BLANTERORIONv101

Nabi Musa As dan Nabi Khidir As: Manifestasi Pemahaman Teks dan Konteks

3 Agustus 2022

Hal termasyhur dalam kutipan kisah Nabi Musa a.s. dan Nabi Khidir a.s. adalah pelajaran makrifat yang diterima oleh Nabi Musa a.s. berupa hal-hal diluar logika manusia. Hakikatnya, kedua Nabi ini merupakan hamba Allah Swt yang shaleh dan memiliki pengetahuan yang tidak sama dengan orang-orang pada umumnya. Namun yang harus dipahami bahwa Allah Swt memberikan mukjizat yang berbeda di antara Nabi Musa a.s. dan Nabi Khidir a.s. sehingga terjadinya dikotomi pengetahuan yang mengakibatkan perbedaan pemahaman di antara keduanya. 

Mukjizat Nabi Musa a.s. yang salah satunya dapat berkomunikasi dengan Allah Swt diberikan pengetahuan berupa pelajaran untuk umatnya yaitu Bani Israil. Sedangkan Nabi Khidir a.s. dibekali dengan ilmu hakikat dan makrifat yang mampu berkomunikasi dengan Allah Swt sekaligus dapat melihat manusia di masa yang akan datang. Pemahaman kedua Nabi tersebut berpadu di antara satu dengan lainnya. Akan tetapi tidak bisa bertemu dan menyatu.

Pelajaran makrifat Nabi Khidir a.s. kepada Nabi Musa a.s. dikisahkan dalam Al-Qur’an tepatnya pada surat al-Kahfi ayat 60-82. Dimulai dari Nabi Musa a.s. bersama muridnya Yusha bin Nun mencari keberadaan Nabi Khidir a.s. dipertemuan dua lautan (majma’al bahrain) hingga perpisahan kedua Nabi tersebut tatkala Nabi Musa a.s. melanggar syarat yang diberikan oleh Nabi Khidir a.s. untuk yang ketiga kalinya.

Mengutip M. Ali dalam bukunya yang berjudul “Rahasia Makrifat Nabi Khidir” sebelum Nabi Musa a.s. berpisah, Ia meminta wasiat kepada Nabi Khidir a.s. yang dianggap sebagai gurunya. Permintaan wasiat ini tercantum dalam kitab al Bidayah wan Nihayah juz I (hlm. 329) dan Ihya ‘Ulumuddin juz IV (hlm. 56). Di antara wasiat-wasiat tersebut yaitu:

1. Wahai Musa, jadilah kamu orang yang berguna bagi orang lain

2. Janganlah sekali-kali kamu menjadi orang yang hanya menimbulkan kecemasan di antara mereka sehingga mereka membencimu

3. Jadilah kamu orang yang senantiasa menampakkan wajah ceria dan janganlah sampai mengerutkan dahimu kepada mereka

4. Janganlah kamu keras kepala atau bekerja tanpa tujuan

5. Apabila kamu mencela seseorang hanya karena kekeliruan, tangisilah dosa-dosamu, wahai Ibnu Imran!.

Setelah Nabi Khidir a.s. memenuhi permintaannya, Nabi Musa a.s. duduk termenung dengan tangis kesedihan sambil melihat Nabi Khidir a.s. pergi meninggakannya.

Peristiwa yang terjadi antara Nabi Musa a.s. dan Nabi Khidir a.s. menyajikan percontohan bahwa keduanya diibarat dalam pemahaman teks dan konteks. Dimana Nabi Musa a.s. memiliki pengetahuan yang didesain dan dapat dipahami oleh umatnya (teks). Dan Nabi Khidir yang dibekali ilmu hakikat dan makrifat dapat menafsirkan dan menterjemahkan segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini (konteks).

Manifestasi pelajaran Nabi Khidir a.s. kepada Nabi Musa a.s. dapat ditransmisikan ke dalam kehidupan era modern ini. Khususnya percaturan sosial dalam menyelesaikan segala problematika yang terjadi di negeri ini. Hingga saat ini, fundalisme teks dipelbagai lembaga dan instansi masih sangat kuat. Tentu ini tidak salah karena ada regulasi di dalamnya. Akan tetapi untuk meng-upgrade wawasan pemahaman pengetahuan, kita perlu yang namanya konteks.

Kontekstualisasi dalam arti menafsirkan, menterjemahkan, dan mentransmisikan pesan-pesan teks yang disesuaikan oleh kondisi zaman saat ini. Kita tahu bahwa tafsir-tafsir al-Qur’an yang berkembang memiliki corak yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan adanya penyesuaian seorang mufassir dalam menterjemahkan al-Qur’an dengan corak dan kondisi lingkungan pada saat itu. Tentu ini banyak melibatkan berbagai disiplin keilmuan yang berhubungan dengan tafsir al-Qur’an.

Percontohan Nabi Musa a.s. sebagai “teks” menimbulkan hasrat kebanggaan yang berlebih terhadap dirinya bahwa beliaulah yang paling pintar karena mampu melakukan segala sesuatu atas mukjizat-Nya. Kebanggaan ini mengakibatkan kesombongan Nabi Musa a.s. sebagai hamba Allah yang shaleh. Namun kita mengenal sebuah istilah di atas langit masih ada langit. Kehadiran Nabi Khidir a.s. sebagai “konteks” memberikan pesan bahwa segala sesuatu perlu ditafsirkan dengan pengetahuan yang mumpuni.

Contoh lain, sebuah fakta menyebutkan bahwa literasi di Indonesia khususnya dalam hal membaca berdasarkan hasil surviei Program for International Student Assesment dan World’s Most Literate Nations masih sangat memprihatikan. UNESCO menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001% per 1000 orang. Fakta ini diperkuat dengan sebagian besar minat warganet dalam membaca artikel hanya dilihat dari judulnya saja kemudian menyimpulkan maksudnya tanpa melihat isi keseluruhan artikel.

Tentu ini akan berakibat kepada orang yang mudah menyalahkan, membuat berita bohong (hoax), dan menyuarakan pendapat subjektifitas yang tidak sesuai dengan teks. Maka disinilah peran konteks diperlukan dengan mempertimbangkan tesis, anti tesis, dan sintesis. Orang yang hafal Al-Qur’an dan Hadits telah berhasil dan hebat dalam menguasai teks. Namun lebih baik lagi apabila pandai dalam menafsirkan dan mengimplementasikan kandungan isi dari Al-Qur’an dan Hadits.

Maka perpaduan pemahaman antara teks dan konteks akan menyatu dan seimbang. Al-Qur’an menyatakan dirinya sebagai tibyanul li kulli syaik (penjelas bagi segala sesuatu). Sebagai seorang muslim sebaiknya dapat mendekatkan diri kepada Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan. Karena di dalamnya terdapat banyak pengetahuan dan rahasia yang tidak akan pernah habis diteliti.

Kontekstualisasi Al-Qur’an menjadi penting untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah Swt. Khususnya pada kisah pelajaran Nabi Khidir a.s. terhadap Nabi Musa a.s. yang di nash-kan dalam Al-Qur’an untuk diambil nilai-nilai akhlak, adab, dan ilmu. Sebagai manusia yang terbatas akalnya, sebaiknya kita berusaha untuk mengintegrasikan antara perpaduan pengetahuan teks dan konteks.

Ilfan ID
Setiap ide adalah bagian dari karya yang paling berharga

Komentar