalau kamu tidak siap dengan segala tantangan akademik seperti penelitian berlanjut, lebih baik beralih ke hobi dan passionmu.

Jadi, banyak temenku yang hanya menganggap sepele sebuah tesis di banding karya ilmiah, mereka memprioritaskan karya dulu ! Setelah itu baru tesis.

Karena setelah lulus diranah akademik yang akan dilihat adalah karya ilmiahmu, seberapa giat kamu melakukan penelitian. Bukan judul tesis mu. 😔

Lain cerita, kalau kamu setelah lulus S2 kamu lari ke profesi lain. Menjadi pemimpin misalnya, direktur pondok pesantren dan Pengusaha.Maka disini kamu hanya butuh inovasi untuk mengembangkannya. Tidak ada tuntutan akademik.

Realistis, semua orang butuh pekerjaan yang sesuai dengan minat. Tapi pliss.. untuk urusan jenjang pendidikan pikirkan lagi niatmu seperti apa. 

Dari sini, kamu akan mengambil sebuah hikmah bahwa nantinya kamu tidak akan ada penyesalahan karena kamu sudah merancang tujuan dari awal hingga akhir

***
Ilfan ID
Ilfan ID Anak bungsu, santri yang terus belajar ilmu dan belajar mengamalkan ilmu

Posting Komentar untuk "Sebuah pandangan dan pendapat"

Berlangganan via Email