BLANTERORIONv101

Qawaidul Lughah sebagai Dasar Belajar Kitab Kuning

3 Agustus 2022

Adanya lembaga pendidikan pesantren, mestinya tidak akan lepas dari kajian kitab kuning. Hal ini dikarenakan kitab kuning merupakan program wajib yang dipelajari para santri. Baik pondok pesantren yang berbasis salaf, modern, maupun semi-modern. Namun sebelum masuk pada kajian kitab kuning, ada pelajaran dasar yang harus dikuasai terlebih dahulu oleh para santri yaitu Qawaidul Lughah atau mudahnya ilmu tata bahasa Arab.

Ilmu tata bahasa Arab adalah ilmu yang wajib dikuasi oleh santri untuk memahami kajian kitab kuning. Secara mendasar, ilmu tata bahasa Arab atau biasa disebut ilmu alat terbagi menjadi tiga bagian yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain yaitu Nahw, Sharf, dan I’lal. Ketiga ilmu ini dapat diibaratkan sebagai benda untuk membedah segala sesuatu yang berkaitan dengan bentuk harakat, bentuk kalimat, dan asal-muasal kalimat dalam bahasa Arab.

Kendati demikian, mempelajari ilmu tata bahasa Arab masih menjadi momok yang menakutkan dan menyulitkan bagi para santri khususnya santri modern dan calon santri yang akan menimba ilmu pendidikan di pondok pesantren. Kaidah-kaidah bahasa Arab dianggap ilmu yang paling sulit untuk pelajari. Pasalnya, untuk memahami kaidah bahasa Arab harus mengerti makna kosakata (mufradat) dan perubahan-perubahan kalimat (i’rab dan mu’rob) disebabkan adanya amil yang masuk. Dan dalam praktiknya dapat dijumpai melalui kitab kuning.

Sekilas tentang Kitab Kuning

Menurut Wikipedia, kitab kuning adalah kitab tradisional yang berisi tentang pelajaran agama Islam seperti Fiqh, Tafsir al-Qur’an, Tasawuf, Akhlak, dan lain sebagainya. Isi dari kitab kuning berupa tulisan-tulisan Arab yang tidak disertai dengan harakat dan bahkan tanpa titik koma seperti tulisan dalam bahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan tulisan Arab tidak mengenal huruf kapital. Sebelum memahami isi kajian (konten) kitab kuning, maka diperlukan Qawaidul Lughah sebagai ilmu yang digunakan untuk membaca dan memaknai teks Arab.

Era modern dapat dikatakan sebagai era siap saji. Siap saji dalam segala hal termasuk dalam mempelajari kitab kuning. Artinya, kebutuhan santri zaman sekarang berbeda dengan santri zaman dahulu. Santri zaman dahulu yang mungkin saja sekarang sudah menjadi kyai atau tokoh agama Islam di beberapa pesantren dalam mempelajari kitab kuning membutuhkan waktu yang sangat lama. Ada yang 1 (satu) sampai 3 (tiga) tahun, 6 (enam) tahun atau lebih.

Mengapa butuh waktu yang sangat lama?

Kyai dahulu mempelajari tata bahasa tidak hanya pada sisi praktik. Akan tetapi menghafal nadhom-nadhom yang telah dikarang oleh kyai Mushonnif (pengarang) seperti al-Jurumiyah, al-‘Imriti, dan Alfiyah Ibn Malik. Sedangkan santri era sekarang mengikuti kebutuhan praktis. Maka pembelajaran tata bahasa Arab harus diracik dengan berbagai metode praktis dan singkat yang dapat dipelajari dalam beberapa bulan saja. Tentu munculnya metode ini menjadi daya tarik tersendiri bagi santri yang berniat mempelajari kitab kuning.

Tujuan dihadirkannya sebuah metode tidak lain adalah untuk mempermudah dalam memahami isi kajian kitab tanpa merubah makna atau substansi dalam kitab tersebut. Dengan demikian, pengembangan pelajaran kitab kuning yang begitu dinamis dapat melahirkan strategi-strategi baru yang terkonsep dalam sebuah mindmap (pola pikir).

Belajar Kitab Kuning, Kebutuhan atau Tuntutan?

Ketika seorang awam ingin mempelajari kitab kuning lebih jauh, maka akan timbul banyak pertanyaan dalam benak diri. Kecuali bagi mereka yang memang sudah nyantri di pondok pesantren. Mungkin bisa dikatakan “aneh” rasanya apabila sebuah lembaga pendidikan pesantren tidak mengenal atau tidak mempelajari ilmu alat sebagai bahan untuk praktik membaca kitab kuning.

