Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Persoalan Status: Boleh Menilai, Tetapi Sebaiknya Tidak Menghakimi


Hidup di zaman generasi Z ini makin lama makin mudah. semudah membalikkan telapak tangan. Perubahan pesat dari berbagai sektor telah tampak nyata dan sangat mempengaruhi hiruk pikuk keterlibatan aktivitas manusia. Salah satu pengaruh paling pesat adalah aktivitas media sosial yang barangkali jika kita ambil sebuah presentase, bisa jadi 30 banding 70 persen. 30% aktivitas di dunia nyata 70% di dunia maya. Karena terjadi lonjakan yang tinggi terhadap aktivitas media sosial, maka semakin besar pula kita terdekte dengan aktivitas media tersebut.

Mulut kita terkunci, pikiran bergerak, hati berbicara, jari-jari mewakili. Keterwakilan pikiran dan hati kita di media sosial menimbulkan sebuah perasangka-perasangka baik dan buruk. Al-hasil timbul sebuah penilaian, dekte, penghakiman, sindir-menyindir. Semua dilakukan dengan cara yang amat halus yaitu DIAM. Tanpa disadari, kita sebagai manusia pelan-pelan menjadi superhiro, menjadi peramal yang menimbulkan sebuah perasangka. Sayangnya, perasangka itu hanya terungkap sebab keterpurukan sikap.

Kalau kita terus menuruti sifat nafsu, mau sampai kapanpun tak akan pernah ada habisnya. Sebab nafsu ini memang diciptakan untuk mengimbangi pola hidup kita. Menurut Imam al-Ghazali, dalam kitab Tazkiyatun Nufus, nafsu itu ada 3. Nafsu Muthmainah, Nafsu Lawwamah, dan Nafsu Ammarah bis Su’.

Nafsu yang pertama adalah nafsu yang tunduk kepada Allah Swt dan selalu mengajak untuk senantiasa berbuat baik dan mengingat kebesaran Allah Swt. Nafsu yang kedua adalah nafsu yang selalu berubah-ubah, kadang-kadang jujur, kadang khianat, kadang cinta, kadang benci, kadang iri, kadang baik, kadang bahagia, dan seterusnya. Jangan-jangan Nafsu Lawwamah ini yang banyak meracuni kita. Namun kita selalu mengambil dalih “Ya Muqallibal Qulub”. Dan nafsu yang terakhir adalah nafsu yang membawa kita ke dalam kedzoliman dan kejahatan. 
 
Secara ruhaniyah dan dhohiriyah, kita tidak mungkin untuk menghilangkan ketiga nafsu itu, kita hanya mampu membuat menejemen, sehingga bisa terorganisir dengan baik. inilah mengapa manusia itu tidak sempurna sekalipun Allah Swt mengklaim bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna di antara makhluk Allah Swt lainnya.

Maka atas dasar nafsu-nafsu yang kita punya di atas, menyembabkan kita terdekte oleh aktivitas hidup di media sosial. Padahal nyatanya hidup yang layak adalah hidup di dunia nyata. kalau kita tidak pernah berbuat apapun dalam aktivitas sehari-hari, namun kita merasa terbebani. Jangan-jangan kita termasuk orang yang terdekte oleh status yang bertebaran di media sosial. Artinya, menurut hemat saya, karena media sosial adalah pusat yang paling sentral dengan berbagai perasangka, kegembiraan, dan kegelisahan manusia, seharusnya hanya dijadikan sebuah informasi dan bukan dekte yang menyebabkan beban tersendiri.

Kalau sudah menjadi beban, kita akan merasa sakit hati, tersinggung, jengkel, kesel, yang menimbulkan satu perseteruan yang tidak elok sama sekali. lebih-lebih memutuskan tali silaturrahim kita.

Terkadang, statementurip iki mung sawang sinawang” itu memang nyata adanya. Misal, kalau kita buat status ke-Arab-araban dibilang ustadz, buat status tentang akademik dibilang sok-bijak, buat status tentang dagang dibilang spam, buat status tentang cinta dibilang bucin akut. Loh, kita ini kalau terus-menerus merasa terdekte dengan media sosial, maka kita akan serba salah dan selalu dipandang salah.

