Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Motivasi Ayah - Fase-Fase Kehidupan


Puncak terasanya perilaku seseorang itu muncul saat menginjak porsi di tengah-tengah fase perjuangan.  Namun Ia mulai menyadarinya saat berada di akhir fase perjuangan. Entah ini perilaku yang membudaya atau memang dasarnya takdir semata.

Saat duduk di bangku sekolah, contoh saja dibangku sekolah dasar (SD), maka perilaku anak akan sangat terasa saat duduk di antara kelas 3 dan 4. Ini adalah fase pertengahan. Kemudian saat menginjak jenjang menengah (SMP), perilaku mulai terasa saat duduk di kelas 8. Begitu dan seterusnya. Semua ini dinamakan fase pertengahan. Fase dimana anak mulai berkembang.

Perkembangan anak dapat dikatakan sebagai perkembangan bebas berpikir. Dimana seorang anak bergerak sesuai dengan intuisi melalui kecerdasan emosionalnya. Wajar ! Apabila anak ingin ini itu, saat pandangan mata mulai mengenal hal-hal baru.

Selanjutnya masuk pada fase akhir, fase perjuangan. Dari sikap ke kanak-kanakan menuju sikap ke dewasaan. Fase dimana sundur pandang sesesorang lebih luas lebih terbuka dan super holistik.

Fase akhir dikenal dengan fase yang amat sulit. Kebahagian ditentukan dengan cara bagaimana seseorang dapat beradaptasi, berpikir jernih, lapang dada, dan mengekspresikan pola kehidupannya.

Contoh kecil sebuah jenjang pendidikan. Tentu hal-hal yang dirasa amat sulit saat berada di akhir. Saat di akhir kelas 6 SD, Kelas 9 SMP, Kelas 12 SMA, Di akhir semester jenjang sarjana, magister, dan doktor. Kerumitan-kerumitan itu muncul seiring dengan levelnya.

Kerumitan akan berbanding terbalik dengan kebahagian apabila mampu beradaptasi dengan baik. Tak memandang apakah kita seorang introvert maupun ekstrovert. Pada akhirnya diri sendiri yang lebih mengerti.

Kehidupan pribadi pun mempunyai tata aturan, walau kadang tak tertulis. Mengerti akan diri sendiri bukanlah persamaan dari sebuah ego. Kita tahu mana yang harus nampak pada publik, mana yang harus tersembunyi untuk diri sendiri.

Tidak sampai pada fase akhir perjuangan saja. Pasca fase ini masih berlanjut dengan fase tingkat lanjut (advance). Fase ini dikenal sebagai fase puncak hingga akhir hayat.

Seseorang akan mulai menengok kembali ke belakang, apakah selama yang dilakukannya ini menuai manfaat atau hanya formalitas atau lebih buruknya kepada hal yang sia-sia.

Apakah selama ini kita sekolah hanya menuruti program, kemauan, atau gengsi gede-gedean. Saat kecil, hal ini tidak mungkin dipikirkan. Namun saat fase akhir dan fase lanjut, sebagian orang pernah memikirkan walau hanya untuk dirinya sendiri.

Mungkin, prestasi hidup itu cukup baik dan penting. Akan tetapi tidak ada yang bisa mengukur kesuksesan hanya dari sebuah prestasi.

Ada yang saat kecil mendapatkan rangking 1 sepanjang ia belajar. Ada pula yang semasa kuliah mendapat IPK tinggi luar biasa. Namun pada fase akhirnya tidak tahu harus berbuat apa.

Begitupula sebaliknya, ada yang semasa kecilnya pendiam dan pemalu. Akan tetapi tahu arah tujuan hidup dan hebat dalam public speaking di fase akhirnya. Ada pula yang biasa-biasa saja dan bahkan nyaris di cap bodoh. Akan tetapi berbanding terbalik saat ia sudah dewasa.

Begitu lah fase kehidupan. Seseorang hanya bisa menjalani bukan menjustifikasi. Ada yang sekedar cukup dalam memenuhi kebutuhan hidup. Akan tetapi pintar dalam mengatur finansial dan keuangan. Dibilang miskin tidak, dibilang kaya juga tidak. Setiap keinginan atas niatnya dapat tercapai dengan bertahap.

Ada pula yang serba berkecukupan. Mampu memenuhi kebutuhan hidup dengan mudah. Namun hanya bertahap dalam satu fase. Sedang fase selanjutnya berhenti total.

Fase kehidupan, rezeki, dan apapun memang sudah digariskan oleh Tuhan. Sebagai hambanya bukan hanya untuk diam menunggu, tetapi harus dijemput dengan cara-cara yang berpedoman.

Motivasi Ayah ~ Fase Kehidupan
Ilfan ID
Ilfan ID Anak bungsu, santri yang terus belajar ilmu dan belajar mengamalkan ilmu

Posting Komentar untuk "Motivasi Ayah - Fase-Fase Kehidupan"

Berlangganan via Email