Tentu sudah menjadi hal wajib bagi seorang santri untuk mempelajarinya. Masalahnya adalah kebanyakan santri masih merasa bingung, merasa terpaksa, dan tertekan apabila disuguhi materi-materi yang membuat otak berpikir dua kali. Mestinya kita perlu memahami bahwa belajar kitab kuning adalah bagian dari ciri khas pesantren. Terlepas itu dalam bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, dan bahasa apapun, yang jelas mengikuti kebijakan lembaga pendidikan dan kita paham poin utamanya.

Menurut hemat saya, kitab kuning yang menampakkan kedinamisan dalam mempelajari teori di dalamnya dapat dikategorikan ke dalam 2 (dua) bagian yaitu istilah “kebutuhan” dan istilah “tuntutan”. Dikatakan kebutuhan, nyatanya mayoritas pelajar saat ini ingin memahami hal yang instan. Meskipun pada dasarnya tidak ada yang instan. Mungkin lebih tepatnya adalah mengambil langkah efektif dan kreatif. Porsinya, 80% praktik dan 20% teori yang bisa disesuaikan. Opsi kebutuhan ini melahirkan berbagai metode instan 3, 6, sampai 12 bulan dalam mempelajari kitab kuning.

Dikatakan tuntutan, apabila dalam mempelajari kitab kuning tidak meranah pada konsep tematik. Akan tetapi runut sesuai dengan pokok dasar kajian kitab yang dipelajarinya. Hal ini dibarengi dengan tradisi-tradisi ulama terdahulu dalam mempelajari kitab kuning harus disertai dengan nadhom-nadhom yang tertera pada kitab tersebut. Tentu ada konsep “menyelamatkan tradisi yang baik” dari sanad-sanad keilmuan kyai terdahulu. Namun dampak lainnya yaitu membutuhkan waktu yang lama.

Dampak dan Solusi di antara Keduanya

Kembali lagi kepada kebutuhan kita dalam belajar. Semua pasti ada dampaknya, tentu yang namanya belajar akan mendapatkan dampak positif. Minimal untuk diri sendiri. Dampak positif apabila kita memposisikan belajar kitab kuning sebagai kebutuhan adalah lebih banyak praktik dalam bahan yang siap saji. Sehingga semakin kita banyak praktik secara konsisten, semakin cepat pula kita faham bagaimana cara membaca dan memaknai kitab kuning.

Adapun dampak negatif dari opsi kebutuhan adalah terletak pada dalil-dalil (nadhom) yang dimodifikasi dan digabungkan oleh pengembangnya. Artinya, mempelajari kitab kuning secara instan itu tetap berlandaskan pada nadhom-nadhom. Hanya saja nadhom tersebut masuk dalam kategori ruang lingkup tersendiri. Mengapa demikian? tidak menutup kemungkinan seorang akan mengutip nadhom dari berbagai kitab masyhur tentang ilmu alat dan dipilih yang menurutnya penting dan relevan saja.

Selanjutnya, apabila kita merasa bahwa belajar kitab kuning adalah tuntutan. Maka dampak positifnya kita belajar tidak lari dari dalil-dalil yang terdapat dalam kitab secara runut. Artinya, kalau kita belajar satu kitab saja dengan fokus dan serius, ini akan merangkap opsi kebutuhan belajar secara kebersamaan. Sebut saja kitab al-Jurumiyah sebagai opsi untuk belajar kitab kuning. Selain fokus dan hafal berbagai nadhom, kita juga akan merangkap kebutuhan praktik dari tiap-tiap nadhom.

Lantas bagaimana solusinya?

Walaupun sekarang banyak lembaga pendidikan yang mengklaim belajar kitab kuning itu bisa dilaksanakan dengan instan dengan berbagai metode yang disuguhkan. Maka sekali lagi kita lihat kebutuhan diri kita seperti apa, tujuannya untuk apa, dan lebih tertarik yang mana? Apapun yang dinamakan dengan pemula akan tetap merasa sulit jika disuguhkan dengan materi yang konsepnya bisa dikatakan mudah.

Maka di antara ke-2 opsi tersebut boleh memilih salah satu sesuai dengan passion masing-masing. Tidak ada paksaan di dalamnya. Namun hemat saya, menjaga tradisi yang lama itu lebih baik dan meneruskan tradisi baik untuk ke depannya. Memperdalam nadhom sebagai teori keilmuan dan memperbanyak praktik sebagai wujud nyata kualitas keilmuan. Bagaimana pendapat anda?

***
Ilfan ID
Setiap ide adalah bagian dari karya yang paling berharga

Komentar