Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ngaji Nashaihul ‘Ibad: Tentang Hati dan Pikiran

Sejatinya anggota tubuh manusia memiliki fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan kodrat dan kehendaknya. Namun dibalik fungsi tersebut terdapat saraf-saraf yang saling bersinergi. Saraf-saraf ini berpusat pada otak yang berfungsi untuk memerintahkan segala gerak tubuh manusia. Tidak menutup kemungkinan saraf ini berpengaruh pada hati dan pikiran. Hal ini dikarenakan apa yang dirasakan oleh sebagian anggota tubuh manusia akan ditransfer ke dalam otak, sehingga menimbulkan berbagai asumsi yang bersarang dalam pikiran.
 
Hati dan pikiran merupakan 2 (dua) organ tubuh yang sangat sensitif dalam aktivitas keseharian manusia. Kedua organ ini dapat merekam segala aktivitas kita mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Bahkan apabila respon kedua organ ini dipaksa untuk berperan terlalu dalam, maka akan berpengaruh juga ke dalam mimpi sebagai respon pikiran alam bawah sadar. Hati yang lembut akan berpangaruh pada pikiran yang jernih, sedangkan hati yang keras akan berpengaruh pada pikiran yang rusak.
 
Syekh Imam Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya Nashaihul ‘Ibad berbicara tentang hati dan pikiran pada bab satu (1) Maqolah ke-18 sebagai berikut :

مَنْ تَرَكَ الذُّنوْبَ رَقَّ قَلْبُهُ وَ مَنْ تَرَكَ الْحَرَامَ وَ آكَلَ الحَلَالَ صَفَّتْ فِكْرَتُهُ

Artinya : “Barangsiapa mau meninggalkan perbuatan dosa, maka hatinya akan menjadi lembut, dan barangsiapa yang meninggalkan perbuatan yang diharamkan (oleh Allah Swt) dan memakan makanan yang halal, maka pikirannya menjadi jernih
 
Hati yang lembut adalah hati yang selalu mengajak kepada kebaikan, mau dan mudah mematuhi segala perintah agama serta menjalankannya dengan sungguh-sungguh dan istiqomah. Sedangkan pikiran yang jernih adalah pikiran yang selalu difungsikan untuk mengagungkan ciptaan dan kekuasaan Allah Swt seperti tadabur alam dan meyakini adanya sunnatullah.
 
Kelembutan hati dan kejernihan pikiran tidak lepas dari sikap dan perilaku yang kita lakukan sehari-hari. Apabila kita selalu berbuat kebaikan dan berpegang teguh dengan hukum syariat agama, maka akan mendapatkan manfaat pada perubahan mindset pikiran yang jernih dan perilaku yang lembut. Begitu juga sebaliknya. Semua itu didasari dengan sifat-sifat perilaku kita. Oleh karena itu, untuk mendapatkan manfaat kelembutan hati dan pikiran yang jernih, diperlukan kebiasaan yang berulang-ulang dalam meneladani sikap muru’ah dan tidak lelah dalam berbuat dan berbagi kebaikan terhadap sesama.
 
Sebagai manusia yang beriman kepada Allah Swt, alangkah baiknya kita dapar ber-tafakkur kepada Allah bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi seluruhnya berasal dari ciptaan Allah Swt. Sejak manusia lahir hingga dewasa menjadi orang tua pada setiap fasenya Allah memberikan sikap perilaku yang berbeda-beda. Saat masih bayi, kita tak mampu berbuat apa-apa dan orang tua berperan penuh atas segala sesuatu yang terjadi pada bayi. 
 
Saat menginjak usia anak-anak hingga kurun waktu remaja-dewasa, Allah memberikan akal pemikiran dan pengetahuan serta telah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dan semua rasa yang diberikan oleh-Nya berpengaruh kepada hati dan pikiran kita. Saat memasuki tahapan lanjut usia (lansia). Kita diberikan sifat-sifat yang hampir sama seperti saat kita masih bayi.
 
Memasuki lanjut usia, kita sudah tidak produktif untuk melakukan segala sesuatu, ada yang susah untuk berdiri karena sudah sepuh, bahkan ada yang hanya bisa tidur semata dan tidak mampu melakukan apa kecuali peran anak-anak yang sebelumnya kita asuh saat kecil hingga dewasa. Disinilah terjadi hubungan timbal balik antara anak dan orang tua bahwa pada akhirnya nanti kedua saling membutuhkan tenaga dan pikirannya.
 
Tentu sebelum masuk pada tahap-tahap di atas, diperlukan pendidikan karakter sejak dini yang sangat identik dengan perilaku manusia. Saat kecil perlahan coba kita tanamkan kepada anak-anak untuk dididik dari segi perilaku terlebih dahulu. Mulai dari kebiasaan-kebiasaan anak ketika di rumah di tempat bermain di sekolah dan lain sebagainya. Apabila kebiasaan ini dilakukan secara terus-menerus dengan landasan etika, moral, dan muru’ah yang baik, pada akhirnya nanti kita akan merasakan dampak positif terhadap anak dan kepada kita sendiri sebagai orang tua atau madrasah pertama bagi anak. 
 
Mudah-mudahan ini tidak hanya sebagai nasehat untuk kalangan tertentu saja. Akan tetapi untuk kita semua sebagai makhluk sosial yang hidup di muka bumi ini untuk selalu mentaati perintah agama dan segala sesuatu yang perlu kita taati yang tidak bertentangan dengan hukum agama dan hukum sosial. Sehingga hati kita dijadikan hati yang lembut mudah menerima hal baru hal positif serta pikiran kita yang jernih selalu terbuka dengan pengetahuan dan sikap-sikap positif. Wallahu A’lam..
Ilfan ID
Ilfan ID Learn from life experience: writer, opinion, and more knowledge. Catatan anak terakhir

Posting Komentar untuk "Ngaji Nashaihul ‘Ibad: Tentang Hati dan Pikiran"