Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Angkringan dan Nasi Kucing

Bangun pagi, menyiapkan kaos dan training. Tak lupa dengan sepatu tanpa tali menjadi andalan daily driver saat jogging di pagi hari. Mulai pemanasan, berjalan mengililingi sekitar balai kota. Jalanan nampak sepi. Kulihat disekitar banyak orang bersepeda dan hanya aku sendiri yang berlari dengan irama tak bertepi. 

Memang sebenarnya aku yang salah. Harusnya bukan di jalan tempatnya jogging. Wajar saja jika banyak pesepeda yang kulihat saat keringat mulai mengucuri dahi. Bukan pertama kali aku lari pagi. Dulu, sebelum aku pindah asrama, saat aku masih tinggal ditengah-tengah kota. Dua tempat favorit jogging adalah Tambak Boyo dan ruang disalah satu Univ ternama di jogja. Jadi lumayan agak aneh saat jogging disepanjang trotoar jalan keramaian. Berjalan penuh hati-hati seperti tanpa kebebasan sama sekali. Tidak ada ruang untuk berlari santai. Yang aku tau jalanan itu hanya menyediakan untuk kendaraan beroda dua dan beroda empat. Disisi pinggir jalan ada sedikit celah untuk penikmat sepada. Lantas aku dimana ? 

Aku berlari kecil menyusuri trotoal karena memang tidak ada tempat strategis untuk mengisi waktu pagi. Hanya itulah satu-satunya tempat tinggalku. Mudah dijangkau, ramah lingkungan, dan hemat biaya pula. Tapi sayangnya perasaan selalu waspada. Lalu lalang kendaraan tidak bisa dihindarkan. Kulanjutkan berjalan hingga akhirnya nafas tidak beraturan. Terlihat tenda orange berdiri disana. Menyediakan segala jajanan instan, murah, dan cukup untuk kantong tipis yang ada di saku kananku. Itulah angkringan. 

Satu-satunya ciri khas jogja yang sudah melekat sejak jaman dahulu. Hingga kini masih berdiri eksis disepanjang trotoal jalan. Ku susuri angkringan itu. Lalu aku duduk di kursi kayu yang panjang. 

"Dari mana mas..?" tanya bapak penjual angkringan 

"Habis jogging pak, lari-lari kecil"

Aku pesan teh anget sambil makan jajanan ringan yang tersedia. Ada juga nasi kucing yang mengelilingi jajanan itu. 

"Ini mas tehnya.." sambil menyudurkan teh, 

"Iya pak.. terima kasih" 

Sambil menyeruput teh, aku teringat kejadian tempo lalu tentang perdebatan soal nasi kucing. Nasi kucing tapi kok isinya sambel ikan teri ? muncul juga perdebatan di angkringan sebelah dengan nama yang berbeda. Nasi anjing namanya. lebih serem lagi istilah ini dibanding dengan istilah nasi kucing.

Indonesia sebagai negara mayoritas muslim, muncul banyak pertanyaan soal nasi angkringan itu. Kenapa saat orang-orang mendengar nasi kucing biasa-biasa saja dan tidak menimbulkan reaksi apapun. Akan tetapi saat mendengar nasi anjing justru malah diperdebatkan. Aku tahu, ini semua hanya soal persepsi, pendapat, kebiasaan, dan budaya turun menurun. 

Tidak ada yang salah dengan pedagang angkringan. Mereka jujur bahwa mereka jualan nasi kucing dan ada juga nasi anjing. Tapi yang tertulis di kertas nasi bertuliskan nasi tempe, nasi teri, nasi sambel, nasi kikil, dan seterusnya. Tidak ada yang salahkan dari penjual angkringan ini. Mereka benar-beanr tulus dan niat berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Nasi bungkus, dibentuk dengan porsi keci dengan sayur atau lauk yang sederhana. Bahkan kadang-kadang hanya satu jenis warna saja. Sambel misalnya, saat dibuka nyaris hanya berisi sedikit nasi dan sambel saja. Barangkali ukuran inilah yang mendasari adanya penamaan nasi kucing. Nasi yang porsinya tidak terlalu banyak. Kebalikan dari nasi kucing, justru nasi anjing lebih banyak porsinya, lauk dan sayurnya sangat beragam. Namun tidak ada daging anjing maupun daging kucing di dalamnya. 

Mungkin saja penamaan itu kurang cocok disebagaian telinga orang-orang. Karena jelas-jelas kedua itu haram hukumnya dalam Islam. Mungkin saja di berbagai daerah juga ada. Tetapi namanya nasi bungkus. Ini adalah bentuk ciri khas. Salah satu angkringan yang merupakan bagian dari eksistensi bahwa itu adalah jogja sebagai kota yang berbudaya. 

Teh sudah habis, saatnya berdiri kembali ke tempat semula. Kini tidak dengan berlari, tapi berjalan memandang dedaunan yang berserakan disapu oleh petugas sampah kota. Ternyata waktu telah menunjukkan jam tujuh pagi. Orang-orang mulai mendirikan tenda, membuka gerbang, menyajikan menu sarapan dengan variasi harga yang berbeda. Bukan dagangan dan menu makanan yang terlihat indah sepanjang mata memandang. Tapi gotong royong masyarakat yang mencerminkan kebersamaan. 

Aku tahu, diantara mereka berasal dari berbagai daerah yang sedang berjuang menyambung hidup di tanah jogja. Pastinya mereka mempunyai latar belakang budaya, agama, dan suku yang berbeda pula. Kebiasaan orang-orang sama sekali tidak menampakkan pertengkaran dan kebencian. Latar belakang boleh beda, tujuan hanya satu. Kearifan lokal. Sama seperti Slogan negara Indonesia tercinta, Bhinneka tunggal ika. Apapun perbedaannya kita adalah satu. Sebagai makhluk sosial memiliki kearifan lokal, dan mestinya begitu.
Ilfan ID
Ilfan ID Anak bungsu, santri yang terus belajar ilmu dan belajar mengamalkan ilmu

Posting Komentar untuk "Angkringan dan Nasi Kucing"

Berlangganan via Email