BLANTERORIONv101

Menyikapi Krisis Tata Krama dan Kedangkalan Ilmu Pengetahuan

6 Agustus 2022

Jalinan komunikasi antar sesama manusia akan terasa baik-baik saja manakala diimbangi dengan sikap dan tingkah laku yang baik. Kalau diperhatikan secara seksama, inti dari roda kehidupan kita ini hanya berputar pada persoalan etika dan ilmu semata. Apabila salah satu di antaranya tidak seimbang, maka akan terjadi permasalahan sosial yang cukup banyak disinggung oleh sebagian orang.

Tata krama dan ilmu dapat diibaratkan sebagai kenikmatan yang mampu mengukur derajat baik-buruknya seseorang. Kedua dimensi ini selalu dikaitkan dalam aktivitas kita sehari-hari. Semua tinggal bagaimana cara kita memanajemen sikap, pola pikir, dan tindakan kita ke khayalak masyarakat umum.

Melihat fenomena yang terjadi saat ini, banyak kaum milenial mengejar gelar kesarjanaan apa saja tanpa memikirkan proses pengamalan ilmu yang akan terjadi di masa mendatang, tepatnya di lingkungan masyarakat. Hal ini mengakibatkan terjadinya krisis moral yang disebabkan oleh sifat egosentris, kesombongan ilmu, merasa dirinya paling benar, dan lain sebagainya.

Demikian perlu diadakan evaluasi diri secara mendalam tentang tata krama dan ilmu pengetahuan yang kita miliki.

Introspeksi Diri

Kunci dari semua sikap dan tingkah laku adalah karakter. Cobalah merefleksikan diri sejenak, kira-kira apa yang kurang dari sikap kita? apa yang menyebabkan kita bergantung pada simpati seseorang? kalau saja kita menjawab “kurang berbagi terhadap sesama”, maka itu adalah manifestasi kedangkalan ilmu pengetahuan yang kita punya.

Sebagai contoh apabila selama ini kita selalu membanggakan butiran-butiran ilmu pengetahuan untuk menarik simpati seseorang, untuk kepentingan diri sendiri, untuk mencari pujian agar dipandang good level. Sementara itu, orang lain melihat kita sebagai orang yang sombong, tidak mau berbagi, dan dianggap telah menyakiti perasaan antar sesama.

Anggapan-anggapan tersebut hanya berkutat kepada persoalan ketersinggungan yang disebabkan oleh tingkah laku hedonisasi ilmu pengetahuan. Tidak ada lagi keseimbangan antara tata krama dan ilmu. Maka perlu dibangun kebiasaan-kebiasaan pola pikir yang baik untuk menanggulangi krisis tata krama tersebut. Salah satunya dengan cara saling menghargai, saling mengerti keadaan, dan saling menjaga perasaan orang lain.

Memperbaiki Ucapan

Lisan merupakan organ lunak yang sering dan paling banyak dibuat pepatah dalam rujukan kitab-kitab klasik karya ulama besar. Allah Swt berfirman dalam QS. Ar-Rum: 41 “Dzaharul Fasad fil Barri wal Bahr...”. “Telah Tampak kehancuran di daratan dan di lautan akibat tangan jahil manusia”.

Sahabat Nabi Abu Bakar Ash-Shidiq r.a. menafsirkan ayat ini bahwa “Daratan adalah lisan, sedangkan lautan adalah hati. Apabila lisan telah rusak, manusia akan menangisinya. Dan apabila hati telah rusak, Malaikat akan menangisinya”. Tentu tafsiran makna ayat ini menegaskan kepada kita bahwa sebaik-baik sikap seseorang adalah menjaga lisannya.

Sementara itu, salah satu guru saya dalam dakwahnya mengatakan “Banyak orang tersandung dan jatuh ke dalam neraka hanya karena lisannya. Apabila seseorang rajin shalatnya, rajin puasanya, dan rajin ibadahnya akan tetapi buruk lisannya, maka perlu hati-hati dan diperhatikan. Jangan-jangan lisan yang buruk ini akan menghapus seluruh kebaikan ibadahnya”.

Menjaga lisan yang baik dapat mencegah kedangkalan ilmu pengetahuan serta dapat meningkatkan prima etika dan prima performa manusia.

Tanggung Jawab

Salah satu bentuk karakteristik seseorang yang memiliki akhlak dan ilmu pengetahuan yang baik adalah loyality (kesetiaan). Setia terhadap dawuh-dawuh guru dan nasihat para kyai untuk saling menjaga dan memperbaiki etika dan tata krama. Kesetiaan ini direpresentasikan dengan rasa tanggung jawab terhadap amanah yang diberikan kepada kita.

Kita yakin dan percaya bahwasannya tidak ada guru yang tidak mengajari tata krama dan ilmu pengetahuan. Salah satu cara menyikapi dan memperbaiki krisis tata krama adalah terus belajar dan terus bersabar. Sebab, karakter terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan. Dan untuk membentuk kebiasaan baru dibutuhkan proses waktu yang lama.

Habib Husein Ja’far Al Hadar dalam dakwahnya berjudul Agamawan-agamawan berandal mengatakan bahwa “untuk menciptakan kebiasaan (karakter) baru yang baik dibutuhkan kesabaran dan tolok ukur kesabaran adalah konsisten”. Hal ini sejalan dengan pernyataan ulama besar golongan tabi’in bernama Hasan Al Basri dalam kitab Nashoihul ‘Ibad, Bab II, Maqolah ke-13:

مَنْ لَا أَدَبَ لَهُ لَا عِلْمَ لَهُ وَ مَنْ لَا صَبَرَ لَهُ لَا دِيْنَ لَهُ وَ مَنْ لَا وَرَعَ لَهُ لَا زُلْفى لَهُ

Man laa adzaba lahu ‘ilma lahu wa man laa shabara lahu laa diina lahu wa man laa wara’a lahu laa zulfa lahu

Artinya: “Barangsiapa yang tidak memiliki tata krama berarti ia tidak berilmu, dan barangsiapa yang tidak memiliki kesabaran berarti ia tidak beragama, dan barangsiapa tidak memiliki sikap wara’ (dalam dirinya), maka tidak ada tempat baginya disisi Tuhan”.

Dengan demikian, ilmu pengetahuan tinggi yang tidak didasari dengan tata krama, maka ia dengan sengaja mendangkalkan ilmu pengetahuannya sendiri. Lebih dari itu, dedikasi adalah bentuk konsistensi diri dalam mencapai derajat keilmuan yang kita miliki. Semoga kita yang masih terus belajar ilmu pengetahuan diberikan kemudahan dan rendah hati terhadap apa-apa yang telah tercapai dengan baik.

Dan semoga para pembaca tulisan ini dijauhkan dari krisis tata krama dan kedangkalan ilmu pengetahuan serta selalu mendapatkan keberkahan ilmu yang didapatkan dari guru dan kyai. Aamiin ya rabbal ‘aalamiin
Ilfan ID
Setiap ide adalah bagian dari karya yang paling berharga

Komentar