Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tradisi Kliwonan


Kliwon adalah nama hari pasaran yang ada dalam adat budaya Jawa. Meski saya tinggal di Lampung. Hampir 95% persen keluarga besar saya berisi suku Jawa.


Tradisi kliwonan disini adalah ritual keagamaan yang sudah melekat sejak saya belum lahir sampai sekarang. Saya belum tahu pasti dari mana muncul budaya ini. Namun beberapa saudara mengganggap ini adalah pesan yang ditinggalkan oleh Simbah sebelum wafat. Beliau adalah KH. Maghfuri.


Ritual keagamaan disini adalah Yasinan keluarga. Tidak asing bukan ? Namun ini berbeda dengan lainnya.


Di desa saya, kegiatan Yasinan rutin dilaksanakan setiap malam kamis dan malam jum'at. Malam kamis itu Yasinan Ibu-ibu dan malam Jum'at Yasinan Bapak-bapak.


Untuk tempatnya sendiri setiap minggu terus bergilir dari rumah satu ke rumah satu ke rumah lainnya. 


Untuk Yasinan Ibu-ibu, sebelum dimulai biasanya disajikan dengan sedikit tausiyah. Sedangkan untuk Bapak-bapak langsung dilaksanakan sebagaimana mestinya.


Kembali lagi ke menu utama. Yasinan keluarga besar saya dilaksanakan setiap senin malam selasa kliwon. Dan ini hanya berlaku untuk keluarga besar saya. Sebab saya amati di masyarakat hanya mengikuti tradisi Yasinan malam Jum'at atau malam Kamis.


Karena dilaksanakan setiap senin malam selasa kliwon. Muncullah istilah Kliwonan. Untuk tempatnya pun bergantian, dari rumah saudara satu ke rumah saudara lainnya.


Adapun teknis pembacaan surat Yasin pun berbeda dengan biasanya. Berbeda disini bukan merubah isi ayat dalam surat Yasin tersebut. Karena itu Kalamullah.


Perbedaan yang dimaksud adalah pembacaan lafadz-lafadz yang terus diulang-ulang.  Dan bahkan pada ayat-ayat tertentu berhenti sejenak terus berdoa.


Jadi membaca surat Yasin ini cukup lama. Sebagai contoh membaca lafadz Yasin 7x. Kemudian dilanjut ayat berikutnya. Pada ayat tertentu berhenti terus berdo'a. Setelah berdoa langsung dilanjut lagi ayat berikutnya. Pada ayat-ayat tertentu dibaca berulang kali. Ada yang 14 x, 11 x, 3x. Begitu sampai selesai.


Tidak cukup sampai disini, setelah Yasinan dan kemudian wejangan disajikan, ada beberapa yang harus disajikan yaitu iuran bergilir tiap-tiap kepala keluarga. Nominalnya pun disepakati. 


Tapi ini bukan arisan ya. Hanya menghidupkan tradisi yang maknanya saling membantu atau tolong menolong ekonomi keluarga.


Untuk penepan hari mengapa harus senin malam selasa kliwon masih menjadi misteri bagi saya. Yang jelas ini peninggalan simbah yang diteruskan oleh anak-anaknya.


Agama itu murni dan budaya adalah kebiasaan.


Jelas keduanya sangat berbeda. Namun selama itu memberi kemanfaatan jelas akan berdampak kepada kebaikan.


***

Ilfan ID
Ilfan ID Anak bungsu, santri yang terus belajar ilmu dan belajar mengamalkan ilmu

Posting Komentar untuk "Tradisi Kliwonan"

Berlangganan via Email