Salah satu kelezatan yang dinikmati manusia adalah perihal salah-menyalahkan. Bahkan ini ungkapan yang sangat mudah diingat dari pada berbagai macam kebaikan. Seperti lagu Pak Haji Rhoma Irama “Biasanya eh sudah biasa, setiap yang akan merugikan, sepintas lalu menguntungkan, begitu caranya syetan menggoda kita, dihiasinya dosa-dosa, dengan bunga-bunga dunia”. Padahal dalam QS. Al-Hujurat: 49 sudah sangat jelas, “Wala Tajassasuu” (dan janganlah kamu mencari kesalahan-kesalahan orang lain).

Padahal, Developer medsos tidak pernah melarang kita untuk berbuat status. Justru malah diberikan ruang agar kita bisa berekspresi sebebas mungkin. Pernah suatu ketika saya ditanya oleh teman saya kaitannya tentang bermedsos ini. “Mas, kenapa kamu di medsos suka sekali berteori?”. Kemudian saya jawab “Medsos itu sangat mudah ditebak, ia kan mulai bermedsos ketika ada sesuatu yang ia alami dan ia rasakan”. Ya se-simple itu. Tujuannya macem-macem, ada yang ingin berbagi, ingin orang-orang tahu, dan ingin menyebarkan informasi.

Lantas, sampean tujuannya apa mas ?

Ya tujuan saya berbagi, sesuai dengan perasaan dan kondisi hati saya pada waktu itu. Kalaupun ada orang-orang yang menilai status saya, dari sisi apapun, itu bukan urusan saya. Itu hanyalah kelemahan mereka karena terdekte oleh status, bukan diserap sebagai informasi. Informasi itu artinya cukup tahu dan dijadikan sebagai buah pengetahuan.

Saya itu tidak pintar berteori, itu hanyalah bagian aplikasi dari apa yang pernah kupelajari. Saya meminjam Dawuh Romo Kyai “Seharusnya kitab yang sudah dipelajari itu dibuka kembali, biar tidak pikun”. Kalau bahasanya orang-orang Haamilul Qur’an itu Muraja’ah, Terus, bahasanya orang yang Ahlu Bait Nahw Sharf ya sorogan/lalaran. Jadi inti dari semua itu yaitu kalau kita sudah khatam (paham) ya diaplikasikan, diamalkan, dan bukan ditinggalkan. Nah cara inilah yang menyebabkan orang berbeda-beda dalam mengaplikasikan keilmuan.

Ada yang berbagi melalui medsos, ada yang melalui tulisan, ada yang memalui audiovisual. Silahkan saja asalkan semua tidak menyimpang dengan berbagai aspek sosial. Lagian, tujuan saya menulis pengetahuan sedikit-sedikit di media sosial itu bukan karena saya sudah pinter. Tapi itu tadi, biar tidak pikun, biar apa-apa yang pernah dipelajari tidak lupa sampai akhir hayat.

Selain itu, rasa-rasanya sudah lelah dengan pemahaman cinta yang bertebaran di media sosial. Bukan karena saya tidak butuh cinta. tetapi lelahnya saya, karena cinta yang banyak mereka definsikan adalah persoalan tentang laki-laki dan perempuan semata. Biasalah, jomblo memang lebih pintar berteori cinta, membuat syair-syair puistis yang apik dari pada mereka yang sudah resmi bergandengan atau berumah tangga. karena penerapan keduanya memang terlihat beda. Padahal, kalau saya membaca dan menulis tidak didasari dengan rasa cinta, mungkin tidak akan pernah terbit tulisan yang sederhana ini.

Silahkan apabila kita ingin menilai status orang lain yang bertebaran di media sosial, akan tetapi sebaiknya kita tidak perlu menghakimi. Karena status yang menunjukkan galau, sedih, gelisah, tidak menjamin keterpurukan dalam kenyataannya, begitu juga dengan status seneng dan bahagia. Seperti komika atau peran komedi yang bertugas melucu setiap saat, tidak menjamin bagaimana kondisi sebenarnya dalam anatomi kesedihan atau kebahagiaan keluarga.

Wallahu a’lam.
Ilfan ID
Ilfan ID Putra Ragil, Santri Nakal yang terus belajar ilmu, Memperbaiki diri, dan Belajar mengamalkan ilmu

Posting Komentar untuk " Persoalan Status: Boleh Menilai, Tetapi Sebaiknya Tidak Menghakimi"

Berlangganan via Email