Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Proses Ilmiah : Sebuah Pengalaman Sidang Tesis

Sering terdengar, penelitian yang baik adalah penelitian yang selesai. sebaik apapun substansi kajiannya, tidak ada penelitian yang sempurna. sebab salah satu ciri khas karya ilmiah adalah akurat, jujur, berdasarkan data dan fakta.



Judul yang bagus tidak selalu mencerminkan isi yang bagus pula. judul hanya digunakan sebagai perhatian untuk menarik minat pembaca dan pemerhati. masing-masing tingkatan memang berbeda dalam membentuk pola judul.

Tahapan penelitian skripsi misalnya, judul diharuskan memenuhi 2 variabel, untuk tesis 3 variabel, dan disertasi lebih ringkas di antara keduanya. tidak ada yang salah dengan ketentuan itu. sebab setiap lembaga mempunyai regulasi aturan pembuatan judul.

Karya ilmiah yang lain seperti jurnal misalnya, memiliki regulasi penulisan judul yang ringkas dan spesifik hanya sekitar 7-12 kata. tentu hal ini untuk menarik minat pembaca dan lain sebagainya seperti artikel yang dianggap menarik.

Baru kemaren (Jum'at, 12/06/2020) pukul 09.00-10.00 WIB saya melaksanakan ujian/sidang munaqasyah tesis secara virtual (daring). tidak seperti S1 dulu harus berangkat ke kampus melaksanakan sidang di dalam sebuah ruangan. Dikarenakan wabah Covid-19 belum mereda, maka dengan segala kerendahan hati dan aturan kampus, saya melaksanakan sidang secara virtual.

Tidak ada yang berubah pada pandemi Covid-19. semua persyaratan sama dengan sebelumnya. hanya saja dibuat virtual dalam bentuk file. untuk sampai tahapan sidang tesis, setidaknya harus menempuh beberapa persyaratan khusus selain persyaratan adminitrasi.

Persyaratan khusus itu di antaranya adalah karya ilmiah dibuktikan dengan publikasi karya ilmiah di jurnal pendidikan bahasa Arab bereputasi dan terakreditasi nasional/internasional menimal sinta 3. kemudian sertifikat Toefl dan Toafl/Ikla minimal skor 450. dikarenakan saya berada di jurusan pendidikan bahasa Arab, maka syarat toefl menjadi naik minimal skor 500. selain itu, naskah harus bebas plagiasi maksimal 20% dibuktikan dengan hasil cek plagiasi di turnitin.com. Untuk cek plagiasi ini tidak ada kompromi sama sekali, meskipun tesis telah di acc oleh pembimbing, apabila cek plagiasi melebihi 20%, maka tidak akan diproses dan naskah harus diperbaiki.

Dari beberapa persyaratan di atas saya berhasil melaluinya satu per satu. untuk publikasi karya ilmiah saya berhasil publish di dua jurnal berbeda dalam skala sinta 3. untuk persyaratan toefl berhasil menempuh skor 467 dan toafl skor 520. selanjutnya hasil naskah turnitin saya berhasil pada tingkat similarity 19%, sedikit lebih baik dari aturan yang dipersyaratkan.

Demikan saya telah memenuhi syarat dan siap di sidang munaqasyahkan.

Bagaimana rasanya sidang munaqasyah ? tidak ada yang berbeda. Walaupun dilaksanakan secara virtual, tetapi saya tetap merasa gugup. seperti biasa, setelah sidang rasanya plong dengan banyak revisi. ini adalah hal yang wajar. sepanjang pengetahuan saya tidak ada karya yang tidak di revisi.

Why ?

Karena tiap penguji mempunyai perspektif idealis masing-masing yang menurut mereka lebih baik. sedangkan penulis harus memposisikan dirinya pragmatis. pragmatis dalam artian harus menerima apapun yang disampaikan penguji. tidak hanya penulis, terkadang penguji satu dan penguji dua berbeda pendapat. kadang kala, saya sudah percaya diri bahwa naskah yang saya tulis sudah lebih dan atau paling baik. namun nyatanya tidak.

Ada satu penguji yang tidak sependapat dengan penelitian saya. kontra ini terjadi pada pendekatan penelitian yang saya gunakan yaitu pendekatan historis. menurut penguji dua ini tidak sesuai dan harus diganti. padahal menurut saya dan penguji satu ini sudah lebih baik dan harusnya seperti ini. perdebatan pada pendekatan metodologis ini sedikit alot. pasalnya saya juga banyak berkonsultasi dengan ahli pendidikan yang bergelar Doktor. Namun dalih ini tidak ada apa-apanya dihadapan penguji.

Dari pengalaman ini lah saya mencatat beberapa tips saat sidang munaqasyah dilaksanakan di antaranya;
1. Jangan melawan penguji, sebisa mungkin hindari perdebatan, meskipun peserta sidang tidak sependapat dengan argumen penguji
2. Disarankan mengalah saja saat diberi masukan oleh penguji baik itu berupa teori, pendapat, sanggahan, dan lain sebagainya.
3. Jangan lupa ucapkan terima kasih setiap diberi masukan, arahan, bimbingan. untuk yang ketiga ini memang sepele. tapi sangat berpegaruh. penguji menilai ini sebagai adab/sikap peserta terhadap sidang munaqasyah.

Saya rasa tiga tips ini sudah cukup, dan tidak sulit untuk dijalani karena memang prosesnya tidak lama dan akan segera dilalui. untuk itu harus tetap sabar, tenang, dan nikmati prosesnya sampai benar-benar selesai.

Pada dasarnya ujian munaqasyah hanyalah menguji seberapa kuat teori dan hasil penelitian. seberapa mampu peserta sidang dapat mempertahankan argumen ilmiahnya berdasarkan data penelitian. Jika peserta gugup, maka disinilah banyak penguji yang memberikan catatan cinta/revisi secara cuma-cuma meskipun sebenernya penulis sudah menyertakan dalam tesisnya.

Namanya juga penguji, apapun bentuknya terserah penguji, dan tidak semua penguji mau membaca tesis yang tebal dengan banyak halaman sehingga mereka hanya mengambil poin-poin pentingnya saja.

Seperti inilah pengalaman saya saat proses karya ilmiah sampai dengan sidang munaqasyah tesis. tentunya tiap lembaga juga tidak sama dan punya regulasi masing-masing ya. Kalianpun punya pengalaman hebat tersendiri. hehe
Ilfan ID
Ilfan ID Anak bungsu, santri yang terus belajar ilmu dan belajar mengamalkan ilmu

Posting Komentar untuk "Proses Ilmiah : Sebuah Pengalaman Sidang Tesis"

Berlangganan via Email